Bicara soal cita-cita, banyak orang tua generasi milenial yang masih melihat profesi idaman seperti orang tua mereka dahulu. Siapa yang tak mendamba jika anak menjadi seorang dokter, arsitek, pengusaha, dan mungkin pengacara. Jarang ada di benak, hobi anak menjadi cita-cita yang ingin mereka capai di kemudian hari. Atlet salah satunya. Ketika anak ingin mengikuti suatu cabang olahraga tertentu, dukungan orang tua sebatas menyalurkan hobi dan mengeluarkan waktu yang bermanfaat ketimbang bermain gadget atau sibuk dengan media sosial. Hingga satu waktu, anak mengatakan ingin serius menekuni cabang olahraga tersebut dan ingin menjadi atlet. Siapkah Anda menerimanya? 

Ya, terkejut bisa menjadi reaksi pertama ketika anak memutuskan ingin menjadi atlet. Anda mungkin akan mempertanyakan keseriusannya, lalu mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika ia benar menginginkannya. Apakah profesi ini kelak bisa menopang hidupnya? Bisakah ia tetap menyelesaikan pendidikan tinggi? Bagaimana jika suatu hari nanti kondisi fisiknya tidak lagi prima dan menjadi atlet sudah tak lagi menghasilkan? 

Tenangkan diri dan terima kenyataan

Pertama, Anda harus tetap tenang. Olahraga adalah suatu hal yang positif, sekaligus berpotensi untuk menghasilkan. Lepaskan dulu profesi idaman yang ada di benak Anda karena bagaimanapun juga anak bukanlah sarana untuk meraih mimpi Anda yang tak tercapai. Kalau memang pelatih atau guru mengatakan anak Anda berbakat dan tekun menjalaninya, apa yang Anda khawatirkan? Terima hal ini sebagai anugerah dan fokuslah memberi dukungan penuh pada apa yang Ananda inginkan. Dukungan orang tua tentu membuatnya lebih semangat berlatih dan mengejar mimpinya. 

Paparkan “beratnya” usaha seorang atlet

Ajak anak berdiskusi berdua (atau bertiga dengan pasangan) mengenai apa saja yang akan ia jalani untuk menjadi seorang atlet. Paparkan anak pada sebanyak mungkin informasi mengenai suka duka menjadi atlet sehingga anak tidak hanya melihat yang indah-indah saja seperti hadiah ketika menang kompetisi. Jika ia memutuskan untuk masuk klub, tanyakan kesanggupannya untuk tetap melakukan kewajibannya sebagai pelajar. Jika jalannya berlanjut hingga pelatnas, tanyakan kesanggupannya untuk ditempa berjam-jam sehari serta hidup jauh dari orang tua. 

Sediakan makanan bergizi seimbang

Seorang atlet tentu memerlukan vitalitas yang berbeda dengan orang umumnya. Sehingga, asupan pun sangat menentukan stamina di lapangan juga keseharian. Jika anak ingin menjadi seorang atlet, maka sediakan makanan alami dan bergizi seimbang yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Beri tambahan vitamin bila perlu. Tak lupa, istirahat yang cukup untuk memastikan tubuhnya memiliki waktu untuk memulihkan tenaga, memperbaiki koordinasi antar bagian tubuh, serta konsentrasi yang baik khususnya jika sedang berkompetisi.

Baca: 5 Manfaat Kompetisi Bagi Remaja

Atur jadwal aktivitas dengan baik

Jika Ananda masih duduk di bangku sekolah, maka pendidikan sekolah tetap menjadi prioritas. Bukan mengesampingkan cita-cita, namun pendidikan di bangku sekolah tetap dibutuhkan untuk masa depan anak. Perlu adanya pembagian waktu yang seimbang antara sekolah dan minat yang ingin ia tekuni. Olahraga bisa menjadi tidak sehat jika dilakukan terus menerus tanpa jeda. Bicarakan pada pelatih untuk menentukan jadwal latihan yang terencana tanpa membuat Ananda terlalu letih hingga membuat kualitas belajar di sekolah menjadi menurun. 

Siapkan anggaran 

Seperti halnya profesi lain, untuk menjadi atlet juga diperlukan modal yang tidak sedikit. Misalnya saja, ketika anak ingin menjadi pesepakbola profesional Anda harus merogoh biaya sekitar 1,75 juta rupiah, belum termasuk iuran bulanan tergantung dari jumlah pertemuan yang diinginkan. Untuk pertemuan seminggu sekali membutuhkan biaya sekitar 750 ribu rupiah tiap bulannya. Tentunya akan lebih mahal jika Ananda diikutkan kelas khusus untuk mempertajam kemampuannya. Namun, ini tentu akan membuahkan hasil jika Ananda tekun dan menjadi pesepakbola yang diminati klub besar. Saat ini, penghasilan atlet profesional berkisar dari 2,6 juta hingga 10 juta per bulan. Ini belum termasuk tambahan penghasilan ketika memenangkan turnamen, ya. 

Baca: 3 Hal Dasar Agar Anak Cerdas Mengelola Keuangan

Perlunya mental yang kuat 

Menjadi olahragawan membutuhkan dedikasi dan ketekunan yang tidak main-main. Pada perjalanannya, bukan tak mungkin Ananda merasa lelah karena aktivitas fisik yang dijalaninya. Anda perlu bisa menyemangati dan kerap mengingatkan bagaimana ia ingin berada di posisi yang ia idamkan suatu hari nanti. Dengan begitu, anak akan tidak mudah menyerah dan memiliki jiwa petarung yang tinggi. Ingatkan juga bahwa tak apa sesekali mengalami kekalahan. Seperti pepatah, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Asalkan tetap konsisten, pantang menyerah, dan fokus pada proses bukan tak mungkin Ananda bisa menjadi salah satu yang berada di podium kebanggaan. Bukan cuma Anda, tapi juga mengharumkan nama negara. Siapa yang tak bangga, kan? 

 

 

 



Tanya Skata