Di era milenial ini, kita semakin dimanjakan dengan layanan serba online termasuk untuk urusan perut. Tidak ada yang salah, hanya urusan makan tetap harus memperhatikan nilai gizi. Nyatanya, kesibukan yang acapkali menghampiri membuat orang tua memilih jalan pintas dengan membeli junk food atau makanan instan yang tinggi gula, garam, kalori, namun minim gizi. Disadari atau tidak, hal ini bisa membentuk anak menjadi picky (pemilih) dan menyebabkan anak stunting. Akibatnya, potensi akademis anak menurun sampai munculnya sindrom metabolik saat dewasa: obesitas, hipertensi, hiperkolesterol, atau diabetes. 

Orang tua perlu tahu bahwa kebiasaan makan yang baik perlu dibangun sejak kecil. Kebiasaan yang sudah mengakar akan sulit diubah. Sadar gizi harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi contoh bagi anak-anak. Pernah tidak melarang anak jajan ini itu, tapi orang tuanya sendiri hobi mampir ke kafe atau gak bisa lepas dari layanan pesan antar, hayo? Nah, mulai sekarang yuk lebih peduli dengan gizi keluarga! 

Bangun motivasi, ubah persepsi

Langkah pertama adalah tetapkan niat lalu bangun motivasi. Kadangkala niat sudah ada, hanya butuh motivasi eksternal, dari idola misalnya. Mungkin kalau selama ini yang dipantau akun kuliner yang lagi happening, sekarang coba ikuti influencer yang menjalankan hidup sehat. Lalu ubah persepsi, kadang kalau dipikir-pikir kita tidak benar-benar sibuk namun salah menempatkan prioritas. Daripada sibuk utak utik jempol, coba sesekali sajikan makanan untuk keluarga. Dijamin lebih bersih dan sehat. 

Beri contoh pola makan sehat dalam keluarga

Langkah kedua, jadilah teladan anak. Saat anak sudah bisa diberi makanan keluarga pada usia setahun, ajaklah anak makan bersama supaya anak mencontoh kebiasaan makan orang tua. Di sinilah kesempatan orang tua dapat memberi cerminan bahwa makanan yang baik itu yang bervariasi supaya nilai gizi lengkap.

Anggapan kalau makan wajib dengan nasi harus diubah. Sumber karbohidrat yang menempati 2/3 tidak melulu harus dari beras/nasi. Selain unsur karbohidrat, 1/3 isi piring harus ada lauk, 2/3 bagian terdiri dari sayur-mayur dan wajib konsumsi buah di 1/3 bagian lainnya. Biasakan makan tepat waktu, sempatkan sarapan serta konsumsi air putih setelah makan.

Pantau tumbuh kembang anak

Langkah ketiga dengan memantau tumbuh kembang anak. Persepsi bahwa “anak yang sehat adalah anak yang terlihat gemuk” harus diubah karena penilaian mata sangatlah subjektif. Sebaliknya, anak yang kurus pun belum tentu jelek karena bisa saja anak hanya tampak kurus akibat percepatan tinggi badan. Misal, saat anak berusia setahun, tinggi badannya akan mencapai 1,5 kali tinggi badan lahir lalu bertambah menjadi 2 kali lipat tinggi badan lahir pada usia 4 tahun. Agar objektif, harus dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan per usia berdasarkan kurva pertumbuhan WHO.

Jadi konsumen cerdas

Langkah keempat: jadi konsumen bijak. Sebelum membeli produk pangan dan minuman, periksa apakah produk memiliki izin edar BPOM, baca dengan detail informasi di kemasan/label produk, pastikan kemasan produk utuh dan tertutup rapat serta cek masa kadaluarsa.

Bayi sadar gizi?

Bayi memang belum bisa memilih sumber nutrisinya namun orang tua dapat memperkenalkan berbagai rasa dan nilai gizi sejak hamil, saat menyusui, dan saat memberikan MPASI. Sajikan MPASI dengan gizi lengkap dan porsi seimbang, tepat waktu, higienis, sesuaikan tekstur dengan usia anak, dan cara pemberiannya benar dengan memperhatikan kapan anak lapar dan kenyang. Bila perlu berikan anak MPASI fortifikasi. Makanan instan tidak selamanya buruk namun akan lebih jika diawali/ didampingi dengan makanan rumahan. Jangan lupa untuk tambahkan suplemen zat besi sampai usia anak 5 tahun, sesuai anjuran IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). 

Membiasakan hidup sehat adalah investasi. Bila saat ini masih single, pikirkan bahwa kesehatan akan jadi bekal masa depan saat berumah tangga nantinya. Tentunya kita ingin kan memiliki anak lucu nan cerdas? Yuk bisa yuk, dimulai dari sekarang ya...

 

 

Referensi:

1. Global Nutrition Targets 2025 Stunting Policy Brief WHO

2. Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi

 



Tanya Skata