Di sebuah pertemuan sekolah, dua orang wali murid sedang berkomentar tentang Aldri, seorang anak yang mendapat “label” bandel dari para guru. “Ssst, itu tuh yang namanya Aldri. Denger-denger, ibunya dipanggil lagi sama wali kelas gara-gara Aldri masih sering ngelawan guru.”

“Tapi Bu, Aldri itu anaknya sopan sekali lho kalau main ke rumah saya. Tiap datang selalu menyapa, pulang pun pamit. Bahkan, dia sering bawain makanan buat temen-temennya kalau kerja kelompok.”

“Masa sih? Jangan-jangan dia korban labelling ya?”

Apa itu labelling?

Secara sederhana, labelling adalah identitas yang diberikan pada orang yang memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Dalam kasus Aldri, pemberian label atau julukan negatif tersebut disematkan oleh guru karena perilakunya dianggap tidak sopan. Meskipun perilaku melawan guru hanya terjadi beberapa kali, misalnya, namun "label: bandel tersebut terlanjur melekat pada Aldri. Julukan yang berulang diterima inilah yang menurut Howard Becker, sosiolog yang membuat teori labelling, dapat masuk ke dalam pikiran sehingga perilaku orang tersebut menjadi sesuai dengan labelnya. 

Labelling ini tidak hanya dilakukan oleh guru ke murid, namun juga bisa dilakukan oleh kawan sebaya atau mereka dengan usia yang lebih tua. Labelling juga bisa terjadi dalam komunitas manapun, tak terkecuali dalam lingkup keluarga. Seringkali orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, biasa memberi predikat sesuai “keunikan” masing-masing. Misal, si kakak keras kepala dan si adek anak pemalu. Secara tidak sadar, kita sudah melakukan labeling pada anak. Walaupun efek labelling berbeda bagi setiap anak, namun dampak negatifnya akan lebih besar, tak hanya pada saat itu namun juga ketika anak beranjak dewasa. Kenapa demikian? 

Baca: Ayah, Ibu, Yuk Bantu Bangun Konsep Diri Remaja

Labeling memengaruhi konsep diri

Usia prasekolah (3-4 tahun) merupakan masa yang paling penting untuk pembentukan konsep diri anak. Respon orang sekitar mereka terhadap mereka akan membantu anak merasa bangga dengan dirinya atau sebaliknya. Pakar parenting Adele Faber dan Elaine Mazlish dalam buku Liberated Parents, Liberated Children menyebutkan bahwa citra diri anak bagaikan semen basah: apapun yang orang tua berikan pada anak akan menempel dan membentuk karakter hingga dewasa. Label negatif pada anak tentu akan memengaruhi persepsi anak tentang dirinya. Begitu pula remaja. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Sage Journals menunjukkan bahwa remaja bermasalah yang menerima label “bermasalah” memiliki konsep diri yang lebih rendah dari remaja bermasalah yang tidak menerima labelling dari lingkungannya.

Perilaku anak menjadi sesuai dengan labelnya 

Ketika anak berulang kali disebut ‘si badung’ atau ‘si pembuat onar’, lama kelamaan mereka meyakini bahwa diri mereka memang sesuai dengan labelnya dan akan berperilaku sesuai dengan yang dilabelkan. Pada kenyataannya, label tersebut muncul bukan karena mereka terlahir badung atau memang berniat untuk membuat onar, namun orang dewasa di sekitar mereka yang gagal memahami apa arti di balik ulah tersebut, apa masalah yang dialami anak hingga perilaku tersebut muncul. Bukan hanya label negatif yang membawa pengaruh, label yang kesannya terkesan positif pun dapat memiliki efek serupa. Anak yang sering dipanggil ‘ratu kecilku’ misalnya, bisa sulit diminta membersihkan kamarnya sendiri karena merasa bahwa seorang ratu akan selalu dibantu orang lain. 

Baca: Yuk, Ajak Remaja Aktif Mengerjakan Tugas Rumah Tangga

Labelling “menutupi” kebaikan anak

Pada contoh kasus Aldri, dampak labelling pada dirinya membuat orang menjadi buruk sangka. Kepeduliannya pada teman, kesopanannya, menjadi tak terlihat. Labelling menutupi kebaikan dirinya. Ini membuat guru maupun orang tua gagal menilai anak secara objektif. Anak pun juga sulit melihat kebaikan dirinya. Ini yang berbahaya, khususnya pada remaja yang sedang dalam proses pencarian jati diri. Kita sebagai orang tua perlu mengenali sifat anak, tanpa meninggalkan komunikasi dua arah. Saat terjadi situasi negatif, tanyakan pada anak mengapa ia melakukan hal tersebut dan kembali tanyakan saat ia mengulanginya lagi. Beri arahan, bukan julukan. Anak perlu melihat dirinya sebagai pribadi yang positif sehingga dalam prosesnya sifat yang positif ini yang akan mereka ingat dan tanam dalam diri. 

Inilah pentingnya melakukan pengasuhan dengan kesadaran penuh. Saat anak mulai berperilaku tidak kooperatif, tahan lisan untuk memberi label. Kritik perilakunya, bukan pribadinya.

 

 



Tanya Skata