Mengapa Anak Mudah Menyerah?

“Ra, kemaren sabeum (pelatih) Peter laporan katanya kamu nggak mau latihan lagi. Kenapa?“

“Iya, tendanganku nggak bagus jadi diulang-ulang terus. Aku nggak mau ah taekwondo lagi!”

“Loh, kalau belum bagus tandanya kan musti lebih banyak latihannya? Kok mau berhenti?”

“Nggak ah, aku mau ganti ekskul aja.”

Rasanya cepat sekali anak berkata enggan, menggugurkan niat ketika terjadi hambatan. Rara, salah satunya. Padahal, awalnya Rara yang meminta ibunya untuk ikut ekskul taekwondo dan ini baru kali kedua ia latihan. Inginnya tentu anak bisa konsisten dengan pilihannya dan tidak mudah menyerah akan sesuatu. Tapi, di sisi lain, ibu Rara pun tak ingin memaksakan kehendaknya. Kalau sudah begini bagaimana menghadapinya, ya?

Pertama, cari tahu mengapa ia mendadak ingin berhenti. 

Contoh kasus Rara, ia ingin berhenti karena merasa gagal dalam melakukan tendangan. Bisa jadi, ia memang merasa tidak sanggup melakukannya atau ada rasa tidak nyaman yang lain. Tekanan, misalnya. Ketika sang ibu bertanya, rupanya Rara merasa malu saat harus melakukan tendangan berulang di depan teman-temannya karena ia tak mampu melakukannya dengan benar. Jika Anda mengalami situasi yang sama, jangan langsung berasumsi, tanyakan pada Ananda mengapa ia ingin berhenti. 

Lalu, coba ajak anak untuk menuliskan hal positif dan negatif dari kegiatannya. 

Saat anak masih dalam kondisi tidak nyaman, tentu saja akan banyak daftar negatif dari kegiatan yang ingin ia hentikan. Tunggu momen yang tepat, bicara saat anak sudah merasa nyaman. Ajak ia untuk menuliskan apa yang ia suka dan tidak suka, serta hal positif dan negatif yang ia dapat. Kalau menurut Rara, ia senang dengan taekwondo karena bisa menyalurkan hobinya dan merasa lebih bugar setelahnya. Ia pun senang mendapat teman-teman baru dan berbagi pengalaman. Namun, ia tak senang ketika sabeum menyuruhnya mengulang tendangan di depan teman-temannya seolah menjadi contoh yang salah. Hal ini membuat percaya dirinya turun dan enggan melakukannya lagi. 

Baca: Mengapa Remaja Lebih Suka Ekskul daripada Belajar

Ketiga, cari solusi bersama. 

Tentu saja, Anda sebagai orang tua ingin anak untuk tetap meneruskan kegiatan yang sudah ia lakukan. Siapa yang ingin anak tidak tuntas dalam melakukan sesuatu, walaupun hanya sekedar ekskul? Apalagi, ada kekhawatiran kejadian tersebut akan terulang kembali jika Anda membiarkannya menyerah di tengah jalan. Sebelum berpikir jauh, pikirkan dulu kenyamanan anak dan alasan di balik ia menyerah. Setelah berdiskusi dan menemukan alasan mengapa ia ingin berhenti, kini saatnya Anda memberikan masukan (juga semangat) untuknya kembali berjuang. “Kamu nggak senang ya, Ra kalau dijadikan contoh gitu. Kalau gitu, coba besok bilang sama sabeum, kalau Rara ada yang salah boleh nggak dipisah sama teman-teman ketika membetulkan kesalahan soalnya Rara tidak nyaman kalau harus ditonton semua orang,”

Berikan pemahaman dan solusi untuk anak. “Kalau Rara malu menyampaikan, coba nanti Ibu bantu sampaikan, ya.. Tapi Rara tetap semangat latihan lagi. Mau, ya?” Tetap berikan semangat dan kepercayaan bahwa ia tetap bisa melanjutkan. Jelaskan bahwa hambatan pasti ada, itu bagian dari proses menuju sukses. Kalau tak pernah melewati tantangan, sukses menjadi tak berarti, bukan? 

Baca: Ketika Anak Ingin Menjadi Seorang Atlet

Jika anak bersikeras untuk berhenti.. 

Boleh saja, karena kita tidak bisa memaksakan kenyamanan anak. Namun, ini boleh dilakukan jika ia sudah berusaha lagi setelah hambatan yang terjadi. Tandanya, ia sudah berusaha tapi ternyata sudah tidak nyaman untuk melangkah. Kecewa? Pasti ada. Tapi, proses belajar dan berani untuk mencoba lagi setelah kendala, menjadi pengalaman dan pelajaran berharga untuk anak. Ia akan belajar untuk berpikir lagi sebelum memutuskan sesuatu dan berhati-hati dalam mengambil keputusan di kemudian hari. Dan ini, adalah salah satu antisipasi anak untuk menyerah di tengah jalan. 

 

 



Tanya Skata