Setiap kali mendengar kata diet yang ada di benak kita adalah mengurangi porsi makan supaya badan kurus. Padahal diet tak semata-mata demikian. Diet yang benar adalah mengatur pola makan supaya jumlah dan jenis zat gizi sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan gizi tidak dapat disamaratakan pada semua orang karena bergantung pada usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, kondisi lingkungan (cuaca dan iklim), serta aktifitas fisik. 

Diet dan sistem imun

Baik makronutrien maupun mikronutrien sama-sama dibutuhkan dalam sistem imun. Protein sebagai zat gizi makro terlibat dalam sistem imunitas humoral karena membentuk antibodi, ‘tentara tubuh’ yang akan menyerang antigen penyebab penyakit. 

Zat gizi mikro pun tak kalah pentingnya dalam sistem imunitas seluler sekaligus berfungsi sebagai antioksidan yang bekerja menangkal radikal bebas. Ada vitamin A, C, D, dan E dari jenis vitamin serta selenium, zat besi, dan zinc dari golongan mineral yang memperkuat daya tahan tubuh. Kedua zat gizi ini pun saling berhubungan satu sama lain dalam menjalankan fungsinya. Semisal kolesterol yang merupakan turunan lemak dibutuhkan untuk membentuk vitamin D, vitamin D pun butuh lemak supaya dapat diserap tubuh.

Sistem imun juga terbantu dengan adanya kandungan serat dalam sayur dan buah yang berperan dalam metabolisme saluran cerna serta melindungi tubuh dari ancaman penyakit kronis dan kanker. 

Salah kaprah mengenai pemahaman diet

1. Diet = tidak makan malam

Bila Anda memaksa mengurangi frekuensi makan, percayalah porsi makan Anda pada jadwal makan berikutnya menjadi lebih besar. Selain itu, tidur Anda tidak nyenyak karena menahan lapar lalu tidak segar saat bangun pagi. Pola tidur yang terganggu juga akan membuat Anda rentan terkena infeksi virus.

2. Diet = hanya ngemil 

Jika Anda tidak ‘makan berat’, Anda akan berusaha membuat diri Anda kenyang dengan lebih sering ngemil. Bukannya mendapati berat badan ideal, alih-alih berat badan menjadi melonjak naik. Kenapa? Ya, karena baik makanan atau minuman ringan mengandung kadar gula atau garam tinggi. 

3. Diet = no carbo, no fat

Rekomendasi gizi seimbang justru menekankan pentingnya mengonsumsi semua aneka ragam makanan agar mendapat variasi zat gizi. Menghindari zat gizi tertentu dapat berdampak buruk pada kesehatan. Contohnya, sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat akan membuat Anda lemas tak bertenaga, sementara nihilnya lemak dalam makanan dapat menggangu penyerapan beberapa vitamin yakni A, D, E, dan K. 

4. Diet = pengganti olahraga

Ada anggapan bahwa kalau sudah diet maka tidak perlu lagi olahraga. Padahal, diet dan olahraga tidak dapat saling menggantikan karena keduanya menunjang kesehatan tubuh dari aspek berbeda. Walaupun Anda sedang diet, tetap dianjurkan melakukan aktivitas fisik.

Diet dan puasa

Puasa dapat dilakukan sebagai bagian dari diet. Dari penelitian ditemukan bahwa intermitten fasting termasuk saat bulan Ramadhan adalah immune booster terbukti dari penurunan kadar sitokin pro inflamasi penyebab peradangan penyakit. Tentunya, asal tetap memperhatikan pola makan saat sahur dan berbuka puasa.

Diet yang sehat itu..

1. Lebih baik memilih makanan segar (bukan produk olahan). Ingat bahwa jumlah kalori dalam makanan cepat saji, makanan beku, atau produk olahan umumnya relatif lebih tinggi

2. Perbanyak porsi sayur dan buah

3. Membatasi konsumsi gula maksimal 4 sendok makan per hari 

4. Membatasi pemakaian garam maksimal 1 sendok teh per hari

Semoga informasi di atas bisa membuat Anda memilih pola makan sehat dibandingkan sekadar menurunkan berat badan, ya!

 

 

Referensi:

Pedoman Diet Seimbang Kementerian Kesehatan