Blighted ovum atau kehamilan anembrionik adalah kondisi saat kantung janin terbentuk namun tidak terbentuk embrio (hamil kosong). Cepat atau lambat, blighted ovum akan berakhir dengan keguguran. Sampai saat ini belum diketahui apa yang menyebakan terjadinya blighted ovum. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan hamil kosong, yakni:

  • Pengaruh genetik (gangguan kromosom)
  • Gangguan di saluran reproduksi wanita misanya adanya infeksi atau kelainan bentuk uterus yang dapat mengganggu penempelan dan perkembangan cikal bakal janin
  • Penyakit imun yang menyebabkan penolakan tubuh ibu terhadap embrio 
  • Kondisi hormonal yang membuat kualitas sperma atau sel telur kurang baik

Bagaimana membedakan blighted ovum dengan kehamilan normal?

Sama seperti kehamilan normal, hasil test pack pada blighted ovum juga menunjukan hasil positif. Layaknya kehamilan normal, pada blighted ovum juga dapat dirasakan keluhan terlambat haid, mual, payudara membesar, atau terasa tegang. 

Tentu saja, sulit untuk memastikan kehamilan berjalan normal atau tidak berdasarkan keluhan subjektif saja apalagi pada beberapa pasien justru tidak muncul keluhan apapun. Di sinilah pentingnya pemeriksaan USG. Blighted ovum baru akan ketahuan saat pemeriksaan USG, yang tidak menampakkan gambaran embrio di dalam kantung janin yang sudah berdiameter 1,5-2,5 cm atau lebih. 

Apabila hasil USG meragukan, pasien akan dianjurkan USG berkala untuk melihat perkembangan janin. Bila ada gambaran yolk sac (kantung kuning) tapi tidak tampak embrio pada hari ke 11 atau tidak tampak yolk sac maupun embrio pada hari ke 14 terhitung sejak USG awal, maka pasien didiagnosa mengalami blighted ovum. Sebagai tambahan, pasien juga dapat dianjurkan pemeriksaan hormon (hCG serial) yang akan menunjukkan penurunan kadar hormon jika memang terjadi blighted ovum. 

Saat terdiagnosa blighted ovum, harus bagaimana?

Apabila ibu tidak mengeluhkan gejala apapun, pasien akan diobservasi karena umumnya blighted ovum akan berakhir dengan keguguran spontan pada usia kehamilan 8-13 minggu. Keguguran yang terjadi ditandai dengan kram pada perut bawah atau perdarahan vagina.

Jika cikal bakal janin sudah meluruh sebagian, dokter akan meresepkan obat pemicu kontraksi supaya meluruh total. Perlu pemeriksaan USG dan/atau hCG serial untuk memastikan kondisi rahim. Bila masih ada sisa setelah diberi obat atau selama masa observasi muncul keluhan yang dirasa sangat menganggu, dokter kandungan akan menyarankan agar dilakukan kuret. Sebelum dilakukan tindakan, dokter akan menjelaskan risiko kuret yang mungkin terjadi antara lain adanya infeksi, perdarahan hebat akibat robekan rahim, sampai efek samping pembiusan. 

Kalau dibiarkan saja, apa bahayanya?

Jika diabaikan, blighted ovum akan menyebabkan perdarahan vagina terus menerus yang menyebabkan anemia, terjadi infeksi, atau berdampak pada terganggunya psikologis. Anda perlu waspada bila mengalami salah satu kondisi sebagai berikut:

  • Tiba-tiba volume darah sangat banyak sampai ganti pembalut tiap setengah jam selama 2 jam berturut-turut
  • Demam 
  • Perubahan emosional yang tidak dikontrol

Sayangnya, blighted ovum sulit sekali untuk dicegah dan dapat terulang pada kehamilan berikutnya. Tapi tetap ada peluang untuk hamil normal kok, Bu. Tunggu minimal 3 bulan setelah keguguran supaya fisik dan mental stabil dulu sebelum merencakan kehamilan kembali, ya.

 

 



Tanya Skata