“Nak, jangan mainan air ah, becek kemana-mana!”

 

“Jangan lompat-lompat di tempat tidur, nanti jatuh!”

“Nggak boleh ini, nggak boleh itu, semua dilarang. Ibu nggak fun!” Mungkin ini yang ada di benak anak-anak ketika (sebenarnya) Anda ingin menyampaikan kebaikan. Tidak boleh main air, supaya tidak terpleset. Jangan lompat di tempat tidur supaya tidak terjatuh. Sebenarnya, semua kata “jangan” adalah demi keselamatan dan kebaikan anak. Sayangnya, anak mengartikan kata “jangan” sebagai hambatan untuk bereksplorasi. Anda pun pada satu titik bisa merasa bersalah dan lelah karena terlalu sering berkata “jangan”. Apalagi, jika anak mulai merasa terkekang dengan segalan larangan Anda.

Inilah yang menjadi latar belakang dari film Yes Day. Film yang berkisah tentang orang tua yang sering berkata “jangan” pada ketiga anak mereka hingga mendapat saran dari guru sekolah sang anak untuk melonggarkan aturan karena anak-anak mereka merasa tertekan. Untuk membuktikan bahwa ayah dan ibu tidak sekejam itu, mereka pun sepakat mengadakan “Yes Day”, di mana orang tua akan berkata “ya” pada semua keinginan anak.

Terdengar menantang, patutkah dicoba?

Setiap keluarga memiliki nilai keluarga atau family values. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dilonggarkan jika sudah menyangkut prinsip. Di dalam film berjenis komedi ini, permintaan anak memang dibuat ekstrim untuk memancing tawa. Makan eskrim tanpa batasan, memakai kostum konyol di tempat umum, atau membuka jendela saat mobil sedang dicuci. Jika memang Anda ingin melakukan “Yes Day”, tentu saja Anda harus pastikan apa yang anak inginkan tidak akan melanggar nilai keluarga. Selain itu, pertimbangkan beberapa hal ini.

Pertama, evaluasi diri.

Jika Anda merasa anak tertekan karena Anda dan pasangan terlalu banyak berkata “jangan”, mungkin ini saatnya Anda melakukan refleksi diri, poin apa saja dari aturan untuk anak yang perlu Anda benahi. Mungkin, anak merasa tidak nyaman bukan karena larangan, tapi kara cara bicara Anda. Agar tidak terkesan semena-mena melarang anak, Anda bisa berdiskusi dengan anak untuk menentukan kesepakatan bersama.

Baca: Jangan Otoriter, Yuk Ubah Aturan Jadi Kesepakatan Bersama

Kedua, lihat apa keinginan anak yang biasa Anda tolak.

Apakah makan snack kemasan, junk food, es krim? Main gadget lama-lama? Lompat-lompat di kasur? Beli mainan idaman? Sebelum memutuskan untuk “Yes Day”, pastikan Anda bisa memenuhi permintaan anak tanpa harus membahayakan kesehatannya maupun kesehatan kantong Anda. 

Ketiga, tentukan tujuan Anda.

Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, tanya pada diri sendiri, apa tujuannya? Apakah untuk membuktikan Anda tidak otoriter, untuk menyenangkan hati anak. atau untuk menunjukkan pada anak konsekuensi dari perbuatannya? Terkadang, membiarkan anak melakukan apa yang ia inginkan dan bertanggung jawab atas keinginannya bisa menjadi pelajaran yang baik untuknya. Sesekali mereka perlu diberikan kebebasan bertidak dan menerima konsekuensi atas tindakannya.

Baca: Tidak Harus Hukuman, Cara Ini Lebih Efektif Agar Remaja Tidak Mengulang Perbuatannya

“Wah, nanti jadi kebablasan! Kalau minta yang aneh-aneh, gimana dong?”

Karena itu, langkah keempat adalah menentukan aturan. Jika Anda sudah yakin bahwa "Yes Day" ini besar manfaatnya bagi anak dan Anda, diskusikan syarat dan aturan "Yes Day" bersama anak. Di dalam film misalnya, syarat "Yes Day" adalah dalam seminggu terakhir anak-anak harus mengejar nilai yang tertinggal. Rumah harus dalam keadaan rapi dan bersih.  

Setelah itu, ada beberapa aturan yang harus disepakati. Contohnya, anak boleh meminta melakukan apapun kecuali membeli sesuatu atau bepergian jauh. Jika membeli sesuatu diperbolehkan, tentukan budgetnya. Selain itu, permintaan juga harus dalam ranah aman, ya. Bukan berarti Anda membolehkan mereka bermain petasan banting di dalam rumah! Ingat, semua aturan ini harus ditetapkan dengan kesepakatan bersama dan tidak menyalahi nilai keluarga.

Jangan lupa, lakukan di hari libur agar semua anggota keluarga bisa merasakannya. Selain itu, Anda tak perlu risau harus mengejar pelajaran anak yang tertinggal akibat bolos sekolah.

 

 



Tanya Skata