Hamil anggur atau yang dikenal dalam dunia medis dengan istilah mola hidatidosa adalah kelainan kehamilan yang ditandai dengan tidak terbentuknya cikal bakal janin dan plasenta. Hal ini bermula setelah terjadi pembuahan, di mana ketidakseimbangan kromosom membuat sel telur dan plasenta gagal berkembang sehingga menjadi gelembung berisi cairan yang menyerupai anggur.

Umumnya, hamil anggur bersifat jinak namun pada beberapa kasus ada yang mengarah menjadi keganasan. Statistik mencatat angka kejadian hamil anggur di Indonesia mencakup 1 dari 100-141 kehamilan. 

Apa penyebab hamil anggur?

Sampai saat ini, penyebab terjadinya hamil anggur belum dapat diketahui dengan pasti. Tapi, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga meningkatkan terjadinya mola hidatidosa, antara lain:

1. Genetik

Peranan genetik inilah yang paling sering menyebabkan terjadinya hamil anggur berulang.

2. Usia pasutri

Pertambahan usia baik pada pria maupun wanita sama-sama menjadi faktor risiko terjadinya hamil anggur. Wanita yang berusia di atas 35 tahun akan mengalami peningkatan risiko terhadap hamil anggur sebesar 5-10 kali lipat. Di sisi lain, risiko mola juga akan meningkat bila usia ibu sangat muda (di bawah 20 tahun). 

3. Kurangnya asupan vitamin A dan asam folat saat merencanakan kehamilan 

4. Riwayat hamil anggur

5. Riwayat keguguran

6. Riwayat infertilitas

Apa saja gejalanya?

Pada pasien yang mengalami hamil anggur, gejala mual muntah biasanya lebih berat dibanding kehamilan normal. Kemudian, bila ada perdarahan vagina pada trimester awal kehamilan, patut dicurigai sebagai gejala klinis hamil anggur. Terkadang, keluarnya darah juga dapat disertai dengan keluarnya gelembung mola dari vagina. 

Bagaimana cara mendiagnosa hamil anggur? 

Diagnosa hamil anggur ditegakkan melalui hasil anamnesa (wawancara mendalam), pemeriksaan laboratorium, dan USG.

Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan ukuran rahim yang lebih besar dari usia kehamilan, meskipun ada juga yang ukuran rahimnya normal atau bahkan lebih kecil dari usia kehamilan. Oleh karena tidak terbentuk janin lengkap, maka pada pada saat kontrol kehamilan tidak ditemukan bagian janin atau tidak terdengar denyut jantung janin. 

Pada pemeriksaan laboratorium, mola komplit (hamil anggur lengkap) ditunjukkan dengan kadar beta hCG serum >100.000 mIU/ml. Namun, pada mola parsial (hanya plasenta yang berkembang menjadi mola, janin berkembang namun cacat), kadar beta hCG serum kadangkala normal atau bisa lebih rendah dari usia kehamilan. Evaluasi pemeriksaan beta hCG serum dapat dilakukan setiap 2 minggu sekali atau seminggu sekali jika dicurigai ganas. 

Sementara itu, pada pemeriksaan USG, hamil anggur parsial masih menunjukkan gambaran janin dan plasenta. Namun, pada mola komplit hanya terlihat gelembung-gelembung seperti anggur atau sarang tawon (honey comb).

Jika hamil anggur terdeteksi, bagaimana penanganannya?

Sebagian besar hamil anggur parsial akan berakhir dengan keguguran. Tetapi, bila dapat terdeteksi sejak dini, beberapa alternatif penanganan adalah pemberian obat, kuret, atau tindakan pengangkatan rahim.

Obat-obatan

Pada kasus hamil anggur, dapat diberikan obat antihipertensi bila disertai dengan kondisi preeklampsia, obat anti kejang jika terjadi eclampsia, atau obat anti tiroid jika muncul gejala hipertiroid.

Kuret

Kuret bertujuan untuk mengambil jaringan mola dan bagian dalam rahim (endometrium), lalu sampel dikirimkan ke bagian patologi anatomi untuk memastikan apakah jaringan tersebut mengandung sel ganas atau tidak. Setelah 1 minggu pasca kuret akan dilakukan USG kembali untuk memastikan kondisi rahim. Kuret dapat diulang bila masih terdapat sisa jaringan dalam rahim. 

Pengangkatan rahim (histerektomi)

Tindakan pengangkatan rahim dapat direkomendasikan pada pasien yang sudah berusia di atas 40 tahun dan tidak ingin memiliki keturunan kembali. Tindakan ini dapat langsung dilakukan saat terdiagnosa atau 7-10 hari setelah kuret. 

Kapan hamil anggur dicurigai ganas?

Koriokarsinoma merupakan bentuk ganas dari hamil anggur dan biasanya berawal dari mola komplit. Berikut adalah beberapa indikatornya. 

  1. Kadar serum beta hCG lebih besar atau sama dengan 100.000 mIU/ml atau hasil test pack urine masih positif setelah 12 minggu evaluasi.
  2. Ukuran rahim lebih besar dari usia kehamilan.
  3. Dijumpai kista ovarium dengan ukuran lebih atau sama dengan 6 cm.
  4. Usia > 40 tahun. 
  5. Hasil laboratorium menunjukkan kadar hb rendah, kadar Laju Endap Darah dan jumlah sel darah putih meningkat
  6. Terdapat gejala klinis lain seperti peningkatan denyut jantung, produksi keringat berlebih, dan/atau penurunan berat badan drastis. 

Bila hasil test pack masih positif selama proses evaluasi, pasien diharapkan menggunakan kondom atau menunda hubungan seksual sampai hasil test pack berubah negatif.  

 

 

 

Referensi:

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Obstetri dan Ginekologi Ke-7 Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RSUP Sanglah 2015

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata