Betul, kita tidak bisa dengan mudahnya menyebut seorang anak mengalami stunting hanya karena tubuhnya pendek. Apalagi, jika ternyata anak tersebut masih “pintar” menurut penilaian awam. Pintar yang seperti apa? 

Begini, tiap anak diharapkan memiliki 8 dimensi kecerdasan antara lain kecerdasan intrapersonal dan interpersonal, kinestetik, linguistik, musikal, naturalis, logika, dan spasial. Jadi, “pintar”nya anak tidak terbatas pada bisa membaca dan berhitung saja, namun juga pintar bermain dengan teman sebaya serta mampu mengenali emosinya (tantrum mulai berkurang atau hilang).

Nah, anak yang mengalami stunting akan mengalami hambatan dalam 8 kecerdasan tersebut, misalnya:

  • tidak tertarik pada benda di sekelilingnya pada umur setahun
  • kata-katanya masih belum dapat dimengerti pada usia 2 tahun
  • belum bisa mengenali tubuhnya pada usia 3 tahun
  • belum bisa menggambar garis dan tidak dapat membedakan warna pada usia 4 tahun 
  • belum tahu angka-angka di umur 6 tahun. 

Baca: Tahap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 1-5 Tahun

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) adalah masa di mana perkembangan otak sangat pesat, mencapai 70% pada saat usia anak 2 tahun kemudian berkembang sampai 90% pada usia 5 tahun. Jika pada 1000 HPK anak kekurangan nutrisi yang diperlukan otak untuk berkembang semestinya, maka sejumlah kecerdasan yang harusnya dimilikinya pun akan terhambat. Inilah mengapa pemulihan stunting akan lebih baik hasilnya jika dilakukan dalam 2 tahun pertama usia anak. Semakin lama dibiarkan maka anak akan semakin sulit mengejar ‘ketinggalan’.

Indikator stunting lain selain kecerdasan

Dari penjelasan sebelumnya, anak yang pendek tapi pintar ternyata belum tentu stunting. Meskipun demikian, kita juga perlu memastikan “sependek apa” anak agar bisa mengetahui kondisi yang sebenarnya. 

Untuk mengetahui apakah tinggi badan anak susuai dengan tinggi badan kebanyakan anak seusianya, kita bisa menggunakan kurva pertumbuhan WHO. Mengingat ada beberapa jenis kurva, pilih kurva tinggi badan berdasar usia (TB/U) sesuai jenis kelamin anak. Di kurva ini, tinggi badan anak berada di garis tegak (vertikal), sementara usia anak berada di garis mendatar (horizontal).

Sudah paham cara plot pertumbuhan anak?

Misal, tinggi badan anak laki-laki kita 70 cm sementara usianya 1 tahun. Pertemuan garis 70 cm dan 1 tahun ternyata berada sedikit di bawah garis merah -2. Jika titik pertemuan usia dan tinggi badan berada di bawah garis merah (-2) artinya anak dapat dikategorikan stunting. Jika berada di garis hitam (-3), anak mengalami severe stunting. Namun, jika hasil plot tinggi dan usia berada pada garis hijau, kita boleh merasa lega karena tinggi anak tergolong normal. 

Baca: Tinggi Badan dan Pertumbuhan Anak

Tinggi badan orang tua juga berpengaruh lho!

Meskipun demikian, jangan buru-buru menganggap anak stunting apabila tinggi badan anak di bawah normal. Bisa jadi anak pendek karena pengaruh keturunan. Potensi genetik anak bisa dihitung dari rumus berikut:

Anak laki-laki           : ((tinggi badan ayah) + (tinggi badan ibu) + 13 cm)/2 ± 8,5 cm

Anak perempuan      : ((tinggi badan ayah) + (tinggi badan ibu) - 13 cm)/2  ± 8,5 cm                                                                       

Misal, anak laki-laki yang memiliki ayah dengan tinggi 155 cm dan tinggi ibu 148 cm, saat dewasa nanti tinggi badannya berkisar antara 149,5-166,5 cm. 

Jadi, ada tiga hal yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan apakah anak kita pendek karena stunting atau karena faktor lain. Jika masih ragu, konsultasikan ke dokter. 

 

 

 

Referensi:

1. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya Litbangkes 2015

2. Panduan Praktik Klinis IDAI Perawakan Pendek Anak dan Remaja di Indonesia 2015 

3. Global Nutrition Targets 2025 Stunting Policy Brief WHO

4. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan X IDAI Cabang DKI Jakarta Best in Pediatrics IDAI 2013 

 

 



Tanya Skata