Lepasnya IUD (intra uterine device) secara spontan merupakan salah satu komplikasi pemasangan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Walaupun kondisi ini jarang terjadi, namun tetap perlu disampaikan sebagai bahan edukasi terhadap pasien agar pasien dapat mengantisipasi kejadian tersebut. Lepasnya IUD tanpa disadari (ekspulsi spontan) dapat menyebabkan terjadinya kehamilan. IUD ini dapat lepas seluruhnya dan bisa juga lepas sebagian (ekspulsi parsial) yang artinya IUD sudah tidak berada di tempatnya lagi. Hal ini dapat menyebabkan pasien sering mengalami flek vagina dan siklus haid yang terganggu.

Apa sih yang membuat IUD bisa lepas sendiri?

Waktu pemasangan, jenis persalinan, dan jumlah persalinan yang dialami, usia akseptor, serta tipe IUD memengaruhi risiko terjadinya ekspulsi. Keinginan atau kebiasaan menggunakan menstrual cup juga perlu menjadi perhatian penting karena juga dapat menyebabkan IUD terlepas. 

1. Waktu pemasangan

Pertimbangan mengurangi kunjungan ke dokter dan keinginan pasien untuk langsung dipasang IUD setelah persalinan menyebabkan tingginya permintaan pemasangan IUD langsung setelah plasenta lahir. Padahal, sejumlah studi menunjukkan bahwa pemasangan IUD langsung setelah persalinan (kurang dari 48 jam setelah kelahiran bayi) meningkatkan frekuensi IUD lepas sendiri sebanyak 6 kali lipat dibanding yang dilakukan setelah masa nifas selesai. Penyebabnya adalah karena setelah persalinan, rahim masih berkontraksi untuk kembali ke ukuran semula (sebelum hamil) dan membuat IUD terdorong keluar dari vagina. 

2. Jenis persalinan 

Angka lepasnya IUD 5 kali lipat lebih tinggi pada persalinan per vaginam dibanding dengan operasi Caesar. Sayangnya, penelitian yang telah dilakukan sangat terbatas dan belum dapat membuktikan lebih lanjut alasan pasti yang mendasarinya. 

3. Jumlah persalinan

Risiko IUD lepas sendiri lebih tinggi pada wanita yang belum pernah melahirkan karena faktor adaptasi tubuh yang berusaha ‘mengeluarkan’ benda yang dianggap asing bagi tubuh.

4. Usia akseptor

Usia akseptor yang sangat muda yang mungkin dikaitkan dengan belum adanya pengalaman melahirkan dapat menjadi alasan mudahnya terjadi ekspulsi spontan IUD.

5. Tipe IUD

Tipe IUD juga menjadi penyebab IUD lepas sendiri. Pada suatu penelitian, didapatkan bahwa pemasangan IUD hormonal lebih tinggi tingkat ekspulsinya dibanding dengan IUD non hormonal yang banyak digunakan di Indonesia. Namun, penelitian lain justru membuktikan sebaliknya. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk memastikan hipotesa ini.

6. Menstrual cup 

Tindakan melepas menstrual cup terkadang dapat membuat IUD ikut terlepas atau benang IUD yang panjang dapat tersangkut pada menstrual cup dan menyebabkan IUD lepas sebagian.

7. "Jam terbang" tenaga kesehatan

Selain beberapa faktor tersebut, tak bisa dipungkiri bahwa tingkat keterampilan tenaga kesehatan pun turut melatarbelakangi tepat tidaknya pemasangan IUD yang tentunya menjadi faktor yang turut memengaruhi terjadinya ekspulsi. Tingginya ‘jam terbang’ tenaga kesehatan baik bidan, dokter, atau dokter kandungan jarang menyebabkan IUD lepas sendiri. 

Dapatkah terlepasnya IUD dicegah?

Untuk pencegahan, IUD sebaiknya dipasang setelah nifas selesai. Agar pemasangan lebih nyaman, lakukan pada saat pasien sedang mengalami menstruasi. Setelah pemasangan IUD, lakukan kontrol ulang setelah haid pertama keluar atau 3-6 minggu kemudian. Agar lebih praktis, benang IUD dapat di cek sendiri dengan cara:

1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

2. Berjongkoklah dengan nyaman

3. Masukkan jari perlahan ke dalam liang vagina dan raba dengan lembut benang IUD

4. Cuci tangan kembali dengan sabun dan air mengalir.

5. Waspadai bila benang tidak teraba atau justru teraba lebih panjang, yang menandakan bahwa IUD mengalami ekspulsi.

6. Segera ke dokter atau bidan untuk penanganan lebih lanjut apakah dengan mencabut dan mengganti IUD dengan yang baru atau beralih ke metode kontrasepsi lainnya.

Bila saat kontrol ternyata IUD sudah lepas sebagian, atau sudah tidak berada pada tempatnya, dianjurkan untuk mencabut IUD supaya tidak menyebabkan perlukaan pada saluran reproduksi terutama robekan pada rahim. 

 

 

 

 

Referensi :

1. Rekomendasi Praktik Terpilih pada Penggunaan Kontrasepsi WHO Edisi Ketiga 2016

2. Intrauterine Device Expulsion after Postpartum Placement: A Systematic Review and Meta-analysis 

 

 



Tanya Skata