Pernahkah amarah Anda meledak (snapping) hanya karena masalah sepele? Misal, anak tak sengaja menumpahkan susu ke karpet dan bentakan pun meluncur dari mulut Anda. Terkadang, amarah ini juga disertai dengan tindakan seperti meraih lengan anak dengan kasar atau membanting barang. Padahal, di waktu lain Anda bisa mengendalikan respon ketika anak melakukan kesalahan yang tak kalah “merepotkan” seperti mengacak-acak isi lemari atau mengabaikan perintah. Apa sebenarnya yang membuat kesabaran para orang tua begitu tipisnya hingga amarah meledak dan berujung penyesalan?

Sebelum menjawabnya, Anda perlu mengetahui lebih dahulu bahwa manusia memiliki bagian otak bernama amygdala yang merespon ancaman dan rasa takut layaknya otak binatang. Respon ini berupa tindakan otomatis tanpa proses berpikir, yang berbentuk fight-or-flight (melawan atau melarikan diri). Tindakan agresif (termasuk amarah) merupakan salah satu “karya” amygdala ketika Anda menerima ancaman. Penulis buku Why We Snap, R. Douglas Fields, PhD, mengungkapkan ada 8 hal yang menyebabkan tindakan agresif tersebut, yaitu:

1. Ancaman terhadap nyawa

2. Ancaman terhadap keluarga atau pasangan

3. Pelanggaran terhadap teritori/daerah kekuasaan

4. Pelanggaran terhadap aturan

5. Kekurangan sumber daya (makanan, harta dan sejenisnya)

6. Kondisi terjebak/terpojok

7. Hinaan 

8. Sentimen kelompok

Idealnya, amygdala dikontrol oleh bagian otak yang mengatur logika, yaitu hipotalamus. Nah, ketika amarah meledak, hipotalamus mendadak tidak dapat berkomunikasi dengan amygdala. Ibaratnya, hipotalamus "terbajak" oleh amygdala. Inilah mengapa ketika amarah mereda, logika Anda mulai mengambil alih dan muncul penyesalan.

Adakah cara untuk mencegah amarah meledak?

Setiap orang memiliki batas kesabaran. Belajar mengenali apa saja “tombol” yang bisa membuat amarah Anda meledak saat anak “memencet”nya adalah langkah pencegahan yang paling awal.  Agar hasilnya akurat, miliki buku catatan khusus tentang apa saja yang membuat Anda meledak, di waktu apa hal ini terjadi, apa yang sedang Anda lakukan pada saat itu, dan apa respon Anda. 

Misalnya, anak Anda menolak segera mandi padahal sesi belajar online akan segera dimulai. Penyebab nomor 4 (pelanggaran terhadap aturan) muncul. Anda pun membujuk anak tapi tak berhasil hingga kelas akhirnya dimulai. Anda merasa tak tahu harus bagaimana lagi (kondisi terpojok), sementara Anda masih lapar dan kelelahan karena sepagian membersihkan rumah dan memasak (kekurangan sumber daya). Dalam kondisi penuh tekanan ini, amarah Anda bisa meledak.

Baca: Latih Diri Kendalikan Emosi dengan Mindfulness

Namun, dengan rutin mencatat kejadian seperti ini, Anda lebih mudah mengenali kapan umumnya kesabaran Anda sedang sangat tipis dan kapan amarah ini paling sering muncul, apakah saat sibuk persiapan aktivitas di pagi hari, saat acara di luar rumah, atau saat menjelang tidur, misalnya. Jika sudah mengetahui polanya, Anda akan lebih mudah mencegah lepas kendali.

Tentu saja hal ini membutuhkan strategi dan latihan. Ketika pagi datang, Anda bisa membangunkan anak lebih awal agar ia bisa lebih lama mengkondisikan diri untuk belajar. Atau, Anda bisa memotong sayur di malam hari sehingga waktu masak lebih pendek di pagi hari. Jika anak tetap malas-malasan dan Anda mulai merasa jantung lebih kencang berdegup, nafas mulai pendek-pendek, segera menyingkir sebelum amarah meledak dan Anda menyesal (lalu anak menangis dan akhirnya tidak bisa mengikuti pelajaran).

Baca: 7 Cara Meredakan Emosi Anak

Tapi…

Mencatat dan mengingat kapan amarah meledak tidak akan bermanfaat jika Anda sedang stres atau frustrasi. Setiap orang tua pasti memiliki masalahnya masing-masing, misalnya jauh dari pasangan, ekonomi keluarga sedang sulit, konflik saat serumah dengan mertua, yang tidak mungkin harus segera diselesaikan agar bisa mengasuh anak dengan baik. Salah satu cara membuat diri Anda merasa lebih baik adalah memastikan segala kebutuhan pribadi Anda terpenuhi, yang dikenal juga dengan nama self-care. Makan, mandi, istirahat, bersosialisasi, melakukan hobi meski sebentar, merupakan bentuk merawat diri yang bisa membuat kondisi emosi lebih baik.

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata