Nadia dan Aldrin kaget ketika Rara, anak mereka yang berusia 3 tahun, divonis dokter mengalami stunting. Stunting atau gagal tumbuh disebabkan oleh kurangnya asupan gizi di 1000 hari pertama kehidupan anak yang berlangsung lama. Biasanya, hal ini terjadi di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, di mana keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi anak maupun ibu selama hamil. Padahal, Nadia dan Aldrin adalah pasangan bekerja dengan penghasilan tinggi. Babysitter pun selalu mendampingi Rara. Bagaimana bisa pendeknya tubuh Rara karena kurang gizi?

Dikutip liputan6.com, pembicara Institut Gizi Indonesia Fasli Jalal mengungkapkan bahwa di Indonesia ada sekitar 30% anak orang kaya yang stunting. Tidak jauh berbeda, di India 22% anak orang kaya juga mengalami stunting. Mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Pola pengasuhan yang tidak maksimal 

Kala waktu menjadi sangat minim untuk anak bagi orang tua yang sibuk bekerja, mengandalkan pengasuh anak maupun anggota keluarga lain untuk memenuhi kebutuhan anak kebanyakan menjadi pilihan. Padahal, balita masih memiliki ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya terhadap orang tua atau pengasuh, sehingga asupan makanannya sangat tergantung dengan bagaimana cara pengasuhan, cara memberi makan. Padahal, mengenalkan makanan padat pertama pada bayi ada seninya, ada tahapnya. Memaksa anak makan atau malah menyerah saat anak tak mau makan bisa berujung kurang gizi kronis jika berlangsung lama. 

Baca: 8 Cara Ampuh Mengatasi Anak yang Suka Pilih-Pilih Makanan

2. Kurangnya informasi mengenai kebutuhan gizi anak

Berapa banyak orang tua yang tahu Pedoman Gizi Seimbang? Kebanyakan mungkin hanya meneruskan kebiasaan makan yang diturunkan dalam keluarga besar, yang belum tentu bisa memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak. Ini belum bicara mengenai anak yang sulit makan. 

“Anak saya cuma mau makan mie instan, yang lain nggak mau,” atau “kalau dikasih chiki, baru mau buka mulut. Jadi saya kasih aja chiki dicampur nasi.” 

Trik di atas memang membuat anak berhasil buka mulut, namun tidak memenuhi kebutuhan gizinya. Padahal, anak yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan makanan kaya nutrisi, seperti telur, daging, ikan, dan lemak baik lainnya.  

Baca: Gizi Seimbang, Samakah dengan 4 Sehat 5 Sempurna?

3. Kebiasaan camilan minim gizi 

Camilan adalah hal yang wajar dan boleh diberikan di sela waktu makan. Namun, pemberian camilan juga perlu diperhatikan. Baiknya, berikan camilan yang bernutrisi, misal kacang-kacangan dan buah-buahan. Untuk anak yang memiliki sulit makan atau pemilih, camilan berat bisa diberikan. Contoh, bola nugget yang berisi kepalan nasi, daging, dan sayuran, atau berikan bubur kacang hijau di sela anak bersantai. Yang biasa terjadi, anak terbiasa diberikan camilan tidak sehat sehingga mengganggu makan pokok, dan menjadi enggan untuk makan besar karena sudah “kenyang” mengemil. Jangan biarkan camilan ultra proses ber-MSG dan mengandung gula buatan menjadi panganan wajar di sela makan pokok. Belum tahu apa itu makanan ultra proses serta bahayanya? Baca di sini ya.

Jadi, stunting bukan hanya masalah keluarga yang tidak mampu. Orang tua dengan keterbatasan informasi gizi bisa membawa anak menjadi gagal tumbuh walau dengan kondisi finansial yang baik. Karena itu, miliki informasi maksimal akan kebutuhan gizi anak, agar tumbuh kembangnya maksimal. 

 

 

 

 



Tanya Skata