Dari tahun ke tahun, kasus anemia semakin meningkat. Semula mengenai 18,4% populasi di tahun 2013, lalu bertambah menjadi 32% pada tahun 2018 berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar). Kelompok usia 15-24 tahun merupakan rentang usia terbanyak yang terkena anemia. Meski sebenarnya, anemia bisa menyerang usia berapa pun, mulai dari bayi hingga lansia. 

Apa sebenarnya anemia itu?

Anemia atau kurang darah, ditandai dengan rendahnya kadar Hb (Hemoglobin) dalam tubuh. Hemoglobin merupakan sejenis protein dalam sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen supaya jaringan tubuh dapat “hidup” dan bekerja dengan baik, kemudian mengangkut karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh. 

Kalau kadar Hb dalam tubuh rendah, otomatis kadar oksigen tubuh pun akan berkurang. Akibatnya, muncul keluhan pusing, mual, badan lemas, wajah atau telapak tangan terlihat pucat, cepat lelah, jantung berdebar lebih kecang atau napas terasa pendek-pendek. 

Berapa kadar Hb yang normal?

Batasan Hb normal sendiri berbeda-beda di tiap usia, jenis kelamin, tempat tinggal, status hamil atau menyusui, dan kebiasaan merokok. Misal, pada balita dan ibu hamil dikatakan mengalami anemia bila kadar Hbnya dibawah 11 gr/dl sementara pada laki-laki anemia terjadi jika kadar Hbnya di bawah 13 gr/dl.

Saya rutin minum tambah darah, tapi kok anemianya tak kunjung sembuh?

Selama ini orang cenderung langsung konsumsi tablet tambah darah jika merasakan gejala-gejala anemia. Hal inilah membuat penanganan anemia tidak tepat dan menjadi berkepanjangan. 

Memang benar, sebagian besar anemia terjadi karena kekurangan zat besi. Zat besi inilah yang menyusun “heme”, bagian dari struktur hemoglobin. Namun, perlu pemeriksaan dokter untuk menentukan penyebab pastinya karena anemia juga dapat disebabkan oleh sejumlah faktor lain, yakni:

  • Kekurangan zat gizi lain misalnya defisiensi folat atau kekurangan vitamin B12 yang biasa disebut dengan anemia pernisiosa.
  • Perdarahan, misalnya perdarahan di saluran cerna atau saat melahirkan
  • Infeksi, contohnya karena infeksi parasit, kecacingan, sampai yang sifatnya kronis seperti tuberkulosis dan HIV
  • Kelainan struktur hemoglobin seperti pada kasus thalasemia atau anemia bulan sabit (sickle cell anemia)

Penanganan anemia tentu harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya misalnya bila terjadi perdarahan hebat akibat robekan rahim, penanganan yang tepat adalah dengan operasi. Atau, pada thalasemia mayor perlu tranfusi darah rutin supaya tidak menimbulkan keluhan klinis. 

Apa efek anemia?

Anemia pada bayi dan anak akan menyebabkan terjadinya stunting dan keterlambatan tumbuh kembang. Pada remaja dan dewasa, produktivitas saat belajar atau bekerja menjadi menurun akibat anemia. Anemia juga bisa menurunkan sistem imun sehingga jadi lebih mudah terserang penyakit. Khusus bagi wanita, anemia bisa menyebabkan ibu hamil gampang terkena infeksi yang sangat berisiko menimbulkan cacat janin. Kekurangan asupan nutrisi selama kehamilan juga berisiko membuat bayi terlahir kecil yang dapat berlanjut menjadi stunting nantinya. Yang lebih parah bisa menyebabkan kematian bila mengalami anemia berat lalu terjadi perdarahan akut saat persalinan. 

Yuk, pastikan konsumsi gizi seimbang untuk cegah anemia. Bagi perempuan mulai remaja, lengkapi dengan satu tablet tambah darah tiap minggu 

 

 



Tanya Skata