Tak terasa kita sudah berada di awal tahun mengucap selamat tinggal pada tahun 2020 dan siap menyambut tahun yang baru. Walau sayangnya, kita belum juga berpisah dengan pandemi Covid-19. Kita masih berhadapan dengan kondisi prihatin dan waspada. Anak-anak pun masih harus berhadapan dengan sekolah daring, setelah hampir satu tahun lamanya. Rutinitas yang kian membosankan tanpa ada aktivitas fisik tatap muka membuat anak menjadi malas sekolah. Membangunkan mereka menjadi sulit, hampir tak ada semangat. Ada kalanya, mereka merasa ‘terpaksa’ sehingga sekolah tak lagi dianggap menyenangkan hingga seringkali mereka bersikap tak acuh saat tatap muka daring. Ketika ini terjadi, bagaimana seharusnya kita bersikap?

1. Turunkan ekspektasi pada anak 

Memang benar, sekolah tak hanya sekedar menggali ilmu tapi juga berkompetisi dalam memperoleh nilai yang baik. Ketika nilai menurun selama pandemi, saatnya turunkan pula ekspektasi. Saat ini, mereka tak butuh nilai tinggi. Untuk bisa secara konsisten tetap melakukan tatap muka daring (yang bagi mereka mungkin membosankan) sudah menjadi nilai plus yang harus kita hargai. Beri apresiasi pada anak. Berterima kasih setiap mereka mau sekolah, bisa menjadi pacuan semangat bagi mereka. 

Baca: Ini Beda Homeschooling dengan School From Home

2. Jangan paksa diri untuk menjadi guru yang sempurna 

Tenang, orang tua bukan guru sekolah mereka dan tak perlu bersusah payah menjadi sempurna. Cukup dengan berada di samping Ananda ketika mereka melakukan tatap muka, serta berusaha menjelaskan semampu kita ketika mereka tak paham. Jika kita harus bekerja, baik di luar maupun work from home, biarkan mereka berusaha fokus saat sekolah daring dan jangan paksakan untuk melakukan tugas saat itu juga. Titipkan pada asisten atau penanggung jawab di rumah, sempatkan untuk mengulang pelajaran bersama Anda di malam harinya. Ingat, jangan jadikan ini sebagai beban. 

3. Tawarkan anak untuk mengerjakan tugas di lain waktu

Ketika mood anak benar-benar tidak ingin belajar, tawarkan untuk mengerjakan tugas di lain waktu tanpa melebihi batas pengumpulan tugas. Memang benar, memiliki jam belajar rutin membuat anak lebih disiplin. Namun, ada kalanya kejenuhan dan berbagai faktor lain membuat otak mereka sangat tidak siap bekerja. Kita pun pernah mengalaminya. Jika memutuskan untuk menunda pekerjaan, sepakati bersama pukul berapa ia akan mengerjakannya agar anak tidak melupakan tanggung jawabnya. 

4. Ubah cara belajar menjadi lebih kreatif

Ketika anak tidak bisa konsentrasi saat belajar daring dan memilih untuk pasif ketika guru menjelaskan, saatnya kita "turun tangan" untuk mengubah cara penyampaian materi menjadi lebih kreatif agar suasana belajar lebih menyenangkan. Caranya? Dengan mengulang pelajaran ketika sesi daring usai. Misal, anak sulit menangkap konsep perkalian, gunakan Lego atau balok untuk memudahkan penjelasan. Sulit memahami bacaan dalam pelajaran Bahasa Indonesia? Singkirkan sejenak buku pelajaran dan pilih buku cerita yang menarik namun tetap bisa mengaplikasikan materi yang diajarkan. Jika perlengkapan kreativitas kita terbatas, misal materi tentang tata surya, cari videonya di YouTube. Sesuaikan video dengan usia anak. 

Baca: Anti Gaptek, Ketahui Aplikasi untuk Belajar di Rumah

Sekolah daring memang menjadi kurang menyenangkan saat dilakukan terlalu lama. Tak hanya untuk anak, tapi juga untuk kita para orang tua. Namun, jangan jadikan kondisi ini menjadi penambah beban bagi anak. Mereka perlu memahami bahwa sekolah tetap penting, walau dengan cara yang berbeda. Tidak mengapa untuk rehat sesekali ketika mereka sudah tidak nyaman. Tapi jangan kelewat batas, ya. Ingat, kontrol tetap ada di tangan kit asembari pahami apa yang anak butuhkan.  Lakukan apa yang bisa kita lakukan dan jangan fokus pada apa yang tak bisa kita kendalikan. 

 

 



Tanya Skata