Dear Diary, 

Capeknya pulang dari reuni teman-teman SMA. Capek tapi seru, sih. Tiga jam ngobrol ‘ngalor-ngidul’ sampai gak berasa. Untung aku akhirnya udah hamil, kalau nggak pasti kena bully lagi deh kayak reuni-reuni sebelumnya. Alhamdulillah, setelah penantian panjang kami selama 6 tahun menikah, Allah memberikan kepercayaan pada aku dan suamiku. Sohib-sohib kentalku pun ikut senang, apalagi mendengar aku bakal dapat sepasang bayi sekaligus. Ya, kehamilanku yang pertama ini langsung diberi kehamilan kembar. Tapi sebenarnya perasaanku campur aduk karena hamil kembar ini kadang bikin dilema. Justru karena aku dokter dan sempat mendalami mengenai kehamilan kembar, ada rasa takut dan cemas yang menghinggapi diriku. Manusiawi sih...

Dear Diary, 

Sebenarnya agak kaget saat diberi tahu hamil oleh dr.Opjin, dokter kandungan yang rumahnya persis disebelah rumahku, kalau aku hamil, kembar pula. Kehamilan kembar ini disebut gemelli dalam dunia kerjaku. Memang sih ada keturunan kembar di keluargaku, tapi tetap aja kaget mengingat umurku yang gak bisa dibilang muda lagi, 35 tahun. Peluang kembar biasanya lebih rendah bila keturunan saudara kembar ditarik dari garis ayah dibanding jika pihak dari ibu. Walau begitu, pasangan yang tidak ada keturunan kembar tetap berpeluang memiliki bayi kembar, kok. Bisa juga mencoba inseminasi buatan atau program bayi tabung kalau memang pengen banget punya anak kembar. Kalo aku? Kehamilanku saat ini sih terjadi alamiah.

Baca: Ini Beda Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan

Dear Diary, 

Di balik rasa senang membayangkan dapat dua bayi sekaligus, kamu tahu nggak kehamilan kembar itu relatif lebih berisiko dibanding kehamilan dengan janin tunggal. Aku mungkin mengalami preeklampsia, diabetes, perdarahan, melahirkan prematur, bayiku terlahir kecil atau risiko terburuknya terjadi keguguran, lahir mati (mati saat dilahirkan), atau terlahir cacat. Belum lagi adanya risiko depresi pasca melahirkan. Semakin banyak jumlah janin yang dikandung, maka risiko tersebut semakin meningkat. Tapi, banyak kok ibu hamil yang sehat-sehat saja dan melahirkan janinnya cukup bulan.

Baca: Gangguan Kehamilan yang Berisiko Cacat Janin

Kamu tahu gak Diary, kembar itu tidak mesti dua, bisa tiga, bahkan bisa sampai 8 seperti yang pernah terjadi di California, Amerika Serikat pada tahun 2009. Kehamilan kembar bisa terdeteksi melalui pemeriksaan Leopold yang dapat dilakukan oleh bidan atau dokter umum, atau untuk lebih detail lagi boleh kunjungi dokter kandungan agar dilakukan pemeriksaan USG. Selain jumlah janin dan usia kehamilan, USG penting untuk menentukan jumlah plasenta (korion) dan ketuban (amnion). Untuk hasil lebih akurat, USG sebaiknya dilakukan pada awal kehamilan atau paling lama pada awal trimester kedua.

Apa gunanya memeriksa plasenta? Idealnya, janin kembar memiliki dua plasenta dan dua ketuban. Janin kembar yang plasentanya hanya satu (monokorion) jauh lebih berisiko mengalami kelainan dan bahkan kematian dibanding janin yang plasentanya dua, contohnya, twin-twin transfusion syndrome yang membuat satu janin lebih berkembang dibanding janin lainnya atau vanishing twin, saat salah satu atau beberapa janin tidak mampu bertahan hidup. Nah, janin monokorion inilah yang akan menghasilkan kembar identik sementara janin dikorion menghasilkan janin non identik atau jenis kelamin berbeda. 

Kemudian, ada lagi yang disebut dengan monoamnion, ketika janin kembar berbagi ketuban dan otomatis berbagi plasenta juga. Kasus hamil kembar dengan monokorion-monoamniotik sangatlah jarang, hanya terjadi 1 dari 10.000 kehamilan tapi risikonya sangat tinggi karena dapat menyebabkan terjadinya kembar siam.

Baca: Plasenta Previa, Si Penutup Jalan Lahir

Dear Diary,

Ibu hamil kembar sepertiku harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Semua biaya baik selama kehamilan (bila harus kontrol kehamilan lebih sering), saat bersalin (mungkin direkomendasikan operasi Caesar), dan setelah bayi lahir nantinya (kebutuhan dan perlengkapan bayi jelas lebih banyak) relatif lebih besar dibandingkan kehamilan tunggal. Supaya hati lebih tenang karena kehamilanku termasuk risiko tinggi, dr.Objin juga menyarankanku untuk melakukan pemeriksaan NIPT (Non Invasive Prenatal Test) untuk memastikan apakah janinku berkembang normal atau memiliki cacat bawaan. Lumayan mahal nih tesnya.

Aku berharap, kehamilanku sehat. Tentu saja aku sudah mengatur pola makan dan aktivitasku agar mampu menunjang tumbuh kembang janinku. Apapun jenis persalinanku nanti, yang penting buah hatiku terlahir selamat dan sehat. Doakan aku ya!

 

 

 

Referensi:

Buku Ilmu Kedokteran Fetomaternal Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Edisi Perdana 2004

 



Tanya Skata