Dalam ilmu parenting, berbagai cara orang tua mendidik anak bisa dikelompokkan ke dalam 4 tipe pola asuh yaitu otoriter, permisif, abai, dan otoritatif (apresiatif). Meskipun orang tua zaman now banyak yang sudah menyadari betapa gaya otoriter merenggangkan hubungan dengan anak, namun mengubah pola pola pikir dan perilaku agar tidak “main perintah dan main hukum” seperti generasi terdahulu bukanlah hal mudah. Padahal, mendisiplinkan anak tidak harus dengan kekerasan. Mengubah aturan menjadi kesepakatan bersama adalah kuncinya.

Baca: Tipe Gaya Asuh yang Perlu Orang Tua Ketahui 

Menurut pakar pendidikan Imelda Hutapea, M.Ed, dalam upaya mempraktikan kendali atau otoritas, orang tua perlu membuat kesepakatan bersama dengan anak. 

“Dulu, hal semacam ini sering disebut peraturan keluarga. Tapi dalam kacamata orang tua apresiatif, kita gunakan istilah kesepakatan bersama. Mengapa? Karena kita menentukan peraturan ini bersama dengan anak, dan kesepakatan ini mengikat orang tua juga. Misalnya, bila kita pulang terlambat harus saling memberi tahu, baik anaknya maupun orang tuanya. Jadi, orang tua harus memberi contoh dan harus konsekuen. Jika tidak dilakukan, tentukan konsekuensinya. Orang tua apresiatif enggak cuma nyuruh, tapi juga mau ikut andil,” jelasnya dalam Workshop Nasional 1001 Cara Bicara yang diadakan oleh Skata dan BKKBN. 

Apa saja yang perlu dibuat menjadi kesepakatan bersama?

Imelda menyarankan untuk berangkat dari hal yang paling sering menimbulkan konflik di rumah. Misal, jika anggota keluarga sering lupa mengembalikan barang ke tempatnya, hal tersebut bisa dibuat kesepakatan bersama. Remaja yang sering pulang terlambat karena keasyikan nongkrong dengan temannya sepulang sekolah, kakak dan adik yang sering bertengkar, juga bisa jadi alasan kuat untuk dibuatnya kesepakatan bersama.

Mengapa kesepakatan bersama lebih baik dari aturan sepihak?

Kesepakatan bersama merupakan cara orang tua menerapkan pola asuh yang efektif dan menumbuhkan disiplin positif. Disiplin positif membuat anak memahami bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi, sehingga mereka berusaha untuk tidak mengulangi hal tersebut. Sementara itu, aturan sepihak biasanya disertai dengan hukuman yang seringnya tidak ada hubungannya dengan jenis kesalahan yang anak perbuat. Efeknya, anak patuh hanya karena takut dan tidak memahami tujuan di balik aturan tersebut.

Baca: Tidak Harus Hukuman, Cara Ini Lebih Efektif agar Remaja Tidak Mengulang Kesalahannya

Jadi, kesepakatan bersama ibaratnya adalah alat bagi orang tua yang memiliki otoritas. Seandainya orang tua terpaksa memarahi anak, kesepakatan bersama bisa menjadi dasarnya. 

Agar efektif, penuhi syarat membuat kesepakatan bersama berikut ini:

1. Harus berupa pernyataan positif

Hindari menggunakan kata “jangan” anak belum tentu mengerti perilaku yang orang tua harapkan. Misal, balita akan bingung ketika diminta untuk “jangan berteriak” karena bisa saja ia bingung cara menunjukkan keinginan, apakah harus diam saja, berbisik, ataukah langsung mengambil apa yang diinginkan. Remaja tidak akan menggubris perintah “jangan merokok” karena ia akan berpikir, kalau aku merokok memang kenapa? Lengkapi kalimat menjadi “merokok membuat paru-paru sakit”. Jadi, usahakan anak langsung menangkap maksud orang tua. 

2. Batasi jumlah kesepakatan 

Terlalu banyak kesepakatan membuat anak berpikir “apa-apa enggak boleh”. Karena itu, batasi aturan bersama maksimal 5 butir saja. Hal ini akan lebih realistis untuk dilakukan dan tidak membuat orang tua lelah “memonitor” perilaku anak. 

3. Fokuskan pada hasil yang bertahan jangka panjang

Dengan membatasi jumlah kesepakatan bersama, orang tua harus bisa memprioritaskan hal apa yang akan dijadikan kesepakatan bersama. Jika bingung, tengok kembali nilai keluarga Anda. Apakah karakter yang Anda harap dimiliki oleh anak? Fokuskan pada hal tersebut karena hasilnya diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang. 

4. Harus ada relasi ayah, ibu, anak

Kesepakatan bersama mengikat seluruh anggota keluarga, bukan hanya anak saja. Karena itu, buat kesepakatan di mana ayah, ibu, anak memungkinkan untuk menjalankannya.

5. Refleksi dan tinjau kembali

Usahakan agar kesepakatan bersama tidak terlalu saklek. Artinya, jika sering dilanggar berarti Anda harus melakukan refleksi dan evaluasi atas poin kesepakatan bersama tersebut. Perlu dibicarakan kembali apa yang sebenarnya perlu disepakati.

6. Jika terjadi pelanggaran, ada tindakan

Ya, konsekuensi (bukan hukuman, ya) tetap dibutuhkan. Tujuannya tentu agar setiap anggota keluarga menyadari di mana letak kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Baca: Cara Merespon Konflik dengan Remaja, Anda yang Mana? 

Inilah beberapa contoh kesepakatan bersama:

1. Mari kita merapikan kamar, barang, dan mengingat tugas harian masing-masing

2. Saling mengabari saat di luar rumah

3. Menyapa anggota keluarga jika sudah sampai di rumah

4. Belajar, bekerja, dan bermain sesuai jadwal

5. Makan mi instan dan junk food hanya saat akhir pekan

Nah, sudah siap mengubah berbagai aturan yang Anda buat untuk anak? 

 



Tanya Skata