Siapa sih, yang tak jenuh dengan sekolah daring (online)? Baik anak maupun orang tua yang mendampingi prosesnya mulai lelah dan kewalahan berjibaku dengan beban tugas dan sesi Zoom. Rani contohnya, ia memiliki anak usia 10 tahun yang kesulitan belajar daring. Anaknya memang biasa aktif di sekolah, namun semenjak harus belajar dari rumah ia kehilangan hasrat dan menjadi malas. Meskipun selalu mengikuti sesi Zoom setiap hari, tak jarang ia tertidur atau melakukan hal lain saat guru berbicara. Alhasil, saat harus mengerjakan tugas ia tak tahu apa-apa. Awalnya, Rani membantu sesekali mengerjakan tugas sekolah. Lama kelamaan, ia ikut turun tangan bahkan saat ujian. Alasannya? “Ya biar cepat! Dia nggak ngerti, gurunya juga nggak bisa membuat dia paham. Sementara tugasnya harus dikerjakan saat itu juga. Apalagi ujian, kan? Apa boleh buat,” kilah Rani. 

Menanggapi hal ini, Wenny Aidina, S.Psi., M.Psi., psikolog klinis anak dari KALM sekaligus pemilik Ritz Konsultan Psikologi, mengingatkan bahwa orang tua menyekolahkan anak untuk pengetahuan yang ia peroleh tak semata-mata perkara nilai. 

“Bila tugas dikerjakan oleh orang tua, apa yang anak dapat? Hakikatnya belajar dan sekolah adalah menyiapkan anak untuk mampu menghadapi tantangan hidupnya dengan ilmu,” jelasnya.

Jadi, sudah sewajarnya Anda mendampingi anak selama sekolah daring (bukan mengerjakan tugas sekolahnya), termasuk menciptakan suasana belajar yang kondusif seperti membantu menata letak meja belajar agar nyaman, hingga pembagian waktu belajar dan jadwal mengerjakan tugas. Jangan lupa apresiasi usaha anak dan bantu mencari alternatif cara belajar ketika anak bosan dan penat. 

Baca: Ketika Anak Mulai Malas Sekolah Daring

“Tapi anak saya nggak paham sama sekali belajar daring. Kalau saya tidak bantu, nanti nilainya bagaimana?”

Kembali pada hakikatnya, menyekolahkan anak adalah memberikan pendidikan lewat proses bukan sekedar orientasi hasil. Bila anak tidak paham mengenai konten pembelajaran, maka tugas Anda memberikan pendampingan dan berdiskusi dengan guru mengenai metode yang bisa dilakukan untuk membantu kelancaran belajar mengajar, baik di sekolah maupun di rumah (dengan Anda). Membantu anak dengan mengerjakan tugas dan ujiannya hanya akan memperparah situasi dan membuat anak semakin lalai dan menghindari tanggung jawab. 

Adakah dampaknya jika orang tua mengerjakan tugas sekolah anak? 

Segala tindakan yang tidak efektif akan berdampak buruk baik bagi anak maupun orang tua seperti: 

  1. Anak belajar cara menghindari dari tugas dengan alasan tidak paham 
  2. Kurangnya tanggung jawab anak akan kewajibannya 
  3. Anak terbiasa mengandalkan orang tua untuk menyelesaikan masalahnya 
  4. Menjadi cikal bakal kebohongan di masa mendatang (tidak menghargai kejujuran)
  5. Membentuk mindset bahwa hasil lebih penting daripada proses 
  6. Nilai tugasnya tidak bisa digunakan untuk menggambarkan kemampuannya
  7. Anak tidak mendapat pengetahuan yang harusnya diperoleh dari proses belajar, sehingga memengaruhi pengetahuannya di kelas selanjutnya. Fondasi belajar anak pun tidak kuat, bukan tak mungkin ia akan semakin kesulitan menyelesaikan tugas yang lebih menantang di kelas lanjutan.

Baca: Agar Hubungan Guru dan Orang Tua Tetap Harmonis Selama Pandemi

Bagaimana agar anak tetap mengerjakan tugasnya selama sekolah daring?

Pada dasarnya, Anda perlu membangun komunikasi pada anak bahwa belajar yang dilakukan dari rumah sama halnya dengan di sekolah sehingga ia harus menyelesaikan sendiri apa yang menjadi tanggung jawabnya. Anda bisa memberi bantuan selama tidak mencederai nilai kejujuran. 

Selain itu, orang tua dan guru perlu menjalin komunikasi mengenai proses belajar dan waktu belajar daring agar lebih efektif dan realistis sehingga anak bisa menyelesaikan tugas sekolahnya dengan baik. Anda pun bisa memberikan fasilitas yang nyaman untuk anak belajar di rumah. Kondisi belajar yang kondusif serta aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan anak selama istirahat jam belajar, bisa membantu mood anak untuk tetap semangat belajar daring. 

 



Tanya Skata