“Kenapa sih, remaja zaman sekarang hobinya TikTok-an terus? Giliran disuruh belajar nggak semangat. Padahal ya, dia bisa lho ngulang gerakan dance TikTok berkali-kali sampe perfect. Tapi, ngerjain tugas sekolah ala kadarnya. Gimana bisa berprestasi?” 

Keluhan semacam ini mungkin sering dilontarkan oleh orang tua yang memiliki anak remaja. Kebanyakan orang tua pasti cemas jika anak tidak semangat belajar. Misalnya pun tidak semangat mengejar nilai bagus, setidaknya ia memiliki bakat yang selalu diasah sehingga tetap bisa berprestasi. Main musik kah, basket kah, menulis kah, apapun itu asal bukan kegiatan yang (bagi orang tua) sekadar hobi dan buang waktu seperti main medsos atau game online. Padahal, belum tentu anak tidak belajar apapun dari hal yang orang tua anggap buang waktu tersebut. 

Baca: Manfaat di Balik Kpop, TikTok, dan Tren Remaja Masa Kini Lainnya

Remaja bisa belajar dari banyak hal

Gina S. Noer, sutradara sekaligus penulis skenario film Dua Garis Biru yang juga ditujukan untuk orang tua remaja, mengungkapkan bahwa ia dulu tidak terlalu berprestasi (secara akademis), mencoba banyak hal, keluar masuk les, keluar masuk ekskul, namun orang tuanya membiarkannya saja. Ternyata, kini ia baru menyadari bahwa hal-hal tersebut juga merupakan proses belajar yang efektif untuk mengasah keahlian dari nol hingga akhirnya memiliki prestasi. Melihat secara garis besar dari berbagai hal yang dicoba, kemudian menghubungkan keahlian-keahlian yang ia dapat, ternyata membutuhkan kemampuan juga.

Inilah yang membuat Gina lebih bisa berempati dengan anak-anaknya. Tentu ia ingin anaknya memiliki prestasi, apalagi si sulung yang sudah remaja hobi menulis. Siapa yang tak ingin anaknya menerbitkan buku di usia belia? Namun, ia menyadari bahwa yang lebih penting adalah menghargai apa yang ingin dilakukan anak dan memastikan apakah anak tahu mengapa ia melakukan hal tersebut.

“Pastikan juga anak belajar sesuatu, misal saat bermain game, saat membaca. Jangan sampai kita hanya melihat dari permukaannya saja, padahal ia belajar sesuatu dari situ. Jadi, orientasinya bukan sekadar achievement (prestasi) aja,” jelas Gina.

Arti “berprestasi” sudah berubah

Sementara itu, pendidik dan psikolog Najelaa Shihab menyatakan bahwa banyak orang tua salah paham tentang kesuksesan akademik. 

“Yang namanya anak pintar, terampil, berprestasi, itu definisinya berubah banget sekarang. Kebanyakan orang tua yang bilang anaknya ‘tidak termotivasi’, itu bagi saya artinya anak tidak termotivasi melakukan apa yang orang tua mau. Padahal, sebenarnya punya motivasi dan komitmen untuk melakukan hal-hal lain yang penting untuk dia,” jelas Najelaa saat launching podcast Dunia Rania beberapa waktu lalu.

Dalam kasus di atas, orang tua seringnya menyalahkan anak. Mungkin saja tugas sekolahnya tidak menarik untuknya, tidak relevan, tidak kontekstual, tidak tahu pentingnya di mana, sehingga remaja memilih untuk melakukan hal lain yang belum tentu tidak bermanfaat. 

Baca: Mengapa Remaja Lebih Suka Ekskul daripada Belajar?

Saat ini, kompetensi dasar seperti punya komitmen pada tujuan, bisa mandiri, bisa refleksi, bisa melakukan inovasi, bisa bekerja sama, bisa komunikasi, itu dapat dikembangkan melalui banyak sekali cara, termasuk main game dan olahraga. 

Jadi, sebaiknya orang tua tidak membatasi area of interest atau minat anak. Tapi, pastikan dari bidang yang ia minati tersebut, remaja mendapatkan kompetensi yang bisa ditransfer ke area lain yang berguna untuk berbagai profesi di masa depannya. 

Misal, anak gemar sekali bermain musik, belum tentu di masa depan ia tidak bisa menjadi akuntan. Hal yang ia pelajari dari bermusik seperti kedisiplinan, kemampuan melakukan riset dan pendalaman, mengasah empati dan sensitivitasnya, bisa bermanfaat untuk berbagai jenis pekerjaan. Anak usia 3 tahun yang terobsesi dengan dinosaurus pun bukan berarti profesinya nanti pasti menjadi arkeolog. Dari mainan dinosaurus tersebut, anak belajar cara mengumpulkan, mencari tahu berbagai jenis dinosaurus, menjaga mainannya dengan tanggung jawab. Nanti ketika minatnya berubah menjadi suka sepakbola saat SD, hal-hal yang ia pelajari dari dinosaurus ini akan terbawa.  

Jadi, tugas orang tua adalah menemukan manfaat dari aktivitas yang diminati remaja. Seberapa dia akan tumbuh jadi ahli dan berprestasi atau malah pindah ke bidang lain, tidak perlu dikhawatirkan. Apalagi, remaja memiliki kesempatan yang sangat banyak. Kalau orang tua sibuk membuat perbedaan tersebut menjadi perdebatan, orang tua tidak akan bisa melihat betapa menariknya perubahan minat anak, proses belajarnya, bahkan profesi yang mungkin akan muncul di masa depan. 

 



Tanya Skata