Memiliki rasa belas kasih pada diri sendiri (self-compassion) sebenarnya tak berbeda dengan rasa kasih terhadap orang lain. Perlu Anda pahami bahwa rasa akan bisa muncul ketika ada empati terhadap orang lain. Anda tak bisa merasakan belas kasih jika tak paham penderitaan mereka. Misal, saat tak acuh pada pengemis pinggir jalan, tentu Anda tak bisa merasakan penderitaan yang ia rasakan sehingga rasa belas kasih pun tak akan muncul. Saat Anda bisa merasakan simpati bahkan empati terhadap penderitaan orang lain, Anda akan merasakan rasa hangat, nyaman, dan keinginan untuk membantu dengan kebaikan tanpa menghakimi. Inilah kemudian yang disebut rasa belas kasih (compassion) terhadap sesama. 

Lalu, bagaimana dengan belas kasih terhadap diri sendiri? 

Belas kasih pada diri sendiri sama halnya seperti yang Anda lakukan pada orang lain. Bedanya, Anda melakukannya untuk diri sendiri. Saat mengalami masa sulit, kegagalan atau menemukan hal yang Anda tak suka dari diri -alih-alih mengabaikan emosi dan tidak peduli- rasakan dan katakan “ini memang masa sulit, bagaimana saya bisa melewatinya dengan nyaman dan tetap peduli pada kesejahteraan diri di kondisi ini?”

Anda tidak sempurna dan tak perlu menjadi sempurna. 

Untuk mencapai kebahagiaan dan kenyamanan, Anda mungkin akan mencoba beberapa cara. Ini karena Anda peduli dengan diri sendiri, bukan sebagai pelampiasan rasa tidak berguna atau tidak menerima kekurangan. Yang terpenting, memiliki belas kasih terhadap diri berarti Anda menghargai sisi kemanusiaan dan menghargai diri. Tak semua bisa berjalan sesuai keinginan. Anda akan merasakan frustrasi, kehilangan, akan membuat kesalahan, menerpa batasan diri, hingga terpaksa terjatuh karena suatu hal yang tidak sesuai idealisme. Ini hal yang manusiawi. Tapi, ketika bisa membuka hati untuk menerima kenyataan dan berjuang untuk menghadapinya, Anda semakin bisa merasakan belas kasih terhadap diri serta orang lain. 

Sayangnya, ada hambatan yang biasanya muncul dari dalam diri ketika Anda berusaha untuk melakukan self-compassion, yaitu:

1. Penghakiman diri 

Saat hal yang tak diinginkan terjadi, Anda bisa terjebak menghakimi diri dengan mulai mengaitkan pribadi Anda dengan sejumlah sifat negatif. Yang berbahaya adalah jika penghakiman diri ini membuat Anda tidak bisa menerima diri Anda apa adanya. Saat pikiran ini muncul, saatnya Anda mulai berbelas kasih pada diri dengan menyadari bahwa kegagalan, ketidakmampuan, dan ketidaksempurnaan adalah hal yang manusiawi dan dirasakan oleh semua manusia. Pikiran ini akan menuntun Anda untuk memaklumi hal yang Anda belum berhasil lakukan sehingga Anda bisa menerima kegagalan dengan lebih ikhlas.

2. Merasa hanya dirinya yang menderita

"Kenapa usahaku selalu gagal? Kenapa dari dulu uang tidak pernah cukup? Kenapa orang lain masih bisa melakukan ini dan membeli itu?" dan sejumlah ratapan lain yang membuat Anda merasa diri Anda yang paling menderita, sementara orang lain bahagia. Keadaan yang tidak sesuai harapan ini seringkali membuat orang menarik diri karena merasa merasakan penderitaan sendirian. Jika ini terjadi pada Anda, cek faktanya. Ya, faktanya, tidak ada orang yang tidak pernah mengalami cobaan. Menjadi manusia, kodratnya akan mengalami kondisi tidak nyaman, membuat kesalahan, dan tidak sempurna. Self-compassion membuat Anda menerima kondisi tersebut dan memahami bahwa ini adalah perjalanan hidup yang tak hanya terjadi pada diri sendiri. 

3. Menyangkal emosi atau malah berlarut-larut dalam penderitaan 

Self-compassion juga sulit dilakukan jika Anda berusaha menyangkal/menekan emosi negatif yang Anda alami. Ibarat luka, bagaimana bisa sembuh jika Anda berpura-pura tidak ada darah di lutut Anda? Anda harus sadari bahwa luka itu memang ada, baru dapat diobati. Atau, bisa juga sebaliknya, yaitu Anda membiarkan diri terbawa emosi negatif yang berlarut-larut. Apabila hal ini mulai terjadi, jawab dengan jujur apa yang Anda rasakan. Apakah lelah mengurus anak yang berkebutuhan khusus? Kecewa karena pasangan tidak memberi cukup perhatian? Apapun itu, terima emosi yang ada agar Anda dapat berbelas kasih pada diri sendiri, mengatakan pada diri bahwa perasaan tersebut manusiawi. Dari situlah Anda bisa mulai menenangkan diri dan mencari solusi, alih-alih tersandera perasaan tak berdaya. 

Pandemi menjadi contoh kondisi dimana kita bisa berlatih menyayangi diri sendiri. Contohnya, saat berjibaku dengan urusan sekolah anak di rumah, kadang Anda menjadi tak sabar dan meluapkan emosi yang berujung merasa diri tak pantas menjadi ibu yang baik, atau menghakimi diri karena tak mampu menjalankannya. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, pahami bahwa kondisi ini tak akan berlangsung selamanya. Setiap ujian adalah pembelajaran agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ingat selalu, ketika Anda bisa berbelas kasih pada diri sendiri layaknya melakukan pada orang lain, Anda telah "berinvestasi" pada kebahagiaan Anda dan keluarga di masa depan.