Episiotomi adalah robekan yang dibuat dengan sengaja untuk melebarkan jalan lahir (lubang vagina) saat persalinan normal. Jalan lahir ini bisa robek secara alami saat persalinan, namun bisa juga dicegah dengan sejumlah cara seperti pijat perineum (memijat jaringan antara lubang vagina dan anus), berlatih teknik mengejan yang benar, dan menggunakan teknik pernapasan dalam saat persalinan. Meskipun demikian, kondisi persalinan memang tidak dapat diduga. Dokter pun bisa  memutuskan untuk melakukan episiotomi jika terdapat sejumlah indikasi. 

Kapan episiotomi perlu dilakukan?

Ada empat kondisi yang bisa membuat dokter memutuskan untuk melakukan episiotomi, yaitu jika perineum kaku (biasanya terjadi pada persalinan anak pertama), bayi besar dengan berat >4 kg, adanya hambatan persalinan (distosia), atau fetal distress (gawat janin). Tindakan ini dilakukan secara selektif dengan menilai kondisi jalan lahir dan janin saat persalinan.

Selain untuk memperbesar jalan lahir, ada beberapa tujuan lain dilakukannya episiotomi antara lain:

  1. Mencegah distosia (hambatan persalinan)
  2. Mencegah cedera kepala bayi saat dilahirkan
  3. Mencegah robekan jalan lahir terutama agar tidak sampai merobek anus dan rektum
  4. Mencegah ketidaknyamanan saat berhubungan seksual
  5. Mencegah beser 
  6. Menjaga refleks anus

Bagaimana prosedur episiotomi?

Saat tiba waktu persalinan, dokter akan meminta persetujuan tindakan medis yang mungkin akan dilakukan. Jika dokter menyarankan untuk dilakukan episiotomi, jangan takut ya. Karena, sebelum dilakukan episiotomi akan dilakukan bius lokal. 

Setelah itu, dokter akan memulai episiotomi di waktu yang tepat karena bila dilakukan terlalu cepat maka muncul perdarahan hebat, tapi bila terlalu lama akan terjadi robekan luas di jalan lahir. Idealnya episiotomi dilakukan saat perineum meregang dan bagian kepala janin belum terlihat. Umumnya sayatan episiotomi yang dibuat kira-kira sepanjang 5 cm, yang akan segera dijahit setelah plasenta keluar. 

Sayatan episiotomi bisa dilakukan dengan cara menggunting secara vertikal ke arah anus (tipe median) atau tipe mediolateral, yaitu dengan memotong secara miring/menyudut sehingga tidak mencapai anus. Meski episiotomi tipe ini paling sering digunakan, menjahitnya relatif lebih sulit dari tipe median. 

Apakah episiotomi ada risikonya?

Ada, mengingat setiap tindakan dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yakni:

  1. Terjadinya perdarahan
  2. Terbentuknya hematom atau penumpukan darah di balik jahitan sehingga terlihat atau teraba benjolan
  3. Robekan terlalu panjang atau lebar, sampai mengenai anus. 
  4. Adanya infeksi pada kulit, bagian dalam kulit (subkutis) atau sampai menyerang otot.
  5. Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia) bahkan bisa sampai berbulan-bulan setelah melahirkan. 

Pasca episiotomi, kapan harus waspada?

Anda harus kembali ke dokter atau bidan apabila terjadi kondisi seperti di bawah ini:

  • bekas jahitan terlihat bengkak
  • bagian yang dijahit dan daerah sekitarnya terlihat kemerahan
  • tiba-tiba terasa nyeri hebat pada luka episiotomi
  • luka episiotomi mengeluarkan nanah 
  • jahitan terlepas

Apabila terjadi tanda infeksi, pasien akan dirawat lukanya, diberikan antibiotik dan mungkin akan dilakukan jahitan ulang jika luka kembali terbuka. Sementara bila ada hematom, bagian tersebut akan disayat sedikit sebagai jalan keluar darah yang berkumpul di daerah tersebut.

Karena itu, tidak ada salahnya Anda melakukan pijat perineum meskipun beberapa ibu hamil tidak nyaman memasukkan jari ke dalam vagina untuk melakukannya.  Pijat perineum terbukti dapat mengurangi kebutuhan episiotomi sebesar 10% pada primipara (ibu yang bersalin untuk pertama kalinya) dan mengurangi nyeri perineum pasca persalinan pada ibu sekundipara (mengalami persalinan kedua).

 

 

 

 



Tanya Skata