Lepas dari masa balita, kebiasaan mengompol anak di saat tidur bisa menjadi masalah. Apalagi, jika anak sudah tidak mau mengenakan diapers lagi. Kesabaran makin teruji jika anak susah untuk diminta kencing dahulu sebelum tidur malam. Namun, saat anak sudah masuk usia SD dan masih mengompol, Anda pun menjadi gemas campur khawatir. Kapan kebiasaan mengompol ini akan berhenti? Mengapa pula anak setiap anak berhenti mengompol pada usia yang berbeda?

Sebenarnya, anak mengompol adalah hal yang wajar. Menurut situs kesehatan webmd.com, sebanyak 40% dari anak berusia 3 tahun masih mengompol sementara 15% anak masih tetap mengompol pada usia 5-6 tahun. Di usia 9,5 tahun, hanya 1 dari 10 anak yang masih mengompol setidaknya sekali seminggu. Sayangnya, hingga saat ini para dokter belum mengetahui dengan jelas apa penyebab usia anak berbeda saat berhenti mengompol.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab anak yang masih mengompol saat usianya sudah makin besar, yaitu:

1. Kondisi kandung kemih

Saat kandung kemih anak tidak cukup elastis untuk bisa meregang seiring bertambahnya volume urine yang dikandungnya, maka urine pun akan keluar sehingga ia mengompol. Selain itu, otot kandung kemih yang terlalu aktif membuat urine selalu terdorong keluar sebelum penuh sehingga anak lebih sering berkemih, termasuk di saat tidur. 

2. Faktor tumbuh kembang

Anak belum menguasai kemampuan untuk menyadari bahwa kandung kemihnya sudah penuh, kemudian harus bangun dan ke kamar mandi untuk buang air. Dalam hal ini, kandung kemih sudah mengirim sinyal ke otak namun anak tidak terbangun, bisa juga kandung kemih tidak mengirim sinyal apapun.

3. Faktor keturunan

Riwayat anggota keluarga yang terlambat berhenti mengompol membuat anak berisiko mengalami hal serupa. Jika kedua orang tuanya memiliki riwayat mengompol saat anak-anak, kemungkinan anak masih mengompol saat sudah besar meningkat hingga 70%.

4. Stres

Anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol kemudian kembali mengompol di malam hari biasanya mengalami masalah psikis seperti stres atau cemas. Penyebabnya bisa berasal dari lingkungan keluarga seperti hadirnya anggota keluarga baru, maupun dari sekolah seperti ujian maupun menjadi korban bullying.

5. Konstipasi

Menurut pakar urologi anak Andrew Robb, idealnya seorang anak buang air besar minimal 4 kali seminggu atau setiap dua hari sekali. Jika anak sulit buang air besar, kerasnya feses akan menahan kandung kemih untuk meregang ketika urine bertambah. Akibatnya, anak pun mengompol.   

6. Masalah hormonal

Tubuh memproduksi hormon anti diuretik yang berfungsi menghentikan proses berkemih pada malam hari. Anak yang tidak memiliki cukup hormon ini membuat proses berkemih saat tidur terus berlangsung seperti di siang hari. Bisa juga, ginjalnya tidak merespon hormon anti diuretik sehingga ginjal memproduksi urin lebih banyak dari kapasitas penampungan.  

Apa dampaknya jika sudah besar masih mengompol?

Secara psikis, anak yang masih mengompol (sementara anak seusianya tidak) akan memiliki self-esteem atau harga diri yang rendah. Ia merasa tidak percaya diri dan bisa menghindari interaksi sosial yang berisiko membuat orang lain tahu ia masih mengompol. Acara seperti menginap di rumah teman terpaksa dilewatkannya, kemah di sekolah pun bisa membuatnya sangat cemas.

Perlukah hal ini diperiksakan ke dokter?

Tidak usah ragu untuk berkonsultasi pada dokter jika memang masalah mengompol ini dirasa mengganggu, termasuk jika anak merasakan sensasi panas pada kemaluan saat kencing. Dokter akan memeriksa kemungkinan adanya kelainan kandung kemih dan ginjal, infeksi, ataupun stres.

Bagaimana agar anak berhenti mengompol?

Jika penyebabnya bukan karena kelainan, Anda bisa mencegah anak mengompol dengan cara:

  1. Mengajak anak buang air sebelum tidur
  2. Tidak minum setidaknya 1 jam menjelang tidur
  3. Hindari minum minuman yang bersifat diuretik menjelang tidur seperti teh, minuman bersoda, atau cokelat

Adakah obatnya?

JIka anak mengompol karena ada masalah dengan hormon anti diuretik, maka pemberian hormon bisa menjadi solusi. Bagi anak 7 tahun ke atas, dokter juga bisa meresepkan obat untuk mengurangi produksi urine di malam hari.

Anda juga bisa membeli alarm ompol anak yang menggunakan deteksi urine untuk menyalakan alarm. Dalam 3-5 bulan, anak akan terbiasa untuk bangun saat ingin kencing. 

Ingat, ini bukan salah anak….

Jika ia sudah buang air kecil dan masih tetap mengompol, ingatlah ia tidak bisa mengontrol hal tersebut. Hindari selalu mengomeli anak dan membahasnya dengan orang lain yang membuat ia semakin malu dan rendah diri. 

Sebaliknya, beri ia semangat untuk menghentikan kebiasaan mengompolnya. Buat daftar hari dan beri tanda saat ia tidak mengompol sehingga ia termotivasi untuk lebih disiplin menghindari hal-hal yang membuatnya rentan mengompol di malam hari.

 

 

 

 



Tanya Skata