Obat tradisional atau herbal biasanya lebih disukai karena dianggap lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping. Ibu hamil pun sering mengonsumsinya karena menganggap “obat kimia” dapat memengaruhi perkembangan janin. Ingin tetap fit dan sebagai pengobatan penyakit merupakan tujuan penggunaan obat tradisional. 

Amankah konsumsi herbal saat hamil?

Ada beberapa jenis herbal yang relatif aman dan sering digunakan selama kehamilan. Jahe contohnya. Bahan alami ini sering direkomendasikan bila ada keluhan mual dan muntah selama kehamilan. Jahe bekerja dengan cara menghambat neurotransmitter (yang menghantarkan sinyal antar sel saraf) otak yakni asetilkolin dan serotonin sehingga mengurangi gerakan otot saluran cerna. 

Selain itu, ada Echinacea yang digunakan sebagai immune booster (penguat sistem imun). Produk herbal ini umumnya digunakan selama flu atau radang tenggorokan. 

Bahan tradisional lainnya adalah teh. Teh sangat baik untuk kesehatan karena mengandung antioksidan serta dianggap lebih aman karena pengaruh kandungan zat aktifnya sangat minimal ke embrio/janin.

Apakah semua herbal aman untuk ibu hamil? 

Belum tentu. Penelitian mengenai efek obat terhadap kehamilan sangat sedikit sekali, apalagi yang meneliti khusus tentang herbal atau obat tradisional. Walaupun obat tersebut berasal dari bahan alam, tetap saja dapat menyebabkan efek samping. Misalnya, teh dapat menyebakan anemia karena menghambat penyerapan zat besi. Apalagi, bila dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan kecacatan janin. 

Prinsip kehati-hatian harus selalu dikedepankan dengan mempertimbangkan efek obat terhadap kehamilan dan janin. Jangan salah lho, herbal dapat terkontaminasi dengan logam atau sengaja dicampur dengan ‘obat kimia’ yang dapat memperparah keluhan Anda atau justru menimbulkan penyakit baru.

Baca: Apa Saja Gangguan Vagina pada Ibu Hamil?

Tapi, saya biasa kok konsumsi herbal jenis ini sebelum hamil...

Meski sebelumnya tidak menimbulkan keluhan apapun, bukan berarti herbal tersebut juga memberikan respon yang sama saat Anda hamil. Perubahan tubuh dan perubahan hormonal selama kehamilan tentu dapat memberikan reaksi berbeda terhadap obat yang sama. 

Tips sebelum mengonsumsi herbal

• Pastikan untuk selalu mengecek status herbal yang akan dikonsumsi, apakah sudah terdaftar di BPOM dan tidak ada larangan untuk ibu hamil. 

• Gunakan herbal sesuai petunjuk pemakaian karena tiap merek bisa berbeda dosis obatnya dan mungkin saja ada campuran dengan bahan lain (tidak mengandung satu zat aktif tunggal). 

• Jangan sembarangan mengonsumsi herbal jika ada “obat kimia” yang rutin dikonsumsi karena dapat menyebabkan interaksi antar obat. 

• Anda juga perlu hati-hati bila ada riwayat penyakit penyerta karena obat tradisonal dapat memperburuk kondisi Anda. Contohnya, jahe tidak disarankan dikonsumsi pada pasien dengan riwayat batu empedu karena jahe dapat merangsang produksi empedu. Jahe juga tidak boleh dikonsumsi pada pasien dengan riwayat keguguran atau perdarahan vagina karena jahe terbukti dapat menimbulkan efek samping perdarahan vagina. Atau, echinacea yang tidak boleh dikonsumsi oleh penyandang autoimun karena dapat memicu serangan akut.

• Agar tidak mempengaruhi persalinan, konsumsi herbal sebaiknya dihentikan 2 minggu sebelum hari perkiraan lahir.

• Supaya lebih tenang saat mengonsumsi herbal, sampaikan keputusan maupun keluhan Anda pada dokter mengenai penggunaan herbal tersebut. Jika tersedia dan sesuai indikasi medis, dokter tentu tidak keberatan meresepkan obat berbahan herbal. 

Tahukah Anda, bahwa posisi obat tradisional pun ada yang menyamai ‘obat kimia’? Jenis herbal ini disebut fitofarmaka. Artinya, obat tersebut sudah melalui uji klinis dan telah diketahui dosis keamaan maupun efek sampingnya dengan jelas. Tapi di sisi lain, ada obat tradisonal yang tidak dapat menggantikan fungsi ‘obat kimia’ dan kadang ada yang dapat digunakan secara berbarengan.

Jadi, pastikan Anda mengetahui dengan baik apapun yang akan dikonsumsi saat hamil agar kehamilan selalu terjaga kondisinya.

 

 



Tanya Skata