Kala pandemi, para ibu dituntut untuk semakin pintar melakukan berbagai hal dalam satu waktu alias multitasking. Apalagi dengan situasi anak harus bersekolah di rumah, peran ibu bertambah menjadi guru di tengah kesibukan urusan rumah tangga yang tak kunjung usai. Sebagai ibu, Anda sering menjadi panik karena harus mengerjakan hal lain di saat pekerjaan sebelumnya belum usai. Misal, anak sulung sibuk memanggil karena tidak paham dengan pelajaran via daring, sementara Anda sedang memandikan si bungsu. Semua menumpuk menjadi satu sehingga Anda mendadak menjadi “monster” bagi anak. Anak tak nyaman belajar, Anda pun lelah fisik dan mental. Padahal, Anda bisa mempraktikkan mindfulness untuk "memegang kendali" kekacauan tersebut.  

Pernahkah mendengar istilah mindfulness? 

Jika belum, mindfulness adalah kemampuan dasar manusia untuk bisa tetap hadir secara sadar di satu situasi. Cirinya, saat sedang melakukan sesuatu Anda tidak mudah terganggu dengan keadaan sekitar. Misal, saat Anda makan, Anda benar-benar sadar sedang menyuapkan makanan ke mulut dan merasakan setiap kunyahannya.

Walaupun mindfulness adalah sebuah proses natural, namun tak semua bisa menjalankannya apalagi dalam situasi penuh tekanan. Saat Anda sadar akan apa yang dilakukan dan fokus pada hal tersebut tanpa terpikir apa hal yang harus dilakukan di waktu bersamaan, Anda sudah berhasil bersikap mindful. Kuncinya adalah membangunkan dan menyeimbangkan cara kerja mental, emosi, dan proses fisik yang terjadi. 

Bagaimana caranya agar bisa tetap mindful dalam situasi sulit? 

Menurut Jon Kabat-Zinn, penggagas praktik mindfulness untuk mengurangi stres, mindfulness ‘menyalakan’ bagian otak Anda yang biasanya tidak aktif saat melakukan pekerjaan rutin. Misal, Anda menyiapkan sarapan sembari membangunkan anak, kemudian mencuci piring, layaknya robot dengan mode otomatis. Saat multitasking semacam ini tentu Anda tak bisa bersikap mindful. Akibatnya, Anda bisa marah ketika anak berteriak memanggil Anda karena Anda tidak sadar sedang dalam keadaan lelah. Mindfulness bisa terjadi saat Anda fokus pada keadaan saat itu dengan bijak dan penuh pengertian, tanpa ada penghakiman. Jika dalam kondisi tadi Anda bersikap mindful, sebelum Anda marah Anda bisa merasakan napas mulai memendek, menderu, dada seperti bergemuruh, sehingga bisa berhenti sejenak dan mencegah emosi meluap.

Meskipun terdengar sulit, sebenarnya mindfulness bisa dilatih dalam keseharian, seperti lewat meditasi dan latihan napas. Misal, saat nada notifikasi ponsel berbunyi, jangan langsung mengambilnya. Berhenti dan atur napas terlebih dahulu. Atau, saat emosi sudah memuncak ketika menemani anak belajar di rumah di tengah "lautan" pekerjaan domestik, sempatkan untuk stop, atur napas, dan fokus pada apa yang bisa dikerjakan saat itu. Jangan pikirkan cucian menumpuk, belum sempat beberes, dan hal lain. Fokus dan hadir pada kebutuhan anak saat sekolah. 

Belajar mindfulness lewat meditasi dan napas 

Mindfulness membantu Anda membuat jarak antara diri sendiri dan reaksi, sehingga kita tak cepat reaktif terhadap suatu kondisi. Untuk menciptakan mindfulness dalam keseharian, coba cara berikut. 

1. Latihan mengatur napas

Menurut psikiater dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K), hal yang paling mudah dilakukan untuk melatih mindfulness adalah dengan mengatur napas. Saat keadaan tegang, coba diam sejenak. Tarik napas beberapa detik, kemudian hembus perlahan. Setelah tenang, barulah kembali melakukan aktivitas. Anda bisa mempelajari cara bernapas yang benar lewat komunitas breathwork atau mengunduh aplikasi Breath di ponsel Anda. 

2. Observasi dan hadir di tiap momen

Tujuan dari mindfulness bukan memberhentikan pikiran atau mencapai suatu ketenangan, namun lebih kepada berikap fokus dan memberi perhatian di satu momen tanpa bersikap reaktif atau menghakimi diri. 

3. Meditasi

Lewat meditasi, Anda bisa berlatih mindfulness dalam keseharian. Anda pun bisa melakukannya saat sembahyang. Dengan belajar fokus saat berdoa, Anda sekaligus melatih mindfulness untuk berserah dan selalu hadir tanpa menghakimi. 

4. Luangkan waktu

Ya, ketiga cara di atas akan menunjukkan hasil ketika Anda berusaha meluangkan waktu untuk melatihnya. Bernapaslah secara sadar dan berhenti sejenak ketika lelah.  

Memang, mudah untuk dikatakan belum tentu mudah untuk dilakukan. Namun, dengan berlatih tiap hari, Anda akan menemukan celah untuk bisa menempatkan mindfulness dalam keseharian untuk menciptakan kesejahteraan fisik juga mental. 

 

 

 



Tanya Skata