Sebagai orang tua, memiliki anak berprestasi dan berkelakukan baik adalah idaman. Sayangnya, upaya Anda untuk memotivasi anak kerap berujung pada membandingkan anak. Secara tidak sadar, seringkali Anda ingin anak memiliki kelebihan seperti kakaknya, adiknya, atau bahkan anak lain. Ucapan seperti, “Tuh Sya, liat deh Andira.. Umurnya sama kaya kamu, tapi dia udah khatam Qur’an lho..” atau sekadar “Kakak nilainya nggak pernah dibawah 8, kamu juga bisa dong, Dek!” Walaupun niat hati baik, ingin menguatkan tekad dan memicu semangat, namun ucapan seperti ini justru berefek sebaliknya. 

Baca : 7 Cara Mencegah Persaingan Kakak Adik Saat Remaja

Meskipun Anda tidak bermaksud demikian, hal yang sebenarnya manusiawi ini harus Anda hentikan. Kenapa? dampak membandingkan anak ternyata tidak main-main: 

  1. Anda akan kehilangan pandangan akan kemampuan dan keunikan anak 
  2. Membuat anak kurang percaya diri sehingga merasa tidak mampu melakukan apa-apa termasuk membahagiakan Anda
  3. Meningkatkan kecemasan anak 
  4. Menumbuhkan kebencian pada sosok yang dibandingkan dengannya (dan mungkin juga pada Anda yang sering membandingkannya dengan anak lain)
  5. Akan sulit bersosialisasi di lingkungan sekitar
  6. Timbulnya depresi ketika anak dewasa 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Alexander C. Jensen dari Brigham Young University dan Susan M. McHale Jensen dari The Pennsylvania State University, menunjukkan bahwa kepercayaan orang tua berdampak positif pada performa akademik anak. Mereka lebih percaya diri dalam meningkatkan performa akademis dan seringkali lebih unggul. 

Sebaliknya, jika orang tua membandingkan anak dan sang anak dianggap lebih buruk, ia bisa merasa gagal padahal bisa jadi anak tersebut memiliki keunggulan di bidang lain. Dampak lain, ia akan sulit berhasil di bidang hidupnya karena dipenuhi keraguan, bahkan sebelum mencoba sesuatu. Akhirnya, anak ini akan memilih untuk mundur karena takut gagal. 

Baca: Rumus Empat "Si" untuk Atasi Pertengkaran Kakak Adik

Lalu apa yang harus dilakukan?

Pertama, stop melihat orang lain dan fokus pada anak. Terkadang, Anda terlalu sibuk mencari kelebihan orang lain sebagai motivasi sehingga lupa ada kemungkinan anak memiliki prestasi di bidang lain yang belum sempat Anda (atau ia) selami. Ketika anak dirasa kurang mampu mendalami matematika, tak usah gusar. Coba perhatikan mata pelajaran lain yang ia senangi atau memiliki nilai lebih. Jika memang anak perlu mengejar nilai, maka coba untuk berikan pelajaran tambahan untuk meningkatkan motivasi dan kuantitas belajarnya. Perlu diingat, ini bukan ambisi semata namun sebatas mencukupi nilai yang dibutuhkan. 

Kedua, percaya akan kemampuan anak. Semua anak dilahirkan unik dan memiliki kelebihan di bidangnya masing-masing. Anda mungkin belum melihatnya sekarang, tapi suatu saat nanti percayalah ia akan hebat di bidang yang ia senangi. Terus motivasi anak untuk mencari tahu apa bakatnya dan keinginannya. Jangan batasi imajinasi, namun tetap bentengi dengan aturan. Misal, anak senang sekali bermain game di komputer. Jangan langsung menghakimi dengan mengatakan bermain hanya membuang waktu karena bukan tak mungkin ia bisa menjadi seorang gamer sukses. Hanya saja, Anda dan anak perlu membuat aturan screen time yang disepakati bersama. 

Baca: Remaja Tak Punya Semangat Berprestasi, Coba Ubah Sudut Pandang Anda

Bagaimana jika terlanjur membandingkan anak? 

Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog menyarankan orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut ketika menyadari dampak negatif membandingkan anak. Kemudian, buka hati dan katakan pada anak, “Sebenernya ibu merasa bersalah dulu pernah ngomong seperti itu.” Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf. 

Anda juga bisa menjelaskan pada anak bahwa membandingkan adalah cara yang tidak tepat dan tak seharusnya dilakukan. Komunikasikan bersama, bagaimana cara anak ingin dimotivasi dan berikan semangat agar ia percaya diri dalam berkarya. Apresiasi apa yang sudah ia capai, walau belum maksimal. Hargai prosesnya dan nikmati hasilnya bersama. Anak akan merasa dihargai dan percaya diri untuk terus berusaha tanpa perlu dibandingkan dengan yang lain. 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata