Meskipun bukan terapi baru di bidang medis, donor plasma konvalesen bisa menjadi secercah harapan untuk menangani Covid-19 pada pasien gejala sedang-berat atau yang mengalami fase kritis. Meskipun begitu, plasma konvalesen ini masih menjadi produk uji klinis yang terus berlangsung hingga saat ini.  Nah, apa saja sih hal yang wajib diketahui mengenai Terapi Plasma Konvalesen (TPK)?

1. Apa itu Terapi Plasma Konvalesen?

Terapi Plasma Konvalesen adalah salah satu cara penanganan infeksi Covid-19 dengan cara mengambil sejumlah plasma darah penyintas yang mengandung antibodi untuk menetralkan virus SARS-CoV-2 pada pasien Covid-19.

2. Apa saja kriteria donor plasma konvalesen?

Pendonor harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

• Sehat (saat mendonorkan darah)

• Pernah dirawat di RS rujukan Covid-19 sebagai pasien terkonfirmasi positif, lalu dinyatakan sembuh dengan bukti hasil PCR negatif

• Usia 18-60 tahun

• Berat badan minimal 55 kg

• Lebih diutamakan laki-laki atau wanita yang belum pernah hamil

• Memiliki antibodi spesifik yang cukup 

• Riwayat tranfusi darah 12 bulan terakhir 

3. Mengapa wanita yang pernah hamil tidak masuk kriteria pendonor?

Saat hamil, akan terbentuk HLA (Human Leucocyte Antigen) yang membentuk respon antigen-antibodi dan memicu gangguan pernafasan akut saat darah ditransfusikan.

4. Bagaimana prosedur kesehatan donor plasma konvalesen?

Sebelum pengambilan darah, pendonor tidak perlu melakukan pemeriksaan rapid test atau PCR. Selain itu, produk darah tidak perlu dikarantina terlebih dahulu karena kecil sekali kemungkinan virus ada dalam darah dan belum ada laporan pasien yang terkonfirmasi positif setelah transfusi. Produk darah juga tidak perlu didesinfeksi karena produk darah akan rusak bila terkena cairan desinfektan. 

Sebagai skrining, pendonor akan mengisi kuisioner yang berisi kondisi klinis saat ini, riwayat penyakit, riyawat kontak erat dengan pasien Covid-19, atau riwayat berkunjung ke zona merah Covid-19, ke fasilitas kesehatan atau ke pasar hewan. Formulir skiring ini harus dijawab dengan jujur dengan keamanan dan kenyamanan bersama. 

Baca: Sama-Sama Swab, Ini Beda PCR dan Rapid Antigen

5. Apa saja yang harus dipersiapkan oleh resipien atau penerima donor plasma?

Sebelum mendapatkan darah, resipien akan dicek golongan darahnya, diperiksa kadar antibodinya, dan dilakukan uji silang serasi (cross match) dengan pendonor. Kemudian, resipien akan dicek kondisi klinisnya sebelum transfusi berlangsung. Bila calon penerima darah mengalami demam tinggi (>39 C), donor darah tidak boleh dilakukan atau ditunda sampai suhu tubuh pasien turun supaya tidak terjadi reaksi alergi berat. 

6. Setelah dilakukan transfusi plasma konvalesen, apa yang akan dilakukan selanjutnya?

Pasca pemberian TPK selesai, pasien akan diukur tekanan darah, nadi, irama nafas, suhu secara berkala sekaligus untuk memantau reaksi transfusi yang mungkin muncul.

7. Bolehkah semua penyintas menjadi pendonor TPK?

Sayangnya tidak. Hanya penyintas Covid-19 yang pernah mengalami gejala sedang-berat saja yang dapat mendonorkan darahnya. Alasannya, pasien yang masuk kriteria ini dianggap memiliki kadar antibodi netralisasi yang cukup walaupun kadar antibodi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan.

8. Kapan penyintas boleh mendonorkan darahnya?

Penyintas dapat menyumbangkan darahnya bila telah dinyatakan sembuh minimal 2 minggu sejak terkonfirmasi positif Covid-19. Donor darah boleh diulang tiap 2 bulan pada laki-laki atau per 3 bulan jika pendonor adalah wanita. 

9. Bila kita tidak mengetahui status kita apakah pernah terinfeksi atau tidak, apakah tidak berbahaya menjadi pendonor?

Selain belum ada bukti penularan infeksi melalui darah, leukosit sebagai tempat hidup virus juga tidak memiliki reseptor ACE-2 (Angiotensin Converting Enzyme), tempat berikatannya virus SARS Cov-2. 

Jika kemudian pendonor dinyatakan terkonfirmasi positif namun darah belum sempat ditransfusikan, produk darah tidak digunakan dan akan langsung dimusnahkan. Namun, apabila darah terlanjur diberikan kepada resipien, akan dilakukan prosedur lookback untuk memantau kemungkinan munculnya gejala Covid-19 pada resipien. Kemungkinan infeksi Covid-19 dapat diduga bila demam muncul 5 hari setelah transfusi dan gejalanya tidak berhubungan dengan diagnosa pasien. 

10. Apakah penyintas wajib mendonorkan darahnya?

Donor darah apapun, tidak hanya terbatas saat pandemi, sifatnya sukarela. Tapi, alangkah mulianya bila Anda berkenan menyumbangkan darah demi menyelamatkan satu nyawa.

Mari donorkan darah Anda. Jangan khawatir, PMI pun menerapkan prosedur kesehatan ketat saat donor darah dengan pengaturan ruang, penyediaan hand sanitizer, sarana cuci tangan, dan memastikan physical distancing. Ingat, tetap gunakan masker, ya!

 

 

Referensi : 

1. Seputar Transfusi Darah Saat Pandemi Covid-19  Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia 2020 

2. Webinar ‘Diskusi Panel Kebijakan Rekomendasi dan SOP Terkini Mengenai Covid-19 Convalescent Plasma (CCP) Pada Pasien Covid-19

 



Tanya Skata