Banyak orang tua yang ikut stres menjelang anaknya ujian, apalagi jika sang anak belum paham arti pentingnya ujian. Namun, semakin besar usia anak, hal sebaliknya bisa saja terjadi. Anak lah yang merasa cemas dan stres menjelang ujian, yang dikenal juga dengan istilah test anxiety. Test anxiety muncul sebagai respon dari kondisi yang penuh tekanan, dalam hal ini adalah ujian. Wujudnya bisa bermacam-macam seperti berkeringat, tangan gemetar, perut mulas, atau mendadak lupa jawaban padahal sebelumnya sudah paham. Hormon adrenalin lah yang berperan menimbulkan gejala fisik tersebut.

Penyebab anak merasa stres menjelang ujian bisa beragam, seperti:

  • Adanya beban untuk mendapat nilai bagus
  • Sifat perfeksionis (kecewa jika berbuat salah, tidak mendapat hasil sempurna)
  • Merasa tidak siap ujian (bisa karena tidak paham materi, belum belajar, atau kurang tidur)

Bisa juga, anak stres karena takut orang tua marah ketika hasil ujian tidak sesuai ekspektasi. Padahal, ujian sejatinya adalah cara mengetahui kemampuan anak, bukan semata ajang pembuktian apakah anak tergolong “pintar” atau tidak. Jangan sampai, anak merasa stres menjelang ujian karena mereka salah memahami makna ujian yang sesungguhnya, akibat orang tua, guru, dan lingkungan masih “mendewakan” ujian). 

Tapi kan, wajar merasa tegang menjelang ujian.

Benar, namun Anda harus waspada ketika anak tidak dapat mengendalikan rasa tegang atau cemas hingga ia menjadi tidak fokus mengerjakan ujian. Anda pun mungkin pernah mengalaminya ketika mendadak “nge-blank” saat presentasi atau harus membaca berulang kali untuk memahami satu pertanyaan saja. 

Lalu, apa yang bisa saya lakukan agar anak tidak stres menjelang ujian?

Tentu saja, Anda harus tenang terlebih dahulu. Jangan sampai Anda meminta anak untuk tenang namun Anda bolak-balik mencecarnya dengan persiapan ujian dan target-target yang harus dipenuhinya.  Setelah memastikan Anda tidak merasa cemas, Anda bisa melakukan hal berikut:

1. Diskusi dengan anak mengenai esensi ujian 

Ujian sebenarnya adalah cara untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai suatu hal. Jadi, jika hasil ujian anak kurang baik, bisa diartikan bahwa ia kurang menguasai materi dan harus belajar lebih giat lagi. Bukan lantas ia tidak pintar dan selamanya demikian, apalagi sampai menentukan nasibnya di masa depan. Namun, banyak yang memahami tujuan ujian semata untuk mendapat nilai bagus, apalagi jika nilai ini akan menentukan kelulusan. Nah, jika anak memang ingin lulus dengan nilai baik, beri pemahaman bahwa ia memiliki kesempatan untuk belajar dengan lebih rajin selama ia menjadi pelajar, bukan hanya sehari sebelum ujian. Buka matanya bahwa dengan ujian, ia akan mengetahui poin apa saja yang menjadi kekurangan dan kelebihannya. Dengan ini, anak akan lebih realistis memandang ujian dan bisa mengukur seberapa besar usaha yang diperlukan untuk berhasil. 

2. Tingkatkan kesiapan dengan (lebih sering) belajar

Kurang persiapan dan kurang memahami materi menjadi sumber kecemasan menjelang ujian. Apalagi, dalam konteks pembelajaran jarak jauh dengan jam pelajaran terpangkas. Bertanya pada Google menjadi jalan pintas, namun sebatas untuk menjawab tugas. Anak tidak paham, sementara online learning membuat penjelasan guru menjadi terbatas. Jika ini masalahnya (dan Anda tak mampu menjelaskan materi tersebut), mencari situs maupun video terkait materi yang sulit bisa Anda sarankan pada anak, begitu juga dengan bertanya pada teman yang lebih paham atau mencari guru les. Apabila anak sudah paham, motivasi ia untuk menambah kesiapan ujian dengan belajar lebih sering. Semakin banyak berlatih, semakin ia menguasai materi, semakin ia merasa siap. Stres menjelang ujian pun bisa dikendalikan. 

3. Sampaikan tips dan trik agar ujian lebih mudah dikerjakan

Anak usia SD yang baru saja mengenal ujian tentu belum menguasi tips sederhana seperti melewati soal yang sulit agar tidak kehabisan waktu. Anda bisa memberi tahu hal sederhana semacam ini, plus mengingatkan bahwa kejujuran lebih penting daripada hasil baik lewat cara yang curang. Jika ujian berbentuk presentasi, tips yang mungkin relevan adalah membuat slide dengan desain menarik namun isi yang singkat, manajemen waktu, serta teknik menenangkan diri ketika ketegangan mulai membuyarkan konsentrasi.

4. Ucapkan kalimat motivasi

Meski sepele, kalimat motivasi dari Anda akan sangat berarti baginya. “Ibu tahu Kakak sudah belajar giat selama ini. Kakak pasti bisa menjawab banyak soal dan hasilnya akan lebih baik dari yang Kakak kira,” adalah salah satu contohnya. Kalau anak menjawab dengan keraguan, jangan buru-buru menyanggahnya. Validasi perasaannya dengan kalimat, “Ibu tahu kamu cemas, ujian memang sering membuat takut.” Baru kemudian lanjutkan dengan kalimat motivasi seperti, “Ibu percaya kamu akan memberikan yang terbaik.”

Terakhir, yakinkan anak bahwa apapun hasilnya kelak, hal tersebut tidak akan membuat anak lebih buruk di mata Anda, apalagi sampai mengurangi rasa sayang Anda.