Dunia remaja sarat akan sosialisasi, masa dimana mereka mulai mengenal potensi dan kemampuan diri serta memahami dampaknya di kehidupan sosial. Kondisi ini pun sarat akan adanya persaingan atau kompetisi.

Dimulai dari bangku sekolah, remaja sudah diajarkan untuk berkompetisi sejak dini. Dilatih untuk berlomba dalam mendapatkan nilai yang terbaik. Walaupun saat ini, sebagian besar sekolah sudah tak lagi menerapkan sistem peringkat pada anak didiknya, namun kompetisi masih tetap berjalan. Baik dalam mendapatkan posisi di organisasi sekolah, berlomba mendapat peringkat terbaik saat kompetisi matematika, atau dalam kegiatan ekstrakurikuler di luar pelajaran sekolah. 

Tak dipungkiri, selalu ada pro dan kontra mengenai kompetisi. Di satu sisi, anak belajar menghadapi kekalahan dan menghargai kemenangan. Namun, di sisi lain kompetisi membuat anak menjadi ambisius sehingga lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Banyak orangtua menganggap kompetisi hanya akan menimbulkan stres dan kecemasan pada anak, serta mengucilkan kemampuan spesial yang dimiliki tiap anak. Rasa tidak percaya diri pun kerap muncul saat anak menghadapi sebuah persaingan. Walau demikian, ternyata kompetisi juga memiliki beragam manfaat jika disikapi dengan persaingan yang sehat.

Seperti apa sih persaingan sehat itu? 

Perlu kita pahami, bahwa kompetisi sendiri bukan sesuatu yang buruk, namun cara dalam menghadapi kompetisi yang seringkali disalahgunakan sehingga menjadi tidak sehat. Ketika anak hanya paham akan kemenangan atau hasil akhir, mereka kerap tidak menghargai proses. Sehingga ketika mereka kalah, akan menjadi hantaman berat yang berakibat berkecil hati hingga patah semangat. Di sini tugas kita, orang tua untuk menanamkan pada mereka sebuah persaingan sehat dimana proses dan usaha merekalah yang dinilai, sehingga hasil akhir hanya sebagai penentuan menang atau kalah dan bagian dari pembelajaran untuk lebih baik. Sehingga anak belajar mau berubah, terus mencoba, belajar dan berkembang. Ketika anak sudah memahami persaingan sehat, mereka akan dengan mudah mengambil manfaat dari sebuah kompetisi.

Apa saja manfaat kompetisi bagi remaja? 

1. Menciptakan perasaan positif 

Saat berhasil memenangkan sebuah kompetisi dengan proses yang sehat, perasaan puas yang positif pun akan muncul. Perasaan ini yang kemudian mampu meningkatkan rasa percaya diri, meredam emosi negatif, hingga menjadikan remaja mampu mengatasi rasa takut dan perasaan tidak aman. Menurut Vicki Zakrzewzki, direktur pendidikan The Greater Good Science Center University of California, semenjak masa pra sekolah anak sudah siap dengan persaingan dan paham akan keinginan mereka. Sehingga, ketika beranjak dewasa persaingan menjadi hal yang natural dan kemenangan menjadi kepuasan tersendiri. 

2. Mengenali potensi diri 

Tidak semua anak bisa menghadapi persaingan. Melalui observasi dalam sebuah kompetisi, kita dapat mengenal karakter anak dan bagaimana mereka menyikapi sebuah masalah. Ketika mereka mengalami kekalahan, di situlah kita menilai apakah anak mampu berada dalam sebuah kompetisi, ataukah mereka lebih nyaman menonjolkan keistimewaannya di luar persaingan. Tak perlu dipaksakan jika memang kompetisi bukan jalan yang tepat untuk proses pembelajaran. Walaupun, kekalahan bisa memicu semangat untuk kembali belajar memperbaiki diri alih-alih berdampak negatif pada kepercayaan diri. 

Baca: Agar Potensi Remaja Menjadi Prestasi

3. Memahami arti sportivitas  

Emosi yang terjadi saat kompetisi memang tidak selalu mudah diterima. Walau demikian, saat remaja mengenal kemenangan dan kekalahan, mereka juga mengenal sportivitas. Mereka belajar menghargai usaha dari kompetitor (sebagaimana mereka memahami proses yang sama untuk mendapatkan kemenangan). 

4. Meningkatkan kemampuan bersaing di era global 

Menurut Sir Digby Jones, kompetisi pada anak bisa mempersiapkan mereka untuk terjun dalam ekonomi global di kemudian hari. Mereka telah mengenal proses bersaing sejak dini dan mengenal komunikasi efektif serta cara bekerja sama. Remaja yang biasa bersaing pun memiliki ketahanan dan ketekunan yang berbeda dengan mereka yang tak pernah bersaing dalam sebuah kompetisi, serta memiliki tabungan skill dan kemampuan bersaing era global yang bisa segera diterapkan. 

5. Mampu mengendalikan stres 

Banyak yang tidak tahu bahwa stres adalah sebuah reaksi psikologis untuk membantu kita menjadi lebih baik. Dengan catatan, jika kita menghadapinya dengan cara yang benar. Menang atau kalah bisa menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana kita mengajarkan mereka untuk menyikapinya. Kompetisi membuat remaja siap akan adanya realita buruk pada hidup lewat sebuah kekalahan. Mereka akan lebih menghargai kemenangan saat pernah mengalami kekalahan. Selain itu, kekalahan bisa jadi proses pembelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

 

 

 

 



Tanya Skata