Remaja, yang berada pada rentang usia 10-18 tahun, merupakan populasi yang rentan mengalami kekurangan gizi. Salah satu buktinya adalah anemia yang dialami 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan, yang merupakan masalah gizi mikronutrien (kurang zat besi).

Indikator status gizi remaja dinilai menggunakan kurva IMT (Indeks Masa Tubuh) menurut usia, keluaran WHO tahun 2007. Dari kurva tersebut kita bisa menentukan remaja mengalami gizi kurang bila hasil pengukuran berada pada rentang antara -2 SD (standar deviasi) sampai -3 SD. 

Mengapa remaja bisa kekurangan gizi? 

1. Pola makan tak sehat 

Tinjauan literatur sistemastis tentang kebiasaan makan remaja (2020) yang dimuat dalam researchgate.net terhadap sejumlat riset tentang gizi remaja menunjukkan bahwa remaja Indonesia kurang protein, buah, dan sayur, serta makan terlalu banyak fast food ala Barat dan makanan tinggi Natrium. Tak hanya karena kebiasaan dalam keluarga, pola makan tak sehat seperti ini juga dipengaruhi oleh pergaulan maupun media sosial. Makanan atau minuman yang viral di kalangan remaja rata-rata memiliki kandungan kalori yang sangat tinggi tapi irit zat gizi. Remaja pun berisiko mengalami kurang gizi. Padahal, nutrisi sangat dibutuhkan pada masa remaja karena pada masa ini terjadi puncak pertumbuhan.

Baca: Remaja Masih Perlu Nutrisi, Ini Daftarnya

2. Memiliki banyak kegiatan

Remaja juga memiliki banyak kegiatan yang menyedot asupan gizi yang besar antara lain saat. belajar, berorganisasi atau melakukan ekstrakurikuler. Di sisi lain, masa remaja adalah masa-masa ingin mencoba. Rokok dan alkohol misalnya, jika dikonsumsi akan menggangu metabolisme tubuh termasuk penyerapan zat gizi.

3. Diet agar sesuai standar kecantikan remaja

Khusus pada remaja putri, pengurangan gizi kadang dilakukan secara sengaja untuk mengubah atau mempertahankan penampilan karena imej kurus itu cantik. Sering mendapat perundungan atau sulit mengikuti pergaulan membuat remaja seringkali memaksa diet dengan menurunkan porsi makan atau menjarangkan waktu makan. Risiko kurang gizi juga bertambah bila remaja mulai mengalami menstruasi. Tak heran bila remaja putri menempati urutan tertinggi kasus Kekurangan Energi Kronis (berdasarkan data Riskesdas 2018).

Baca: Remaja Ingin Diet, Bolehkah?

Apa tanda remaja kekurangan gizi?

1. Tubuh lebih pendek

Remaja yang kurang gizi akan terlihat pendek, yang selain memengaruhi penampilan juga bisa menjadi hambatan saat bekerja atau melanjutkan pendidikan tertentu. Remaja putri yang pendek berisiko mengalami masalah saat hamil nantinya, seperti melahirkan bayi stunting atau sulit melalui persalinan normal.

2. Kurus

Remaja kurus merupakan tanda KEK (Kurang Energi Kronis). Risikonya adalah lebih rentan terkena infeksi dan gangguan hormonal.

3. Cepat lelah

Remaja yang kurang gizi sering merasa cepat lelah, kurang produktif, dan sulit berkonsentrasi.

Apa bahanyanya?

Kekurangan gizi pada remaja berisiko menyebabkan penyakit kronis saat dewasa misalnya tekanan darah tinggi atau penyakit kencing manis. Selain itu, kekurangan gizi juga mempengaruhi pematangan seksual sehingga remaja mengalami gangguan pubertas, yang pada perempuan ditandai dengan lambatnya menarke (menstruasi pertama). 

Dapatkah kurang gizi pada remaja diobati?

Tentu saja, kekurangan gizi dapat dikejar dengan perbaikan nutrisi dengan memastikan karbohidrat, lemak, protein, dan serat lengkap tersedia dalam makanan. Seberapa banyak? Ikuti panduan Isi Piringku yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan untuk komposisi setiap nutrisinya.

Pada remaja putri, dianjurkan tambahan konsumsi suplemen zat besi setiap minggu untuk cegah anemia. Pengaturan makan yang baik dan benar terus terpupuk sampai dewasa. Yuk, siapkan remaja sehat dan produktif demi menyongsong bonus demografi. 

 

 

Referensi:

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak 

2. Nutrition In Adolescence – Issues And Challenges For The Health Sector 

 



Tanya Skata