Siapapun yang pernah menjadi anak pertama, pasti pernah diminta mengalah dengan alasan “adik masih kecil”. Anda mungkin pernah mengalaminya saat kecil. Kemudian, tanpa disadari, Anda pun melakukan hal serupa pada anak pertama Anda. Bisa jadi karena takut adiknya menangis dan Anda jadi tidak bisa melanjutkan pekerjaan, bisa juga karena menganggap si sulung sudah cukup “besar” untuk bisa merelakan keinginannya. Setidaknya, sampai adiknya bosan menggunakan benda tersebut. Toh, nanti ketika mereka semakin besar, keduanya bisa menyelesaikan konflik mereka sendiri. Benarkah demikian? 

Belum tentu. Kemampuan anak untuk menyelesaikan konflik tentu tidak terjadi secara otomatis. Dengan Anda selalu turun tangan melerai pertengkaran kakak adik, mereka tidak tahu bagaimana cara berbagi, cara mengungkapkan keinginan, cara mempertahankan pendapat, maupun cara berempati. 

Lantas, sampai sejauh mana orang tua bisa meminta si kakak untuk mengalah?

Meminta anak yang lebih tua untuk mengalah boleh saja, namun dengan melihat situasinya terlebih dahulu. Misal, Anda sedang menemani si kakak bermain saat adiknya mendadak minta menyusu. Maka, Anda bisa memberinya pengertian untuk bermain sendiri selama beberapa waktu hingga adiknya selesai menyusu. 

Atau, menyangkut masalah keamanan. Pada usia kakak yang lebih tua, Anda terpaksa meminta kakak menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menjaga adiknya ketika Anda harus ke toilet.

Namun, dalam konteks berebut sesuatu, Anda bisa terlebih dahulu membuat kesepakatan dengan anak-anak. Misal, saat kakak bermain boneka beruang, adik mendadak merebutnya. Meskipun adik menangis kencang, Anda harus tetap konsisten untuk meminta adik bermain yang lain karena kakak lah yang pertama memainkannya. Minta izin kakak untuk memberikannya pada adik saat ia sudah selesai. Hal yang sama juga berlaku ketika kakak yang ingin merebut mainan adik.

Tidak mudah memang, apalagi jika keduanya masih terlalu kecil untuk memahami konsep empati dan berbagi. Tidak masalah, Anda bisa terus mengulang “pelajaran“ tersebut karena kelak anak akan paham bahwa baik kakak maupun adik memiliki hak yang sama.

Apa dampaknya jika kakak selalu diminta mengalah?

Jika kakak diharuskan mengalah terus, berarti Anda melatihnya untuk mengabaikan perasaannya. Ia bisa tumbuh menjadi orang yang takut mengecewakan orang lain karena terbiasa mendahulukan adiknya. Ia bisa memiliki kecenderungan untuk menghindari konflik dengan cara mengorbankan keinginannya. Sebenarnya hal tersebut tidak masalah selama tidak menyangkut prinsip hidupnya. Namun, bisakah Anda bayangkan jika saat remaja nanti kakak takut mengecewakan teman satu gengnya dan melakukan hal berisiko?

Baca: Pentingnya Konsep Diri Remaja dalam Menangkal Perilaku Berisiko

Tidak hanya itu, ketika pendapatnya selalu diabaikan atau dipatahkan, anak akan tumbuh menjadi orang yang pesimis dan tidak percaya diri. Bukan tidak mungkin, timbul rasa benci pada adiknya. Ini bisa memicu persaingan antara kakak dan adik saat remaja bahkan dewasa. 

Di sisi lain, kakak yang selalu mengalah akan membuat adik terbiasa “menang”, sehingga tidak siap kecewa ketika gagal mendapat yang ia mau. 

Untuk menghindari pertengkaran kakak adik yang menuntut salah satu untuk mengalah, ada trik yang bisa Anda coba:

1. Mengajak kakak menentukan mana mainan yang bisa ia bagi, mana yang tidak. Mainan kesayangan yang ia hanya ingin mainkan sendiri (atau takut rusak jika dipinjam adik) bisa ia simpan di tempat yang tidak terjangkau adiknya. Hal ini juga berlaku ketika ia bermain dengan teman dan saudaranya.

2. Mengajari kakak untuk bermain di tempat yang tidak terihat adiknya. Misal, adik masih berusia 1 tahun dan sedang gemar mengeksplorasi semua benda, kakak bisa menyusun balok di kamar yang ditutup pintunya. Tentu, dengan sepengetahuan Anda.

Baca: Rumus "Empat-Si" untuk Mengatasi Pertengkaran Kakak Adik

Tapi, apakah salah mengajari kakak berbagi dan berempati?

Tentu tidak, namun jangan sampai hal tersebut mengabaikan perasaan sang kakak. Berbagi dan berempati juga tidak harus dilakukan saat terjadi konflik. Ketika membeli sebungkus biskuit di minimarket, Anda bisa mengatakan bahwa mereka harus berbagi karena hanya ada satu bungkus. Begitu juga ketika adik jatuh, kakak bisa diajak untuk memeluk adik dan mengambilkan obat untuk menumbuhkan empatinya. Jika empatinya telah terbangun, kakak bisa lho mengalah tanpa diminta. 

Jangan lupa, anak-anak tetaplah anak-anak terlepas posisinya sebagai kakak. Bukan karena anak sulung Anda yang berusia 5 tahun Anda sudah menjadi kakak, lantas ia harus paham cara empati, berbagi, dan mengalah pada adik kan? Tetap sesuaikan ekspektasi Anda dengan usia dan tahapan kemampuan anak. 

 

 



Tanya Skata