“Bu, ada lip tint baru keren deh. Itu, yang Naura (penyanyi) pakai. Sepaketnya 300 ribuan Bu, udah dapat 2 lip tint, pouch, sama apa gitu deh satu lagi. Pengen banget Bu,” bujuk Nadira (15 tahun) ke Nurul, ibunya. 

Nurul pun mengernyitkan dahi, “Bukannya kamu baru kemari ikutan PO (pre order) make up Korea? Belum ada sebulan, kan?” 

Nadira pun berkelit, “PO Korea itu masker bu, ini kan lip tint. Beda dong.. Boleh ya, bu? Potong uang mingguanku deh ...” 

Anda tidak salah jika berpikir bahwa Nadira dan remaja "zaman now" sekarang lebih konsumtif dibanding generasi Anda. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2019 menunjukkan bahwa 3,8 juta remaja generasi Z (kelahiran 1997 ke atas) gemar belanja online, jauh lebih banyak daripada generasi orang tua mereka (generasi X yang lahir tahun 1965-1980) yang berbelanja online, yaitu sekitar 2,7 juta orang. Tidak hanya di Indonesia, sebuah survei di AS menunjukkan bahwa 8 ribu responden yang rata-rata berusia 16 tahun menghabiskan sekitar Rp 4 juta per bulan untuk berbelanja makanan dan pakaian.

Bagaimana tidak konsumtif, setiap harinya mereka “digempur” dengan berbagai iklan yang muncul di berbagai media sosial hingga aplikasi. Remaja yang masih mencari pengakuan dari lingkungan ini pun takut ketinggalan tren atau FOMO (fear of missing out) jika tidak menggunakan produk yang dipakai kebanyakan remaja seusia mereka, artis idola, juga para influencer. 

Dengan situasi tak terelakkan semacam ini, Anda sebagai orang tua tentu bingung bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, Anda tak ingin remaja terkucil dari pergaulan karena tidak mengikuti tren, namun di sisi lain Anda juga tak ingin mereka menjadi konsumtif dan menganggap barang yang mereka beli dapat menaikkan “status” mereka. Lalu, apa solusinya?

Tanyakan seberapa butuh

Dorongan untuk menjadi konsumtif pada remaja biasanya disebabkan oleh kebutuhan akan pengakuan dan kepercayaan diri. Karena itu, tanyak seberapa butuh mereka akan barang yang mereka minta. Dalam kasus Nadira, Nurul bisa bertanya apakah lip tint tersebut memang diperlukan ataukah hanya faktor “ingin seperti artis kesayangan”? Apakah Nadira sudah memiliki produk sejenis dan apakah jika tidak dibeli akan menghambat aktivitasnya? Pertanyaan semacam ini akan membuat remaja belajar membedakan keinginan atau kebutuhan.

Ajari mereka mengelola uang saku

Dikutip dari laman kidsfinancialeducation.com, remaja usia 14-16 tahun sudah bisa diajari untuk mengelola uang saku mereka dengan lebih baik. Cara yang disarankan adalah memberi uang saku setiap bulan (alih-alih harian) agar remaja bisa belajar mengatur pengeluaran secara mandiri, serta belajar budgeting atau pengalokasian uang. Dengan ini, jika remaja ingin sesuatu yang nominalnya lumayan besar, mereka bisa mulai memperkirakan apa yang harus dihemat dan apa yang harus diprioritaskan.

Ceritakan kondisi keuangan Anda 

Remaja perlu tahu kemampuan finansial Anda agar bisa menyesuaikan permintaan mereka dengan kemampuan orang tua. Mengetahui bagaimana uang Anda dapat seharusnya sudah mereka ketahui sejak sebelum remaja. Belum sempat menjelaskannya? Tidak ada kata terlambat. Jelaskan pekerjaan atau usaha Anda, sekaligus pos pengeluaran Anda, termasuk tabungan atau investasi untuk kuliahnya kelak. 

Motivasi untuk membeli dari hasil jerih payah sendiri

Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengajarkan remaja mendapatkan keinginannya dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan sekadar meminta dari Anda. Dengan adanya internet, remaja tak harus menjadi karyawan untuk bisa menghasilkan uang. Ananda pintar membuat aksesoris? Motivasi ia untuk membuat produk seunik mungkin dan jual di media sosial. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli celana jeans idamannya. Atau, Anda juga bisa memberinya “upah” dari tugas rumah yang ia kerjakan. Buat daftar pekerjaan rumah dan poin reward yang didapatkan. Kalau sudah terkumpul, ia bisa menukarnya dengan uang ataupun barang idaman yang sudah disepakati bersama. 

Jangan menjadi contoh konsumtif

Remaja konsumtif tak semata-mata karena pengaruh pergaulan dan media sosial, Anda sebagai orang tua bisa turut andil. Bagaimana mereka bisa membedakan keinginan dan kebutuhan jika paket dari online shop milik Anda tak berhenti datang? Jadi, berikan contoh pada anak bahwa membeli barang harus sesuai dengan kebutuhan, bahwa Anda bisa hidup bahagia dengan barang yang ada. Mereka pun akan mengamati dan belajar cara memperlakukan uang dan barang dari Anda dan pasangan.  

Terakhir, yakinkan remaja bahwa menjadi eksis tak harus selalu memiliki apa yang sedang tren. Setiap orang memiliki keunikan masing-masing dan tak perlu dipaksakan sama hanya agar terlihat “lebih” di mata orang lain. Nyaman menjadi dirinya sendiri tentu akan membuatnya lebih percaya diri, meski tanpa lip tint idaman.

 

 

 

 

 



Tanya Skata