Saat anak berada di usia dini, persaingan antara kakak atau adik sebatas siapa yang lebih dulu mencoba mainan baru, lebih cepat menghabiskan makanan, atau memiliki benda lebih banyak. Biasanya, mereka akan kembali akur dengan sendirinya walau harus melewati teriakan dan tangisan. Beranjak remaja, persaingan kakak adik muncul ketika mereka merasa orang tua tidak adil (membela atau memberi hak lebih pada salah satu anak), sehingga keduanya senantiasa berlomba untuk menjadi yang terbaik. Masalah privasi, kepemilikan barang, dan pertemanan juga kerap memicu konflik. Bukan tak mungkin, persaingan muncul karena kakak dan adik suka pada laki-laki atau perempuan yang sama.

Tentu persaingan kakak adik saat remaja tersebut membuat Anda pusing. Namun, tahukah Anda, ada nilai positif yang terkandung di dalamnya? Interaksi antara kakak dan adik membuat remaja belajar bagaimana harus bersikap di lingkungan luar (terutama dalam lingkup pertemanan). Ketika pertikaian dihadapi dengan baik, mereka bisa belajar untuk:

  • Menyelesaikan masalah dan mencari solusi saat konflik 
  • Memperlakukan orang lain dengan empati 
  • Memahami dan mengerti opini yang berbeda 
  • Kompromi dan negosiasi 

Baca: Rumus Empat "Si" untuk Mengatasi Pertengkaran Kakak Adik

Selain itu, menurut Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K) dalam laman resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), persaingan kakak adik (sibling rivalry) menjadi suatu tahap yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Perbedaan usia, kepribadian anak, dan cara orang tua menanggapi menjadi salah satu faktor seringnya atau beratnya perselisihan yang terjadi. Ini bukan murni kesalahan orang tua atau pengasuh, melainkan naluri kompetitif pada anak yang akan berkurang seiring bertambahnya usia. 

Meskipun demikian, Anda tentu ingin persaingan tersebut tidak terjadi. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya persaingan antara remaja dan saudara kandungnya seperti dikutip dari raisingchildren.net.au, yaitu:

  1. Coba untuk selalu berlaku adil, mengingat remaja sangat jeli melihat perbedaan hak yang ia dan saudaranya dapatkan dari orang tua. Selisih 10 menit saja jatah screen time maupun jam malam saat akhir pekan bisa memicu konflik. 
  2. Hindari membandingkan satu dengan yang lain, alih-alih berikan dukungan untuk keduanya sesuai kelebihan masing-masing anak. “Kakak pintar deh main gitarnya. Adik juga jago bikin lagu lho!” bisa membuat keduanya merasa sama-sama berharga dan disayangi. 
  3. Meskipun sudah remaja, waktu berkualitas (quality time) dengan orang tua tetap menjadi hal yang remaja sukai. Misal, hari Sabtu ini kakak pergi berdua dengan Ibu, esoknya Ibu dengan adik. Lakukan kegiatan menyenangkan sesuai dengan pribadi mereka. Hal ini untuk menghindari perasaan “Ibu lebih sayang kakak” yang berujung persaingan untuk merebut perhatian Anda. Hindari pula memberi label pada masing-masing anak yang membuat mereka menjadi tertekan dan memiliki alasan untuk bertikai. 
  4. Berikan wilayah dan privasi masing-masing anak. Bisa dengan kamar yang terpisah (yang hanya boleh masuk jika diizinkan), barang-barang yang terpisah, bahkan waktu privasi ketika salah satu ingin bermain dengan teman sebayanya tanpa mengikutsertakan adik atau kakak. 
  5. Selalu hadir untuk mereka. Pastikan Anda bisa menjadi sandaran dan tempat berkomunikasi tentang apa saja dan membantu mereka mencari solusi bersama. 
  6. Buat peraturan bersama. Misal, bertengkar atau beda pendapat adalah hal yang wajar namun tidak sama halnya dengan memukul, menendang, berkata kasar, atau menjelekkan saudaranya di media sosial. Anda boleh membiarkan mereka untuk adu argumen dan mencoba menyelesaikan masalah sendiri. Namun, jika salah satu sudah bersikap kasar dan bermain fisik, ini sudah tak bisa ditoleransi dan Anda punya hak untuk bersikap. 
  7. Berikan kesempatan bagi semua untuk bisa berbicara dan mengutarakan pendapat tanpa interupsi dari yang lain. Setelah itu, baru cari solusi bersama. 

Jangan lupa, Anda adalah contoh untuk mereka. Jadi, bersikap bijak dan berikan contoh yang baik di depan anak. Seburuk apapun hubungan Anda dengan kakak dan adik Anda saat ini, hindari menjelekkan saudara Anda di depan anak-anak.  

 

 

 



Tanya Skata