“Wah g*la lo, santai dong mainnya! Hati-hati tuh di depan ada lawan, anj*r,” terdengar jelas di telinga saat mendengar remaja di sebelah rumah sedang bermain game bersama teman sebayanya. Rasa hati ingin sekali menegur mereka agar tidak berkata kasar, tapi Anda pun pernah melakukannya saat remaja dulu. Padahal, tak kurang orang tua dan guru mengajari pentingnya berkata baik. Jadi, mengapa remaja di zaman apapun itu tetap suka berkata kasar ya? 

Ingin terlihat dewasa

Menurut Dr. Francis Compton, psikolog yang mendalami perilaku remaja selama 30 tahun, anak dan remaja berkata-kata kasar agar karena ingin terlihat dewasa. Anak dan remaja percaya bahwa berbicara seperti orang dewasa (dalam hal ini mengumpat dan sejenisnya) dapat membuat orang lain menganggap mereka sudah dewasa. 

Pengaruh lingkungan

Lingkungan juga menjadi faktor penyebab remaja mudah berkata kasar, khususnya lingkungan yang ditemui sehari-hari seperti keluarga, tempat tinggal, atau pertemanan di sekolah. Dengan teman, remaja berkata kasar karena ingin dianggap “gaul”, tak mau dianggap “cupu”, atau tak mau berbeda dengan gaya bicara teman-temannya. Orang tua pun tak luput dari penyebab. Mungkin Anda tak sadar sering mengumpat dan memori anak langsung merekamnya, hingga di kemudian hari mereka pun merasa tak masalah berkata kasar. 

Meniru idola

Selain itu, faktor idola seperti influencer yang remaja temukan di media sosial juga memberi pengaruh dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Remaja tentu menganggap idolanya keren dan cenderung meniru apa yang dilakukan idolanya, termasuk saat berkata kasar. Belum lagi komentar netizen yang sering tanpa etika, membuat budaya berkata kasar di dunia maya seolah wajar.   

Gangguan kepribadian

Mereka dengan gangguan kepribadian negativistic juga bisa cenderung berkata kasar. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan harga diri lawan bicara karena ada perasaan takut sebelum ia yang dijatuhkan oleh lawan bicara. Jika ini dibiarkan, maka berkata kasar menjadi kebiasaan sehingga apa yang salah menjadi seolah benar dan dianggap biasa. 

Bagaimana mengatasi remaja yang mudah berkata kasar? 

1. Cari tahu apa yang melatarbelakangi mereka berkata kasar

Apakah itu hanya sekedar ikut-ikutan atau luapan amarah yang tak tersalurkan, Anda perlu mengetahui alasannya. “Sebelum menghakimi remaja dan memberi nasehat panjang lebar akan kalimat yang mereka lontarkan, selami dulu alasan mereka melakukannya. Kenapa mereka mengatakannya, apakah paham artinya, dan tahukah mereka akan dampaknya?” jelas dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K). 

2. Pilih lingkungan pergaulan 

Perhatikan pula lingkungan remaja bergaul. Jika Anda mengetahui bahwa teman-temannya ternyata suka berkata kasar, jangan sungkan untuk menegur. Agar remaja tidak tersinggung atau menganggap Anda berlebihan, beri ia pemahaman bahwa teman yang berinteraksi dengannya setiap hari akan  membawa pengaruh yang sangat besar dalam sikap, kepribadian, pola pikir, bahkan masa depannya kelak. Pastikan ia memilih teman yang membawa dampak positif dalam hidupnya.  

3. Beri contoh

Dimulai dari Anda. Berikan contoh dengan selalu berkata baik, hindari sebisa mungkin kata kasar saat berada di dekat remaja, meskipun Anda hanya bergurau dengan teman-teman Anda.

4. Yakinkan bahwa berkata kasar tidak membuatnya lebih keren 

“Nak, tahukah kamu bahwa mengumpat dan mengeluarkan kata kasar bukan menjadikan kamu keren, tapi malah membuatmu terlihat buruk di depan orang lain. Apalagi di depan orang tua teman, bahkan mereka yang tak dikenal. Selain itu, kamu pun akan dicap perundung karena secara tak langsung bisa menyakiti orang lain. Jadi, bicaralah yang baik, agar kamu pun dicap sebagai orang yang baik.” 

5. Batasi tontonan dan pengaruh media sosial 

Besarnya pengaruh tontonan televisi, YouTube, atau influencer di media sosial (yang suka berkata kasar), menjadikan remaja mudah mengikutinya. Anda perlu membatasi tontonan apa yang boleh mereka lihat dan siapa idola yang boleh mereka ikuti, tentunya dengan mengajaknya diskusi terlebih dahulu agar remaja paham tujuan dari kesepakatan tersebut.

6. Beri konsekuensi

Apabila berbagai cara ternyata tidak berhasil membuatnya berhenti menyelipkan kata kasar dalam komunikasi harian, memberi konsekuensi bisa menjadi solusi. Tegaskan bahwa keputusan ini terpaksa harus Anda ambil karena tidak ingin ia tumbuh menjadi orang yang tidak menghargai orang lain. Tentukan dulu kata apa saja yang dianggap kasar kemudian tentukan jenis konsekuensinya, sesederhana membayar "denda" ke celengan hingga mengambil haknya atas hal yang ia sukai seperti screen time.

7. Maklumi dalam kondisi tertentu

Apa yang diucapkan remaja di rumah saat bersama Anda, tentu berbeda ketika mereka mengatakannya di luar. Anda mungkin bisa mengantisipasi dan mengingatkan ketika mereka “keceplosan” berkata kasar, namun tidak di tempat lain. Bahayanya, ada orang lain yang tersinggung dan memiliki kemungkinan untuk bereaksi (tentunya bukan reaksi yang baik). Ingatkan untuk bisa menahan diri. Jika tidak bisa berkata baik, maka diam. Pahami bahwa ini bukan sekedar masalah tata krama, tapi juga cara menghormati dan menghargai orang lain lewat lisan. 

 

 



Tanya Skata