Tentu saja bisa. Kentut memang selalu diasosiasikan berasal dari anus. Padahal, Vagina juga dapat mengeluarkan kentut yang istilah medisnya flatus vagina atau queefing. Berbeda dengan kentut pada umumnya yang dapat ditahan, kentut pada vagina keluar tanpa disadari. Meski kadang hanya “terasa”, kentut vagina ternyata juga dapat mengeluarkan bunyi, lho. Terbayang kan malunya bila vagina kentut berulang kali saat acara penting? Duh, Anda bisa jadi bulan-bulanan. Belum lagi, kalau dapat pasangan yang super sensitif soal ini, momen romantis bakal bubar.

Apa sih penyebabnya?

Kentut vagina kerap kali terjadi tanpa sebab yang jelas. Vagina dapat mengeluarkan kentut karena berhubungan dengan beberapa kondisi berikut:

1. Pengaruh usia 

Ternyata, kentut vagina justru lebih sering dialami wanita muda, lho. Tingginya kadar estrogen pada usia muda memengaruhi elastisitas vagina sehingga udara mudah terjebak di dalamnya. Menariknya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat kadar estrogen turun pasca menopause, kentut vagina tetap mungkin terjadi. 

2. Pengaruh berat badan

Berat badan yang cenderung kurus lebih mungkin menyebabkan kentut vagina.

3. Perubahan saluran reproduksi 

Perubahan bentuk organ reproduksi saat hamil dan setelah melahirkan normal juga dapat menjadi penyebab kentut vagina. 

Baca: Apakah Seks Oral Dapat Menularkan Virus?

4. Saat dan setelah hubungan seksual

Segala aktivitas seksual yang melibatkan vagina dapat menyebabkan kentut vagina, entah itu stimulasi seksual menggunakan jari, seks oral, penetrasi penis ke vagina, atau penggunaan mainan seks. Aliran udara dapat masuk saat vagina bertambah panjang atau semakin besar volumenya karena rangsangan seksual lalu udara keluar saat vagina kembali ke ukuran semula setelah aktivitas seksual berakhir.

5. Saat olahraga 

Beberapa olahraga semisal jogging, yoga, senam, atau sit up seringkali dikaitkan dengan kentut vagina. Kemungkinan udara masuk ke vagina saat posisi istirahat, kemudian keluar karena tekanan dalam perut meningkat atau perubahan posisi saat aktivitas fisik. 

6. Pasca tindakan tertentu ke vagina

Tidak hanya tindakan invasif seperti operasi Caesar atau pembedahan usus besar yang dapat menyebabkan kentut vagina, sekadar pemeriksaan spekulum yang dimasukkan melalui vagina atau aktivitas sehari-hari semacam penggunaan menstrual cup pun dapat menjadi sebab kentut vagina.

Kapan harus diwaspadai?

Kentut vagina dapat menjadi penanda beberapa penyakit atau kelainan sehingga harus diwaspadai bila disertai keluhan lain yakni:

1. Disertai rasa nyeri, baik di daerah saluran reproduksi, perut ataupun sampai ke dada. 

Nyeri dapat timbul karena ada proses peradangan atau infeksi di saluran reproduksi atau tumor dan keganasan di organ panggul.

2. Berbau, karena normalnya kentut vagina sama sekali tidak berbau

Kentut vagina berbau mungkin berhubungan dengan adanya fistel (celah) yang terbentuk antara vagina dan saluran kemih atau usus.

3. Terasa penuh atau teraba benjolan di dalam vagina.

Keluhan ini seringkali terjadi akibat lemahnya otot panggul atau turunnya peranakan.

4. Disertai dengan beser, sembelit, atau sulit menahan kentut (dari anus). 

Supaya vagina tidak mengeluarkan kentut..

Walaupun sebagian besar kentut vagina tidak berbahaya, tapi wanita mungkin malu dengan pasangannya atau justru pasangannya yang merasa tidak nyaman apalagi jika kentut vagina selalu terjadi tiap berhubungan seksual. Bila pemicunya adalah hubungan seksual, penting untuk selalu berkomunikasi saat hendak dan selama berhubungan seksual. Lakukan hubungan seksual dengan rileks, intim, dan tidak terburu- buru atau mungkin mencoba variasi seksual lain.

Selebihnya, kentut vagina dapat diatasi dengan beberapa pilihan alternatif penanganan yang disesuaikan dengan penyebabnya, yakni:

  • Pemakaian tampon
  • Penggunaan cincin pesarium yang dimasukkan ke dalam vagina
  • Fisioterapi dengan senam Kegel untuk memperkuat otot panggul
  • Pembedahan misalnya kolporafi untuk mengencangkan dinding otot vagina

Vagina sering kentut? Tenang, ini normal dan Anda tidak sendirian..Tapi segera konsultasi ke dokter kandungan bila ada tanda atau gejala waspada, ya. 

 

 

 

 

 



Tanya Skata