“Tahu nggak sih, belakangan aku suka kerasa sakit kepala dahsyat sampai mual. Apalagi, di waktu-waktu padat pagi hari saat anak-anak sekolah di rumah.”

“Oh ya, dari kapan gejalanya?”

“Sejak pandemi deh.. Sudah periksa ke dokter tapi semua aman, malah hasil bagus”

“Wah, jangan-jangan kamu psikosomatis” 

Psikosomatis yang berasal dari kata pikiran (psyche) dan fisik (soma) adalah sebuah gangguan yang melibatkan pikiran dan fisik di satu waktu. Gejala fisik bisa diperparah dengan faktor mental seperti cemas dan stres, sementara kondisi mental bisa memengaruhi gejala fisik kapan pun. 

Bagaimana cara mengetahui seseorang mengalami gejala psikosomatis?

Rasa cemas dan stres bisa menyebabkan gejala fisik seperti tubuh gemetar atau tremor, mual muntah, tubuh berkeringat, sakit kepala, nyeri dada, detak jantung kencang, sesak napas, dan masalah pencernaan seperti asam lambung (GERD), diare, atau sembelit. Gejala fisik ini muncul karena meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh, salah satunya pelepasan hormon adrenalin (epinefrin) dalam aliran darah. 

Biasanya, gejala psikosomatis bisa terlihat dari penderita yang kerap berganti dokter untuk memastikan penyakit yang dideritanya. Walaupun, jawaban dari semua dokter akan kondisi fisiknya tetap sama, yaitu tak ada gangguan signifikan jika dilihat dari ada tidaknya infeksi, peradangan, atau cedera tubuh. Hal ini berbeda dengan psikosomatis yang rasa sakitnya dipengaruhi faktor emosi, sehingga biasanya dokter akan menyarankan untuk memeriksakan diri pada spesialis kesehatan mental seperti psikiater. 

Lalu bagaimana cara menyembuhkan psikosomatis? 

Menurut dr. Irmia Kusumadewi SpKJ(K), tubuh manusia menyatu dengan pikiran, persepsi, dan perasaan sehingga gangguan dan gejala saling berhubungan. Maka, terapi penyembuhan psikosomatis pun harus dilakukan secara holistik atau menyeluruh. Caranya? Melakukan terapi obat dan terapi psikologis secara bersamaan. 

Terapi psikologis dapat berbentuk psikoterapi, yaitu konsultasi interaktif antara pasien dan dokter untuk mencari pemicu stres dan depresi pada penderita. Terapi perilaku kognitif juga bisa dilakukan untuk mengetahui pola pikir dan perilaku penderita agar selanjutnya bisa dianalisa dan melakukan terapi lanjutan yang sesuai. 

Perlu diketahui bahwa tiap gangguan memiliki opsi pengobatan yang berbeda. Pengobatan fisik penting untuk membantu mengurangi gejala yang muncul. Walau demikian, tenaga ahli biasanya fokus pada kesehatan mental dan keadaan penderita yang menjadi penyebab psikosomatis. 

 

 



Tanya Skata