“Jangan nangis, nangis itu tanda lemah!” 

“Kamu harus kuat, malu dilihat orang. Stop nangisnya.” 

Sekilas memang kalimat tersebut terlontar untuk membuat anak menjadi kuat, menjadi sosok yang tangguh dan tak mudah bersedih. Sayangnya, kalimat tersebut ternyata membawa dampak psikologis yang cukup berat untuk anak di kemudian hari dan bisa menjadi salah satu alasan seseorang menyakiti diri sendiri atau self-harm. Ketika masa kecil kita dilarang untuk merasakan emosi negatif seperti bersedih, sakit, kecewa, kita jadi tak terbiasa untuk mengungkapkan dan merasa perasaan secara emosional sehingga tak paham apa yang dirasakan. Saat kekecewaan hebat terjadi, self-harm seringkali menjadi pilihan. Sayatan, cakaran, dan aksi menyakiti tubuh lain menjadi jalan untuk merasakan kepedihan akibat emosi yang tak bisa diluapkan. Bukan untuk membunuh dirinya, hanya sekedar merasakan sakit yang nyata. 

Apa sih sebenarnya self harm itu? 

Adalah ketika seseorang menyakiti diri sendiri sebagai ungkapan perasaan lewat sayatan, cakaran, pukulan, gigitan, benturan kepala, tarikan rambut, hingga menelan sesuatu yang berbahaya. Tak hanya secara fisik, menyakiti diri sendiri bisa juga dengan tidak peduli akan kebutuhan emosional maupun fisik sehingga mudah menempatkan diri pada situasi yang berbahaya. Self-harm masuk dalam kategori nonsuicidal self-injury (NSSI), yaitu menyakiti tubuh secara sengaja tanpa berniat bunuh diri. Walau demikian, menurut dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K) ketika seseorang bisa melakukan self-harm hingga tak terkontrol dan terukur tindakannya, bunuh diri bisa terjadi.

Kenapa orang melakukannya? 

Alasan orang melakukan self-harm berbeda-beda tergantung pengalaman personal. Namun, yang banyak ditemui dari beberapa kasus self-harm datang dari beberapa faktor, di antaranya:

1. Pengalaman masa kecil 

Orang tersebut tak terbiasa meluapkan emosi dan dianggap lemah ketika mengeluarkan emosi negatif seperti menangis. Ia terbiasa memendam, sehingga tak paham akan ekspresi. 

2. Minimnya pengelolaan emosi 

Mereka dengan pengelolaan emosi yang baik bisa mengantisipasi saat mengalami kondisi berat. Namun, bagi mereka yang tak bisa mengenali dan mengekspresikan emosi lewat kata, self-harm menjadi pilihan untuk mengekspresikan emosi yang dirasakan. 

3. Alat penarik perhatian 

Ketika seseorang membutuhkan perhatian lebih yang tak ia dapatkan dari keluarga atau sekelilingnya, self-harm bisa menjadi alat penarik perhatian. Self-harm dirasa bisa menunjukkan betapa buruk kondisi yang sedang dialaminya, sehingga perlu dan pantas untuk diperhatikan. 

4. Pain offset relief 

Lazimnya, orang memberikan respon negatif terhadap rangsangan yang menyakitkan, namun ternyata rangsangan menyakitkan juga bisa membuat seseorang merasa bahagia dalam waktu singkat. Mekanisme ini dinilai layaknya orang menyakiti diri sendiri, sehingga rasa lega yang ditimbulkan setelah ia menyakiti diri menjadi sebuah addiction atau ketergantungan sehingga orang kembali menyakiti diri untuk merasa bahagia (walau sejenak). 

5. Adanya gangguan mental 

Terutama pada pikiran dan perilaku sehingga ia tak mampu menahan impuls dan dorongan untuk menyakiti diri. Lazimnya terjadi pada: 

-Mereka dengan riwayat depresi, kecemasan, skizofrenia dan gangguan kepribadian lain memiliki kemungkinan untuk melakukan self-harm. 

-Mereka yang dipengaruhi delusi dan halusinasi untuk melukai dirinya atau sesuatu yang mengganggu dalam dirinya. 

-Mereka yang merasa kosong dan ingin “merasakan sesuatu”. 

-Mereka yang putus asa dan tak kuasa menahan dorongan untuk melukai diri. 

 

Bagaimana mengobatinya? 

Dengan menghubungi tenaga profesional karena pengobatan akan menyesuaikan kondisi masing-masing penderita. Ada tiga pengobatan psikoterapi yang bisa dilakukan, yaitu: 

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang membantu mengidentifikasi perilaku negatif dan mengubah ke arah positif. 

2. Dialectical Behavior Therapy membantu mengatasi stres dan mengontrol emosi serta hubungan sosial.

3. Mindfulness–based therapies yang bisa membantu untuk tetap fokus pada keadaan dan kondisi sehingga menurunkan kecemasan dan depresi. 

4. Farmakoterapi yang disesuaikan dengan faktor yang menyebabkan perilaku self-harm. Fungsi obat-obatan tersebut adalah untuk menstabilkan neurotransmitter yang terganggu sehingga timbul halusinasi dan delusi, juga untuk menstabilkan mood, serta mengkontrol impulsnya.