Kalau ada masa yang paling menentukan kondisi kesehatan anak di masa depannya nanti, tak lain tak bukan adalah di 1000 hari pertama kehidupannya (1000 HPK). 

Seribu hari pertama kehidupan dihitung sejak anak berada di dalam kandungan sampai seorang anak berusia dua tahun. Fase ini disebut juga sebagai “periode emas” karena pada masa ini terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat. 

Jika pada periode ini anak tidak mendapatkan nutrisi sesuai yang dibutuhkan, ia akan mengalami gangguan kecerdasan dan tumbuh kembang yang tidak dapat diperbaiki di masa berikutnya. Dampak yang tidak main-main, ya.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar anak tidak kekurangan gizi di 1000 hari pertama kehidupannya?

1. Untuk calon ayah dan ibu, perbaiki pola makan

Yang ideal tentu saja mempersiapkan diri sebelum terjadi kehamilan. Minimal 3 bulan sebelum menikah atau sebelum program hamil, calon ayah dan ibu sudah mengasup makanan bergizi seimbang. Meskipun janin tumbuh di rahim ibu, kualitas sperma ayah pun mampu memengaruhi pembentukan plasenta. Jadi, keduanya harus memperbaiki pola makan dan menjalani gaya hidup sehat. 

Baca: Seberapa Besar Gen Ayah Berpengaruh pada Anak?

2. Saat hamil, konsumsi nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang janin

Nah, 1000 hari pertama dimulai sejak terjadi konsepsi atau pembuahan (bertemunya sel telur dengan sperma). Namun, 2 minggu sebelum terjadi pembuahan, rahim sudah mempersiapkan diri jika kelak terjadi kehamilan. Mulai minggu ke-5 kehamilan, embrio sudah memiliki 3 lapisan yang masing-masing akan berkembang menjadi cikal bakal sistem saraf dan organ tubuh. Minggu ke-6, otak dan sumsum tulang belakang mulai berkembang, jantung mulai terbentuk, begitu juga struktur dasar mata dan telinga. 

Bisa dibayangkan jika kehamilan terjadi tanpa rencana dan baru diketahui saat kehamilan sudah lewat dari 4 bulan, berapa banyak nutrisi penting yang tidak didapat janin. Akhirnya, perkembangannya pun tidak maksimal. 

Jika janin kurang nutrisi…

Tidak hanya berisiko lahir dengan berat rendah, janin juga berpotensi mengalami gangguan sistem saraf, pencernaan, maupun pernapasan. Metabolisme bayi yang lahir kelak juga bisa terganggu dan membuat bayi kelak lebih rentan menderita infeksi, kanker, gangguan jantung dan ginjal.

Jadi, ibu hamil harus rutin mengonsumsi nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang janin, seperti aneka sayuran hijau, daging ayam, kacang-kacangan, dan daging merah tanpa lemak yang semuanya kaya akan zat besi. 

3. Setelah bayi lahir, beri ASI eksklusif 

ASI eksklusif artinya bayi hanya mengonsumsi ASI selama 6 bulan pertama hidupnya. Jangan khawatir, ASI sudah dirancang oleh Sang Pencipta untuk memenuhi semua kebutuhan zat gizi bayi. Bahkan, ASI pertama yang dihasilkan oleh ibu setelah melahirkan mengandung kolostrum yang bisa membangung kekebalan tubuh bayi. 

Baca: Inilah Pentingnya Peran ASI dan MPASI untuk Tumbuh Kembang Bayi

4. Beri MPASI dan lanjutkan beri ASI hingga 2 tahun

Setelah 6 bulan, komposisi ASI mulai tidak dapat memenuhi kebutuhan energi bayi. Karena itu, bayi perlu mendapat MPASI (Makanan Pendamping ASI) dan berkenalan dengan makanan padat pertamanya. 

Perjuangan yang lebih panjang dan lebih menantang kini harus dihadapi para ibu dan support system-nya. Drama-drama penolakan makanan atau godaan makanan tak sehat bisa menghampiri. Orang tua yang sadar gizi tentu harus kompak menyediakan makanan bergizi bagi anak dan bisa memberi contoh pola makan yang sehat. 

Tujuan pemberian makanan tambahan ini adalah untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, menghindari terjadinya kekurangan gizi, mencegah risiko malnutrisi dan defisiensi mikronutrien. 

Cukup simpel ya langkahnya, namun bagi orang tua (maupun calon orang tua) yang masih menjalani gaya hidup tidak sehat dan pola makan ala kadarnya, langkah di atas adalah suatu “perjuangan”. Tidak apa berjuang 1000 hari demi puluhan ribu hari di masa depan anak yang dapat dijalani dengan sehat dan sejahtera. Setuju?

 

 



Tanya Skata