Semua orang ingin menjaga daerah vitalnya agar tetap sehat dan tetap nyaman dipandang. Apalagi, area tersebut adalah pusat gairah seksual. Ada banyak cara yang dilakukan untuk menjaga penampilan daerah vital, salah satunya adalah dengan mencukur bulu kemaluan. Sebagian dari Anda mungkin sudah lazim melakukannya, mulai dari menghilangkan total hingga mengikuti tren untuk membentuk bulu kemaluan sesuai bentuk yang diinginkan. Bentuk hati, garis, dan yang lainnya bisa Anda dapatkan dengan mudah di klinik terpercaya. Namun sebagian dari Anda, membiarkan bulu kemaluan tumbuh apa adanya. Sebenarnya, amankah mencukur bulu kemaluan? 

Menurut penelitian yang dilakukan JAMA Dermatology, sebanyak 84 persen wanita mencukur bulu kemaluannya dan membentuknya sesuai dengan keinginan. Kebanyakan dari mereka, melakukan sendiri di rumah bukan di klinik kecantikan. Tak heran karena cara termudah mencukur bulu kemaluan adalah melakukannya sendiri menggunakan pisau cukur. Namun demikian, ini tentu membuahkan risiko. Mulai dari luka akibat sayatan tak sengaja, tumbuhnya bulu kemaluan yang tidak beraturan dan cenderung kasar, alergi pisau cukur dan banyak lagi – dan kesemuanya terjadi di bagian paling sensitif tubuh. Terdengar cukup menyeramkan, ya. 

“Sebenarnya, mencukur bulu kemaluan adalah murni pilihan pribadi seseorang dan Anda bisa menghilangkannya secara bersih atau membentuknya sesuai keinginan,” ujar Dr. Katharine White, MD, ginekolog yang juga konsultan kesehatan wanita di Boston University. “Namun, perlu dipahami bahwa bulu yang ada pada kemaluan juga memiliki fungsi, salah satunya menjaga iritasi dari gesekan terutama saat berhubungan seksual.” Bulu kemaluan juga memiliki fungsi mencegah kuman atau bakteri masuk secara langsung ke dalam alat vital. Jadi, memiliki bulu kemaluan sebenarnya adalah bentuk proteksi dan tak perlu dihilangkan – walaupun tak mengapa pula jika Anda ingin menghilangkannya. 

Adakah efek negatif dari mencukur bulu kemaluan?

Jawabnya, ada. Jika Anda melakukannya secara rutin atau terlalu sering, Anda bisa mengidap folikulitis (infeksi pada folikel rambut kemaluan) dan mencukur bulu kemaluan secara salah bisa menyebabkan radang atau inflamasi. Folikulitis terlihat seperti benjolan putih yang seringkali diakibatkan oleh teknik mencukur yang salah. Namun, jangan khawatir jika ini terjadi dengan Anda folitikus bisa diobati dengan salep atau antibiotik oral. 

Selain itu, mencukur bulu kemaluan yang salah juga bisa menyebabkan tumbuhnya bulu ke arah sebaliknya. Alih-alih tumbuh keluar kulit kelamin, bulu kemaluan justru tumbuh masuk ke dalam kulit sehingga menyebabkan benjolan dan iritasi. Untuk mencegahnya, gunakan krim hydrocortisone setelah mencukur bulu kemaluan. 

Bagaimana teknik mencukur yang benar? 

Pertama, Anda bisa menghilangkan bulu kemaluan dengan mandi air hangat terlebih dahulu. Di akhir waktu mandi, mulailah mencukur. Ini berguna untuk memberikan waktu pemanasan pada kulit dan folikel, membuka pori, dan melembutkan folikel sehingga membuatnya mudah untuk dicukur. 

Lalu, bersihkan area dengan pembersih bebas sulfat, lebih baik lagi yang mengandung hydrating oils seperti kelapa dan biji aprikot. 

Setelah itu, balurkan krim atau gel pencukur untuk melindungi kulit saat mencukur. Gunakan yang mengandung panthenol (zat yang membuat kulit dan sisa rambut yang ditinggalkan menjadi lebih lembut). 

Gunakan alat cukur yang memiliki satu pisau dan ganti secara berkala (setiap 10 kali pemakaian). Pisau cukur yang sudah tumpul bisa menyebabkan luka, benjolan, dan torehan. 

Cukur searah tumbuhnya bulu secara perlahan, ini bisa mencegah terjadinya bulu yang tumbuh secara berlawanan (ingrown hair).

Terakhir, berikan jeda waktu bercukur yang cukup. Misal, biarkan bulu tumbuh sampai batas garis bikini baru Anda mencukurnya kembali. Hal ini membuat kulit kelamin bernapas dan pulih pasca cukur. Kulit pun menjadi lebih lembut dan mudah dicukur kembali. 

 

 

 



Tanya Skata