Hukuman adalah “senjata pamungkas” orang tua ketika remaja berbuat salah. Meskipun cepat menyelesaikan adu argumen (dan membuat Anda merasa menang), pemberian hukuman ternyata berefek sebaliknya. Hukuman dapat membuat remaja lebih lihai menyembunyikan kesalahan dan rahasianya. Alih-alih merasa bersalah, mereka akan membangun persepsi bahwa orang tuanya tidak adil, tidak memahami dirinya, bahkan otoriter. Pikiran semacam ini tentu merenggangkan hubungan orang tua dan remaja. Padahal, terjalinnya komunikasi yang baik dan kedekatan antara orang tua dan remaja akan memudahkan orang tua untuk menjaga remaja dari perilaku berisiko.

Lantas, adakah pilihan yang lebih baik dari hukuman saat kesalahan remaja terasa begitu berat?

Ada 5 alternatif cara memperbaiki masalah tanpa harus memberi hukuman menurut Adele Faber dan Elaine Mazlish dalam buku How to Talk So Teens Will Listen (and How to Listen So Teens Will Talk), yaitu:

1. Ungkapkan perasaan Anda

Situasi: Remaja mengatai Anda dengan kata-kata kasar saat bertengkar.

Contoh cara bicara: “Mama sedih kamu mengatai mama seperti itu. Mama tidak menyangka kamu mengucapkan kata-kata kasar itu pada Mama.”

Hindari: “Berani-beraninya kamu bilang gitu ke Mama! Pasti gara-gara kamu berteman dengan geng nggak jelas itu kan? Jangan sampai Mama lihat kamu jalan bareng lagi sama mereka.”

Baca: Ke Mana Perginya Kesopanan Remaja Zaman Now?

2. Ungkapkan harapan/ekspektasi Anda

Situasi: Remaja pulang ke rumah lewat dari jam malam yang disepakati.

Contoh cara bicara: “Ayah sudah menduga HP-mu mati. Tapi, Ayah harap ketika kamu terpaksa pulang lebih dari jam yang disepakati, kamu memberi kabar lewat HP teman atau selalu sedia power bank di dalam tas, agar Ayah tidak cemas.”

Hindari: “Janji pulang jam 10 kenapa jam 12 baru pulang?! Kamu pikir Ayah nggak khawatir kamu diapa-apain orang? Sebulan ke depan, kamu nggak boleh keluar malam!”

3. Tunjukkan cara memperbaiki kesalahan

Situasi: Rapor remaja nilainya "jeblok" karena sibuk dengan berbagai ekskul dan organisasi.

Contoh cara bicara: “Nak, Ibu tahu kamu aktif sekali di sekolah, tapi belajar itu tanggung jawab utamamu. Gimana kalau kamu fokus ke satu ekskul saja biar tetap ada waktu untuk belajar?”

Hindari: “Lihat akibatnya kalau tiap hari pulang telat karena basket lah, teater lah. Mulai semester depan, kamu nggak usah ikut ekskul lagi!”

4. Menawarkan pilihan solusi

Situasi: Remaja menolak solusi Anda untuk keluar dari ekskul yang ia ikuti.

Contoh cara bicara: “Ibu lihat kamu kesulitan membagi waktu antara sekolah dan ekskul. Kamu bisa tetap bergabung di ekskul tapi tidak terlibat dalam posisi penting, menggunakan hari Sabtu-Minggu khusus untuk belajar, atau memaksakan diri untuk belajar di malam hari selelah apapun kamu.”

Hindari: “Kalau kamu enggak mau keluar dari ekskul, Ibu nggak akan izinin kamu nonton konser K-pop April nanti!” 

Baca: Manfaat di Balik KPop dan Tren Remaja Masa Kini Lainnya

5. Mengambil sikap tegas

Situasi: Anda tidak sengaja melihat chat mesra remaja dengan pria asing yang berusaha merayunya di Instagram.

Contoh cara bicara: “Nak, banyak orang jahat di luar sana yang berpura-pura baik agar bisa mendekati remaja seperti kamu. Demi keamananmu, Papa terpaksa meminta password akun Instagram kamu sampai kamu paham batasan interaksi online yang aman.”

Hindari: “Sejak kapan kamu jadi centil kaya gini? Mulai hari ini, hapus akun Instagram kamu.”

Apa bedanya mengambil sikap tegas dengan menghukum?

Sepintas, mengambil sikap tegas sama dengan memberi hukuman. Bedanya, hukuman adalah harga mati yang membuat anak tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Ambil contoh kasus terakhir. Hukuman menghapus akun Instagram membuat anak tidak bisa belajar membedakan orang asing yang berbahaya dan tidak berbahaya di kemudian hari. Anak bisa saja tetap melakukannya di media sosial selain Instagram. 

Baca: Jaga Privasi, Kunci Aman Bermedia Sosial untuk Remaja

Berbeda dengan sikap tegas Anda meminta password. Anak tetap dapat menggunakan media sosialnya dengan pantauan Anda (meskipun ia tidak memiliki privasi) sehingga bisa merespon ajakan orang asing yang mencurigakan dengan lebih bijak. Berbagi password ini pun hanya sementara, sehingga anak memiliki kesempatan untuk membuktikan pada Anda bahwa ia sudah bisa menggunakan Instagram dengan aman.

Bagaimanapun juga, memberi hukuman lebih mudah dilakukan. Sayangnya, hukuman dapat membuat anak menghentikan perilakunya, namun menghilangkan kemampuannya untuk mengoreksi diri sendiri. Namun, jika cara-cara di atas tidak membuat anak belajar dari kesalahan dan akhirnya mengulanginya kembali, Anda perlu menyelami masalahnya lebih jauh. 

 



Tanya Skata