Menjelang 6 bulan usia bayi, Anda ingin memberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI) terbaik untuk Ananda. Dari hasil mencari tahu di dunia maya, Anda pun menemukan berbagai resep MPASI menggunakan bahan makanan impor dan organik. Sebut saja lemak tambahan seperti coconut oil (minyak kelapa), extra virgin olive oil (minyak zaitun ekstra murni), unsalted butter (mentega tawar),hingga cheese cube (keju mini berbentuk balok). Ini belum termasuk ikan salmon yang identik dengan bahan MPASI berkualitas. Tapi, apakah harga mahal dan label organik dan impor menjadi jaminan bahwa itu yang terbaik? Apakah kekayaan pangan lokal tidak cukup menjadi bahan MPASI berkualitas? 

Dalam menentukan bahan dasar MPASI, ahli nutrisi Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum menyarankan para ibu untuk memastikan jumlah kebutuhan makronutrien dan mikronutrien bayi pas dengan variasi dan kualitas bahan MPASI sehingga bisa mencegah kekurangan zat besi dan mineral yang dibutuhkan saat tumbuh kembang. Anak usia 6 bulan sudah bisa dikenalkan langsung dengan menu 4 bintang (karbohidrat, protein nabati, protein hewani, dilengkapi sayur dan buah). Apa saja bahan pangan lokal yang memenuhi syarat tersebut?

Baca: Jaga Asupan Gizi MPASI Selama #DiRumahAja

Ikan lele, contohnya. Tahukah Anda bahwa ikan lele memiliki kandungan protein yang tinggi? Ia juga mengandung vitamin B dan B12 yang baik untuk perkembangan otak dan produksi darah untuk bayi di tahapan perkembangan yang pesat. Tak kalah dengan ikan salmon, lele kaya akan asam lemak omega 3 yang bisa membantu mengatasi masalah neurologis dan mental termasuk ADHD. Menariknya lagi, ikan lele mudah didapat dan murah harganya. 

Selain itu, menurut WHO bahan terbaik untuk MPASI justru bahan lokal yang biasa dimasak di rumah seperti bayam, kangkung, wortel, atau jagung, dan tak perlu harus organik. Memang, bahan organik banyak dipilih karena menggunakan predator alami atau perangkap serangga untuk memberantas hama, alih-alih menggunakan pestisida sintetis. Tapi ternyata, penggunaan pestisida pada tanaman pangan umumnya tidak melebihi kadar yang dianjurkan pemerintah. Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal kandungan nutrisi yang terdapat dalam bahan makanan organik maupun non organik kecuali pada susu organik yang memiliki kandungan asam lemak Omega 3 yang lebih tinggi sebagai perlindungan dari penyakit jantung. 

Bagaimana dengan kandungan lemak? Tambahan lemak untuk menggenjot nutrisi anak juga tak perlu berlebihan. Misalnya, mentega, keju, dan extra virgin olive oil pada makanan yang sudah mengandung protein hewani yang berlemak (seperti kuning telur, ikan laut dalam) tidak perlu dilakukan. Tambahan lemak yang terbaik adalah menggunakan sumber lemak non olahan seperti santan dari kelapa asli dan lemak yang terdapat dari hati ayam. Begitu pula dengan tempe dan kacang-kacangan. Di dalamnya sudah terkandung lemak yang cukup. 

Selaras dengan hal tersebut,  sebuah riset di Amerika tentang pemberian makanan bayi dan anak (Feeding Infants and Toddlers Study) yang diadakan tiap 6 tahun sekali, menunjukkan bahwa sumber lemak seperti mentega, keju, dan minyak zaitun murni atau extra virgin olive oil yang dielukan di Indonesia ternyata sudah tidak dianjurkan lagi. Karenanya, kombinasikan sumber lemak sehat dari berbagai bahan makanan untuk membuat MPASI yang berkualitas. 

Perlu dipahami juga, bahwa pemberian makan bayi dan anak tidak semata untuk memenuhi kebutuhan nutrisi demi mencegah stunting atau gizi buruk, tapi juga membentuk pola makan di usia selanjutnya. Itulah mengapa di negara maju, pemberian sayur dan buah bukan sekedar pemenuhan kebutuhan serat, namun pembiasaan karena di usia yang lebih besar ia harus mengonsumsinya dengan jumlah yang lebih banyak. Jadi, kembali ke menu rumahan dengan bahan yang murah (bukan murahan) bisa tetap menjadi solusi untuk MPASI terbaik Ananda. 

 

 

 

 



Tanya Skata