“Bunda, tadi waktu adek ngerjain ulangan matematika, ada temen adek yang minta contekan ke adek. Adek bingung harus gimana, rasanya deg-deg an banget Bunda. Aku inget kata Bunda kalau nyontek itu ga jujur ya Bunda, tapi aku juga kasihan sama temenku yang ga bisa ngerjain. Aku pengen bantu dia”. 

Pernahkah Anda berhadapan dengan situasi seperti ini dan bingung bagaimana cara mengajarkan anak untuk memegang nilai-nilai yang baik dan benar? Tentunya sebagai orang tua, kita sangat mengharapkan anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang memiliki prinsip nilai yang benar. Warisan nilai untuk anak-anak merupakan harta berharga yang tidak ternilai dibandingkan warisan berupa harta kekayaan. Namun, terkadang lingkungan terdekat anak, bisa sekolah, tempat tinggal, atau keluarga besar, tidak memiliki nilai yang sama. Prinsip yang Anda pegang erat sepertinya bukan hal penting bagi lingkungan Anda. 

Baca: Kenapa Nilai Keluarga Itu Penting?

Apa yang harus dilakukan ketika nilai keluarga bertentangan dengan nilai orang lain?

Orang tua bukan satu-satunya sumber bagi anak untuk belajar mengenal nilai, teman juga memberi pengaruh terhadap nilai yang dipegang oleh anak. Anak remaja biasanya mulai mempertimbangkan nilai yang ditemui di pergaulannya. Di masa ini, anak mulai mengembangkan pandangannya terhadap dunia dan hal ini adalah hal yang wajar.

Apakah ada kemungkinan anak untuk mengikuti nilai yang bertentangan dengan nilai keluarganya?

Hal ini tergantung dengan kedekatan anak dengan Anda. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan orang tua dengan anak, anak akan mampu menyaring nilai-nilai yang ada dan disesuaikan dengan nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya. Kuncinya adalah “be present”, yaitu memastikan Anda selalu ada ketika anak ingin mengungkapkan perasaannya, pendapatnya dan menjadi tempat yang aman baginya untuk bercerita. Trust (rasa percaya) dan penerimaan akan terbentuk ketika keluarga menjadi tempat yang aman bagi anak. 

Tidak semua orang memiliki nilai yang sama dengan keluarga Anda dan tidak semua orang memahami nilai keluarga Anda. Contoh nyata yang mungkin sering dihadapi adalah saat anak main di rumah kakek dan neneknya. Saat Anda dan pasangan sedang menanamkan nilai kejujuran pada anak, Kakek diam-diam memberikan permen kesukaan anak sambil berkata, “Jangan bilang Ayah dan Bunda kalau kakek kasih permen, ya?”. Ada rasa kesal dan jengkel yang mungkin tidak terungkapkan pada kakeknya anak-anak. Apa yang dapat Anda lakukan ketika menghadapi hal ini?

Baca: Remaja Berbohong, Mungkinkah Dideteksi?

  • Jika hal ini terjadi di lingkungan yang dekat dengan Anda, komunikasikan dengan baik nilai yang sedang Anda ajarkan pada anak. Hal ini bertujuan untuk membantu keluarga dekat mengetahui nilai yang sedang diajarkan pada anak dan justru turut mendukung tertanamnya nilai tersebut pada anak.
  • Ajak anak untuk berdiskusi terkait apa yang terjadi tanpa ‘judgement’ (menjelekkan Kakek, teman yang minta contekan, atau pihak yang memiliki nilai berbeda), melainkan dengan penerimaan. Kemudian, diskusikan apa yang akan dilakukan jika hal tersebut terjadi kembali.
  • Apresiasi keterbukaan anak. Seperti kasus pertama soal memberi contekan, hargai kemauan anak untuk menceritakan kebingungannya pada Anda. Apresiasi positif semacam ini akan membuatnya tidak kapok bercerita tentang situasi “genting”nya pada Anda. 

Mungkinkah kita mengkompromikan nilai keluarga? 

Nilai keluarga dapat berubah seiring waktu, usia, dan pengalaman. Beberapa nilai keluarga menjadi kurang penting sementara nilai lainnya semakin penting. Misalnya, ketika anak-anak masih balita, beberapa orang tua mungkin berharap anak-anak tidak terlalu aktif dan lebih penurut; saat anak-anak tumbuh menjadi remaja, orang tua yang sama ini mungkin sangat berharap anaknya memiliki energi, keingintahuan, dan inisiatif.

Perubahan nilai keluarga biasanya terjadi saat anak tumbuh menjadi remaja. Anak remaja seringkali mengekspresikan kemandirian mereka yang mulai berkembang dan mempertimbangkan kembali nilai-nilai keluarga yang telah ditanamkan. Tugas orang tua dalam masa ini adalah menemani dan membimbing anak remaja dalam menemukan nilai-nilai pribadinya yang disesuaikan dengan nilai keluarga. Bagaimana caranya? 

1. Ajak anak untuk mengidentifikasi, memahami, mempertanyakan, dan menciptakan nilai yang diyakininya. 

2. Diskusikan bersama batasan yang jelas sebagai bentuk kompromi menggunakan prinsip T-H-I-N-K:

  • T : is it TRUE ? Apakah hal ini benar?
  • H : is it HELPFUL? Apakah hal ini dapat bermanfaat untuk dirimu?
  • I  : is it INSPIRING? Apakah hal ini dapat menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik?
  • N : is it NECESSARY? Apakah hal ini penting untuk dilakukan?
  • K : is it KIND? Apakah hal ini membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik?

3. Jadilah teman yang nyaman bagi anak remaja untuk berdiskusi

Dengan langkah tersebut, Anda akan mengetahui perubahan pola pikir dan sudut pandang anak seiring dengan pertambahan usianya, serta tidak kaget dengan nilai-nilai yang mendasari perubahan perilakunya.

 

 

 

 

 



Tanya Skata