Orang tua mana yang tidak bangga anaknya pintar di sekolah. Nilai bagus, berprestasi, rajin. Namun, tidak semua anak sependapat dengan orang tuanya. Beranjak remaja, anak mulai melihat dunia yang lebih luas daripada sekadar belajar di sekolah. Bermacam ekstrakurikuler (ekskul) yang mengakomodir minatnya tersedia di sekolah maupun di luar sekolah. Kursus coding hingga skateboard bisa dicoba, apalagi jika teman-temannya menggandrungi aktivitas tersebut. Apa yang sedang tren, harus dicoba. Masalahnya, bagaimana jika lama kelamaan anak lebih “tekun” dengan ekskulnya daripada dengan sekolahnya?

Sebagai orang tua, jangan buru-buru menceramahi anak dengan pentingnya sekolah atau kalimat “mau jadi apa nanti?”. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, baik dari remajanya sendiri maupun dari faktor di luar diri remaja. Berikut adalah hal yang mungkin jadi penyebab remaja lebih menyukai ekskul daripada sekolah:

1. Ekskul merupakan minat dan hobinya

Sama seperti anak yang tak lepas dari mainan favoritnya, remaja pun bisa “lupa waktu” jika ekskul yang dipilihnya adalah hal yang benar-benar ia minati dan sesuai dengan hobinya. Menurut Dr. S. Ausim Azizi, Ketua Jurusan Neurologi di Temple University’s School of Medicine, melakukan hobi atau minat yang disukai dapat mengaktifkan bagian otak yang menghasilkan rasa senang. Tidak hanya itu, melakukan ekskul yang disukai juga dapat merangsang bagian otak yang berhubungan dengan kreativitas dan pikiran positif. Remaja pun menjadi lebih termotivasi (baik secara emosional maupun intelektual) untuk terus melakukannya, hal yang mungkin tidak mereka rasakan ketika belajar.

2. Berkembangnya kemampuan menentukan pilihan berikut risikonya

Sewaktu SD, anak banyak mengikuti keputusan orang tua. Saat SMP atau SMA, remaja mulai bisa mengambil keputusan sendiri, seperti memilih ekskul yang ia minati. Jika ternyata ekskul pilihannya menghabiskan banyak energi, seperti basket, sepakbola, paskibra, serta menyita lebih banyak waktu menjelang kompetisi, maka remaja pun mau tidak mau mengikuti jadwal latihan yang telah ditentukan pelatih dengan segala risikonya. Mereka tahu pelajaran akan sedikit terkorbankan, namun mereka tetap menjalani ekskul dengan semangat karena itu sudah menjadi pilihan mereka. Jika remaja tidak menikmati ekskul tersebut, sudah pasti ia memilih untuk keluar. 

Baca: Ajak Remaja Rencanakan Masa Depan, Ini Caranya

3. Atmosfer belajar yang tidak menyenangkan

Tidak semua siswa menyukai kegiatan belajar di sekolah karena berbagai hal, seperti jenis pelajaran, metode penyampaian oleh guru, atau atmosfer belajar yang penuh tekanan, termasuk target dari orang tua. Ini belum termasuk masalah pribadi seperti konfik dengan guru atau keterbatasan kemampuan remaja untuk memahami pelajaran. Mereka pun gagal menikmati proses belajar dan menjalaninya semata karena merupakan kewajiban dan fase hidup yang harus dilalui. Inilah mengapa ketika ekskul muncul dan bisa membangkitkan motivasi dan kesenangan, remaja yang sudah memiliki masalah dengan proses belajar di sekolah dengan mudah mengalihkan fokusnya pada ekskul.

4. Merasa “gagal” dalam pelajaran

Parameter yang hingga kini masih dianut oleh kebanyakan guru dan orang tua tentang “anak pintar” adalah mereka yang memiliki nilai yang bagus, bisa mengikuti hampir semua pelajaran dengan baik, dan patuh terhadap aturan sekolah. Remaja yang sejak awal percaya bahwa dirinya tidak memenuhi kriteria tersebut bisa merasa “gagal” di sekolah dan kehilangan motivasi untuk belajar. Apalagi, jika mereka terlanjur mendapatkan label negatif dari guru dan orang tua. Menurut Mark E Gould, seorang pakar pendidikan di Australia, sekolah selama ini tidak didesain untuk menumbuhkan self-efficacy, yaitu kepercayaan seseorang akan kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu. Jika ekskul muncul dan mampu menumbuhkan self-efficacy pada remaja, orang tua tidak perlu heran mengapa remaja pun menjadi lebih senang menyibukkan diri dengan ekskulnya. 

Baca: Hati-Hati, Beri 'Label' pada Anak Bisa Berdampak hingga Dewasa

5. Tidak merasa mendapatkan manfaat langsung dari pelajaran sekolah

Ketika kemampuan berpikir remaja makin berkembang, bukan tidak mungkin mereka mulai berpikir apa manfaat belajar rumus fisika dan struktur biji tumbuhan jika kelak mereka ingin menjadi desainer grafis? Sebagian remaja yang cukup terganggu dengan pikiran ini akan lebih banyak mencurahkan fokusnya untuk hal yang manfaatnya dapat mereka rasakan secara langsung dan berkontribusi terhadap cita-citanya kelak, seperti ekskul.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan jika anak mengalami hal di atas? 

Melarangnya mengikuti ekskul tentu bukanlah solusi. Bagaimanapun juga, ekskul memberi banyak manfaat untuk mengembangkan potensinya. Yang perlu Anda diskusikan dengan anak adalah manajemen waktu dan komitmen sebagai seorang pelajar. Minta anak untuk membuat jadwal kegiatan harian dan memastikan baik belajar dan ekskul mendapat porsi. Pada waktu ujian sekolah maupun kompetisi, porsi salah satu bisa diperbanyak. Yang penting, ingatkan selalu bahwa tanggung jawabnya sebagai pelajar tidak boleh diabaikan.

 

 



Tanya Skata