Lazimnya, hubungan seks yang sehat adalah dengan memasukkan penis ke lubang vagina. Namun, terkadang hasrat berhubungan seks muncul ketika timbul fantasi gaya baru yang berbeda, mulai dari improvisasi saat foreplay (petting, seks oral, fingering) hingga melakukan seks anal. Aktivitas seksual dengan memasukkan penis atau jari tangan ke dalam lubang anus ini memang bisa dinikmati sebagian orang. Namun demikian, tak semua menyukainya. Karena selain rasa yang tak wajar, seks anal juga memiliki beragam kerugian. Benarkah demikian? 

Baik dilakukan secara suka sama suka maupun terpaksa, seks anal sama-sama memiliki risiko tinggi menimbulkan infeksi virus maupun infeksi bakteri. Tak hanya itu, seks anal bisa menimbulkan luka pada anus dan organ di sekitarnya, bahkan bisa memicu kanker anus. 

“Sewajarnya, anus atau dubur memang tidak dipersiapkan untuk menerima masuknya benda asing dari luar, apapun itu,” jelas Prof. Dr. dr. Ari F. Syam, Sp.PD-KGEH. Peran anus hanya sebagai jalur keluar feses atau kotoran sehingga bagian tubuh itu memang rentan dengan bakteri dan sumber infeksi. Jika ada benda dimasukkan ke dalam anus tanpa pelumas, dinding anus dan bagian poros usus (rektum) menjadi rentan mengalami luka. Inilah kemudian yang menjadi cikal bakal infeksi dan virus. 

Prof. Ari juga menjelaskan ada beberapa penyakit kelamin yang disebabkan oleh seks anal, di antaranya Human Immunodeficiency Virus (HIV), Herpes Simplex, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Human Papiloma Virus (HPV). Infeksi bakteri juga bisa memunculkan penyakit seperti gonorea, klamidia, sifilis, dan shigelosis. Gejalanya bervariasi, mulai dari diare yang berdarah dan berlendir, luka infeksi, bisul dan radang seputar dubur dan rektum, hingga timbul nyeri yang makin kuat saat buang air besar. Ini semua bisa berujung fatal, yaitu kanker anus. 

Selain itu, sebuah studi yang dilakukan American Journal of Gastroenterology terhadap 4.170 orang dewasa yang melakukan seks anal, sebanyak 37,3% wanita dan 4,5% pria yang melakukannya dalam jangka waktu lama memiliki risiko tinggi terkena fecal incontinence. Yaitu, kondisi dimana anus kehilangan kemampuan mengontrol sehingga feses bisa keluar tak terkendali.

Seks anal juga bisa memperbesar kemungkinan sobeknya garis anus atau rektum yang disebut fissure atau sobekan besar. Terkadang, sobekan ini sangat besar hingga melebar ke usus dan bagian lain dalam tubuh yang disebut fistula. Walaupun kasus ini sangat jarang, tapi sangat mungkin terjadi. Bahayanya lagi, jika terjadi fistula, infeksi bakteri bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain dan diperlukan operasi untuk menyembuhkannya. 

Jadi, jika Anda masih tetap ingin melakukan seks anal sebaiknya gunakan lubrikan saat melakukan namun akan lebih bijak untuk tidak melakukannya. 

 

 

 



Tanya Skata