Tidak banyak yang tahu bahwa stunting atau gagal tumbuh pada anak berdampak hingga mereka dewasa. Kekurangan gizi kronis yang terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan mereka tidak hanya memengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan pada saat masih balita, namun juga saat mereka sudah bersekolah dan menjadi usia produktif (15-64 tahun).

Anak stunting akan berisiko tiga kali lipat lebih sering terkena infeksi dibanding anak normal. Jika anak sudah bersekolah, sering sakit bisa membuat anak tertinggal pelajaran (karena sering tidak masuk sekolah), bahkan “tertinggal” pergaulannya. Ini membuat anak berpotensi mengalami gangguan psikis seperti rasa minder, terlebih jika sampai tidak naik kelas.

Dengan kemampuan kognitifnya yang rendah, saat dewasa nanti anak stunting bisa kalah saing di dunia kerja maupun dunia usaha, sehingga memengaruhi tingkat pendapatan dan kesejahteraan hidupnya. 

Ini bukan sekadar prediksi. Sebuah hasil penelitian yang dimuat di jurnal NCBI pemerintah AS menunjukkan bahwa stunting yang terjadi di usia 2 tahun memiliki hubungan dengan kecilnya kemungkinan untuk bersekolah, rendahnya nilai ujian, sedikitnya pengeluaran rumah tangga, dan meningkatnya risiko kemisikinan. Bagi perempuan, stunting bisa menyebabkan usia persalinan pertama yang lebih muda dan jumlah anak yang lebih banyak.

Memangnya, gangguan kecerdasan saat kecil benar-benar tak bisa diperbaiki?

Stunting bisa ditangani tapi penanganan sebatas untuk menaikkan berat badan, sementara tinggi badan dan kecerdasan sulit dipacu. Akibat kenaikan berat badan yang pesat, anak akan mengalami berat badan berlebih atau obesitas yang memunculkan sindrom metabolik seperti diabetes, penumpukan kolesterol, atau hipertensi saat dewasa. 

Nah, supaya anak tidak mengalami stunting perlu dilakukan persiapan sejak merencanakan kehamilan yang dilanjutkan terus sampai anak tumbuh besar.

  1. Konsumsi asam folat minimal sebulan sebelum berencana hamil atau rutin konsumsi zat besi saat menstruasi 
  2. Suplemen tambah darah harus dilanjutkan selama kehamilan. Saat mengandung, tidak perlu berpantang jenis makanan tertentu selama tidak ada riwayat alergi.
  3. Lakukan kontrol kehamilan minimal 4 kali, 1 kali saat trimester pertama, 1 kali saat trimester kedua dan 2x saat trimester ketiga.
  4. Saat anak lahir, usahakan untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), berikan ASI ekslusif dan teruskan ASI sampai usia anak 2 tahun atau lebih.
  5. Berikan MPASI 4 bintang mulai usia 6 bulan secara responsive feeding. Ingat bahwa makanan bergizi bukan berarti harus mahal atau berbahan baku impor.
  6. Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan membilas dengan air mengalir sebelum makan dan setelah bermain. Orang tua wajib memberi contoh dengan membiasakan cuci tangan sebelum memasak, sesudah BAB atau membersihkan kotoran anak, sebelum menyusui atau memerah ASI, dan mempersiapkan perlengkapan makan/minum anak.
  7. Kunjungi posyandu di bulan Februari dan Agustus agar anak mendapat vitamin A berkala sekaligus mendapat obat cacing jika masih banyak kasus kecacingan di daerah domisili.
  8. Biarkan anak bermain. Di samping latihan fisik dan mengasah kecerdasan, bermain apalagi di ruangan terbuka dapat meningkatkan asupan vitamin D yang menjadi penyokong tulang dan otot. Di masa pandemi ini, anak tetap aman beraktivitas di luar rumah selama protokol kesehatan di jaga ketat. Tak perlu sampai repot staycation, nature walking juga cukup menyenangkan lho buat anak. Anak yang aktif dan bahagia adalah tanda anak yang sehat. 
  9. Gunakan kontrasepsi agar tidak ada dua batita dalam satu rumah. Ingin tahu apa saja jenis kontrasepsi yang bisa digunakan? Baca fitur Kontrasepsiku di sini.

Yuk, jauhkan anak-anak kita dari stunting.

 

Referensi:

1. Pedoman Stategi Komunikasi Perubahan Perilaku Dalam Percepatan Pencegahan Stunting Di Indonesia  2018

2. Paparan Kebijakan dan Strategi Penanggulangan Stunting di Indonesia Kemenkes-PERSI 

3. Bersama Perangi Stunting Indonesiabaik.Id

4. Global Nutrition Targets 2025 Stunting Policy Brief WHO

 

 



Tanya Skata