Jumlah angka stunting pada anak yang cukup tinggi, khususnya di Indonesia menimbulkan kekhawatiran. Bagaimana tidak, stunting atau kurang gizi kronis pada anak ini tak hanya menimbulkan masalah tumbuh kembang secara fisik, namun juga kekayaan intelektualnya di masa datang. Sebagai orang tua, tentu hal ini ingin kita hindari. Karenanya, kondisi keluarga penting diperhatikan demi tumbuh kembang anak yang maksimal, untuk cegah stunting. 

Mengapa dimulai dari keluarga? Karena anak adalah bagian dari kesatuan dasar sebuah keluarga. Mulai dari perencanaan kehamilan, tumbuh kembang anak pasca kelahiran, kualitas gizi, sangat diperlukan demi mencegah stunting di kemudian hari. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia), ada beberapa faktor keluarga yang bisa menyebabkan tumbuh kembang anak tidak maksimal. 

1. Calon ibu kurang sehat 

Faktor maternal, bukan hanya dimulai sejak bayi lahir namun saat ibu mulai merencanakan kehamilan. Asupan gizi pada calon ibu sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak nantinya. Ada beberapa faktor maternal yang teridentifikasi oleh WHO dan menjadi masalah pada sebagian besar anak stunting: 

a. Nutrisi buruk selama prakonsepsi (sebelum kehamilan) 

b. Tidak mencukupinya gizi baik saat kehamilan dan menyusui 

c. Short Maternal Stature (tinggi ibu kurang dari 150cm sehingga berpotensi memiliki anak yang stunting)

d. Infeksi saat kehamilan dan melahirkan 

e. Kehamilan usia dini 

f. Kesehatan mental Ibu 

g. Intrauterine Growth Restriction (IuGR) atau terhambatnya perkembangan janin sehingga ukuran dan berat bayi tidak sesuai dengan usia kehamilan. 

h. Kelahiran bayi prematur

i. Jarak kehamilan dan kelahiran yang dekat 

j. Hipertensi 

Di Indonesia sendiri, nutrisi buruk saat prakonsepsi, kehamilan dan menyusui, Short Maternal Stature, IuGR, kelahiran prematur, serta kehamilan dini menjadi penyebab stunting terbanyak.

Setidaknya, sebelum berencana untuk hamil, calon ibu mengonsumsi 5 jenis zat gizi ini.

2. Lingkungan tempat tinggal kurang higienis  

Keluarga yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk membuat panganan rentan terkontaminasi sumber penyakit. Buruknya kualitas makanan, waktu makan yang tidak teratur, porsi makan yang kurang, bisa memperburuk kondisi keluarga hingga anak mengalami stunting. Jika lingkungan tempat tinggal tidak memiliki fasilitas kesehatan memadai, stunting pun sulit dicegah.  

3. Pendapatan keluarga sedikit

Tak bisa dipungkiri, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama terjadinya stunting. Tingkat kemiskinan membuat keluarga tidak mampu memberikan asupan yang bergizi, sehingga pangan instan menjadi pilihan atau bahkan tanpa pangan sama sekali. 

Baca : Prihatin Angka Stunting di Indonesia 

4. Tingkat pendidikan keluarga rendah

Keluarga dengan tingkat pendidikan rendah biasanya kurang memiliki akses terhadap informasi mengenai pentingnya hidup sehat. Kurangnya informasi akan stunting menyebabkan rendahnya kesadaran orang tua terhadap kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang anak. Selain karena masalah kemampuan mencerna informasi, rendahnya pengetahuan akan gizi anak juga bisa terjadi pada daerah terpencil yang jauh dari jangkauan media.  

Sebagai orang tua, tentu kita bertanggung jawab akan pertumbuhan dan perkembangan anak. Karenanya, jangan sepelekan gizi ibu dan anak untuk menghasilkan tumbuh kembang yang baik. Berikan anak asupan dengan gizi yang sempurna, dengan tambahan suplemen bila perluuntuk mencegah infeksi dan gangguan penyerapan gizi.

Cek kesehatan secara berkala, mulai dari pra kehamilan, kehamilan, kelahiran, dan kesehatan anak pascalahir hingga setidaknya usia dua tahun. Yuk, cegah stunting sejak dini dimulai dari keluarga kita. 

 

 

 



Tanya Skata