Tidak ada yang menduga bahwa sebuah virus akan mengubah cara manusia menjalani hidup, termasuk cara bersekolah. Pandemi Covid-19 seolah “memaksa” guru, murid, dan orang tuanya untuk mengandalkan teknologi agar proses transfer ilmu dapat terus berlangsung. Sayangnya, penggunaan teknologi semacam ini ternyata tidak sepenuhnya bisa menggantikan pembelajaran tatap muka. Banyak kendala yang muncul, mulai dari akses teknologi yang tidak merata, kemampuan ekonomi, orang tua yang harus bekerja sehingga anak tak ada yang mendampingi, hingga masalah kesehatan mental orang tua dan anak. Ketika akhirnya pemerintah pusat membolehkan daerah untuk melakukan sekolah tatap muka, cukup banyak orang tua yang menyambut gembira.

Survei Siap Sekolah 2021 yang diadakan Skata akhir Desember lalu pada 159 orang tua di 18 provinsi menunjukkan bahwa sebanyak 43,4% orang tua setuju sekolah tatap muka kembali diadakan. Apa saja alasan mereka mengizinkan Ananda kembali ke sekolah di tengan kondisi pandemi yang belum berakhir? 

1. Belajar di rumah tidak efektif

Sebagian sekolah bisa mengadakan sesi Zoom, ada pula yang hanya memberikan materi tertulis maupun video via WhatsApp. Meskipun demikian, pemangkasan jam belajar ini berdampak pada tidak efektifnya school from home. Selain kreativitas guru menjadi terbatas (misal tidak bisa melakukan fun learning dengan berbagai media, khususnya pada jenjang TK dan SD), anak sekolah pun tidak selalu bisa fokus 100% saat guru menjelaskan. Akibatnya, masih banyak anak yang tidak paham namun tidak berani bertanya. Ada juga yang sudah dijelaskan berulang namun tetap tidak paham. Akhirnya, tugas yang diberikan guru mereka tanyakan pada Google. 

Banyak kasus, anak dibebani banyak tugas namun penjelasan dari guru kurang maksimal. Di jenjang yang lebih rendah, kurangnya waktu tatap muka dengan guru membuat orang tua harus bisa diandalkan untuk menjawab segala pertanyaan anak tentang berbagai mata pelajaran. Orang tua pun bisa menjadi stres dan hilang kesabaran ketika anak tetap tidak paham. Akhirnya, target pencapaian anak yang pada situasi normal bisa dicapai dalam satu semester misalnya, menjadi meleset. Inilah yang disebut learning loss yang dapat diartikan sebagai ketertinggalan pelajaran yang berakibat menurunnya kualitas pembelajaran. Di AS contohnya, learning loss ini berupa kemampuan siswa yang tertinggal 9-12 bulan dari waktu seharusnya. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa dampak learning loss ini baru dapat dilihat di masa depan. Dan, menurunnya kualitas pendidikan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh dunia.    

2. Anak butuh bersosialisasi

Sejatinya, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, namun juga tempat untuk berinteraksi dengan teman dan guru. Dari sinilah anak mengembangkan kemampuannya bersosialisasi yang kelak akan bermanfaat saat mereka dewasa. Inilah mengapa banyak orang tua menyekolahkan anaknya sejak dini. Kemampuan sosialisasi ini tentu tidak tercapai dalam pembelajaran jarak jauh mengingat bentuk interaksinya akan berbeda ketika anak bersosialisasi secara langsung dan dengan perantaraan teknologi. Pada anak usia yang lebih matang, interaksi dengan teman mungkin masih bisa terjalin lewat dunia maya, meskipun interaksi dengan guru mungkin jauh berkurang. Pada anak usia dini, orang tua harus mampu menyediakan lingkungan bersosialisasi yang aman bagi anak, pun jika hanya orang tua lah teman anak berinteraksi. Hal ini tentu dapat menimbulkan kebosanan dan kejenuhan, baik bagi anak dan orang tua.

3. Pendidikan karakter tidak bisa dilakukan secara daring

Pendidikan dalam keluarga memang tempat pertama untuk membangun karakter anak. Namun, sekolah dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan karakter melalui pengembangan kemampuan kognitif, sosial, dan adaptasi anak. Kepercayaan diri, saling menghormati, bertanggung jawab, solidaritas, perilaku kasih sayang, tentu tidak bisa diasah secara daring. Kalaupun bisa, hasilnya tentu tidak semaksimal jika anak mempelajarinya dalam lingkungan nyata di sekolah. 

4. Anak kurang disiplin di rumah

Orang tua merasakan benar sulitnya menyuruh anak belajar dan mengerjakan tugas, hingga kesulitan ini berdampak pada menurunnya kualitas belajar anak. Tentu, kesulitan ini tidak dirasakan guru di sekolah. Dari survei di atas, orang tua banyak yang mengeluhkan bahwa anak sering menyepelekan belajar, menunda mengerjakan tugas, hingga akhirnya orang tua yang panik dan marah-marah ketika anak gagal mengumpulkan sesuai tenggat waktu. Manajemen waktu anak pun berantakan karena tidak semua bisa disiplin kapan harus belajar, kapan harus bermain, kapan harus beribadah. Banyak kasus, anak sibuk dengan ponselnya karena orang tua pun sibuk bekerja. Terlalu banyak hal yang memecah konsentrasi anak jika belajar mandiri di rumah. 

Tidak adanya sekolah tatap muka ternyata membuka mata orang tua bahwa anak ternyata belum memiliki motivasi internal (dorongan dari dalam diri sendiri) untuk belajar. Tentu, ini menjadi PR bagi orang tua dan guru untuk menumbuhkan rasa senang belajar pada anak, baik secara daring maupun tatap muka.

5. Sekolah sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat

Kepercayaan orang tua akan sudah baiknya protokol kesehatan yang dimiliki oleh sekolah anak mereka juga menjadi alasan mengapa mereka mengizinkan anak kembali ke sekolah. Ruang kelas dengan sirkulasi udara yang baik, tersedianya wastafel tambahan, pengaturan jarak antarmeja adalah beberapa yang membuat orang tua lebih tenang. Ini juga bergantung dengan jenjang sekolah dan kedisiplinan menggunakan masker dan menjaga jarak.

Meskipun alasan di atas menunjukkan betapa besar kerugian yang dihadapi anak menyangkut pendidikan mereka, tetap lihat situasi dan kondisi sebelum memutuskan anak untuk kembali ke sekolah. Sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak mematuhi protokol kesehatan. 

 

 

 



Tanya Skata