Nongkrong di kedai kopi, berburu makanan yang sedang hits, atau cari spot makan yang juga instagrammable. Ada yang kurang rasanya kalau seminggu saja tidak wisata kuliner. Ini mungkin yang dirasakan oleh mereka generasi kulineran, yang menjadikan makan sebagai kebutuhan rekreasional. Tak hanya masalah rasa, tapi juga menyangkut kehidupan sosial. Sayangnya, jenis makanan dan minuman yang umumnya digandrungi oleh generasi kulineran ini minim nutrisi.

Sebut saja minuman boba milk tea dan kopi susu tinggi gula, makanan yang digoreng seperti fried chicken dengan tambahan saus berperasa buatan, atau berbagai produk olahan tepung yang nol gizinya. Harganya pun sangat masih terjangkau. Rasanya? Bikin ketagihan. Tak hanya untuk anak muda, tapi juga anak kecil dan orang dewasa. Ini yang membuat makanan di rumah terasa lebih hambar, kebutuhan akan junk food tadi terus muncul.

Apa masalahnya?

Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2040. Bonus demografi artinya jumlah kelompok usia produktif (15-64 tahun) jauh lebih banyak dari kelompok usia lainnya, yang dari kacamata negara akan menjadi modal tak ternilai untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Tak tanggung-tanggung, kelompok usia produktif ini diprediksi mencapai 64%! 

Namun, kondisi tersebut bisa berbalik menjadi bencana jika kualitas sumber daya manusianya buruk. Dan, kondisi kesehatan menjadi salah satu faktor penentu baik buruknya kualitas manusia Indonesia kelak. 

Kuliner minim nutrisi (serta tinggi minyak, gula, garam) yang kerap dikonsumsi tidak saja membuat generasi muda saat ini rentan menderita penyakit tak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung, namun juga memengaruhi kualitas keturunan yang kelak mereka lahirkan. Status gizi kedua orang tua (khususnya ibu) akan berdampak pada kondisi kehamilan. 

Baca: Rahasia di Balik 1000 Hari Pertama Kehidupan yang Tentukan Masa Depan

Seribu hari pertama kehidupan seorang anak bisa tentukan sehat dan cerdas tidaknya anak saat ia bertumbuh kelak. Kurang gizi yang berlangsung terus menerus pada periode emas ini bisa menyebabkan stunting, yang tidak hanya membuat anak bertubuh pendek, tapi juga lebih rentan terkena infeksi dan mengalami gangguan kecerdasan. 

Dengan kondisi seperti ini, bagaimana bisa saat besar nanti mereka membuat diri mereka dan keluarganya sejahtera? 

“Itu urusan nanti.”

Eits, mengubah kebiasaan tidak bisa dilakukan dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Makanan dan minuman yang telah menyebabkan kerusakan pada tubuh pun tak dapat dihilangkan dengan minum obat saja. Kebiasaan makan dan minum tinggi gula di masa kecil bisa sebabkan diabetes di usia dewasa, misalnya. Tak usah menunggu tahun 2030, Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 saja menunjukkan adanya peningkatan tren prevalensi diabetes mellitus di Indonesia, dari 6,9% menjadi 8.5%, sementara obesitas pada orang dewasa meningkat dari 14,8% ke 21,8%.

Ini baru masalah kesehatan, belum masalah rendahnya kapasitas intelektual yang membuat anak-anak kita di masa depan nanti berdaya saing rendah. 

Baca: Yakin Mau Diet? Kenali Dulu Alasan Mengapa Anda Melakukannya

Jadi, menikmati beragam kuliner tidak masalah, kok. Apalagi, Indonesia kaya akan ragam kuliner yang sehat. Yang diperlukan adalah kesadaran bahwa apa yang kita konsumsi akan berdampak jauh ke depan. Pilih makanan enak di lidah, “enak” juga di tubuh. Tidak semua yang sehat itu tidak enak, tidak semua yang enak itu tidak sehat. Bekali diri dengan pengetahuan tentang gizi dan nutrisi agar tak menyesal di hari tua nanti.

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata