Tubektomi merupakan pilihan kontrasepsi jangka panjang atau kontrasepsi mantap yang ditujukan untuk pasangan yang sudah tidak ingin merencanakan kehamilan kembali. Tapi, banyak alasan yang menyebabkan keinginan atau keputusan tersebut berubah. Misalnya, anak meninggal, perceraian, atau suami meninggal dan berencana menikah dan memiiiki anak kembali, atau sekadar penyesalan dan menyadari di kemudian hari bahwa masih ada keinginan untuk hamil lagi. Lalu, apakah masih bisa hamil kembali?

Tenang, walaupun tubektomi bersifat permanen karena memang sangat kecilnya peluang kehamilan setelah tindakan tersebut, namun tetap bisa diusahakan kehamilan dengan salah satu cara yakni operasi reversal tuba atau program bayi tabung. Riwayat kehamilan sekaligus persalinan sebelumnya meningkatkan angka keberhasilan kehamilan pasca tubektomi.

Baca: Ternyata, Ini Penyebab Ketidaksuburan pada Pria dan Wanita

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan hamil kembali, adalah:

1. Usia pasien

Usia pasien menjadi pertimbangan dokter sebelum merekomendasikan program kehamilan setelah tubektomi

2. Keinginan pasien

Karena tindakan yang akan dilakukan termasuk tindakan invasif, tentu saja keinginan pasien tidak dapat diabaikan sebagai bentuk persetujuan tindakan medis. Jika pasien ragu atau merasa bingung, pasangan/suami bisa ikut melakukan konsultasi bersama dengan dokter.

3. Pertimbangan dokter 

Sebelum melakukan tindakan, dokter akan memberikan pertimbangan baik keunggulan tindakan maupun risiko atau komplikasi yang mungkin terjadi pasca tindakan.

4. Biaya

Biaya merupakan komponen yang tidak dapat dilupakan sebelum memutuskan menyetujui suatu tindakan medis.

Operasi reversal tuba (tuboplasty)

Operasi reversal tuba atau operasi pengembalian fungsi tuba dilakukan dengan cara menyambung kembali saluran telur yang telah terpotong. Tuboplasty ini umumnya ditawarkan pada akseptor yang pernah hamil secara alami atau masih berusia di bawah 37 tahun. Hal ini dikarenakan peluang hamil pada 3 tahun pertama setelah operasi reversal tuba lebih tinggi dibanding jika melakukan program bayi tabung. Selain itu, biaya operasi reversal tuba lebih murah dibandingkan dengan program bayi tabung. 

Sebelum melakukan tindakan, pasien akan diperiksa terlebih dahulu dengan menggunakan laparoskopi atau mini laparotomi untuk memastikan kondisi tuba apakah bisa dilakukan operasi reversal atau tidak. Bila kondisi tuba sangat pendek sehingga menyulitkan tuboplasty, dokter akan menyarankan untuk melakukan program bayi tabung.

Baca: Mengenal Tahapan Bayi Tabung (IVF)

Pasien juga perlu tahu bahwa setiap tindakan invasif akan memiliki risiko/komplikasi misalnya kemungkinan terjadinya keguguran atau kehamilan ektopik (kehamilan di luar kandungan) setelah tuboplasty.

In Vitro Fertilization (IVF)

Pada pasien yang berusia di atas 37 tahun, program bayi tabung lebih direkomendasikan karena semakin bertambah usia, jumlah, dan kualitas spema dan sel telur akan menurun. Di samping itu, program bayi tabung merupakan alternatif penanganan bila pasien tidak dapat atau merupakan kontraindikasi dilakukan operasi reversal tuba. IVF juga ditawarkan bila pasangan suami istri ingin memiliki dua atau beberapa anak sekaligus (hamil kembar). Sayangnya. program bayi tabung masih dianggap relatif mahal karena mencakup komponen pemeriksaan laboratorium dan obat-obatan khusus, serta tambahan biaya pada kehamilan kembar.

Terlepas dari tubuh yang memang milik wanita seutuhnya, jangan lupa libatkan pasangan Anda sebelum mengambil keputusan ya. Akan tetapi, poin penting yang harus diperhatikan adalah berat badan Anda. Usahakan berat badan mendekati ideal sebelum melakukan tuboplasty atau IVF karena dari hasil temuan penelitian Hanafi di tahun 2003 dan Lintsen et al di tahun 2005 menyatakan bahwa tingkat keberhasilan tindakan akan berkurang jika Anda mengalami overweight atau obesitas.

 

Referensi :

Rekomendasi Praktik Terpilih pada Penggunaan Kontrasepsi Edisi Ketiga 2016 WHO

 



Tanya Skata