Jika berbicara mengenai diabetes, sebenarnya terdapat 2 jenis diabetes yakni diabetes insipidus (disebabkan oleh gangguan hormon) dan diabetes mellitus (disebabkan oleh gangguan pada pakreas). Diabetes mellitus terbagi lagi menjadi diabetes tipe 1 yang tergantung insulin, diabetes mellitus tipe 2 (yang dikenal sebagai “penyakit gula” oleh orang awam), dan diabetes selama kehamilan (diabetes gestasional). Artikel ini khusus memaparkan mengenai pengobatan diabetes mellitus tipe 1 dan 2, apakah dapat diobati atau tidak.

Terapi obat-obatan pada diabetes mellitus

Sebagian besar kasus diabetes mellitus merupakan diabetes mellitus tipe 2. Akan tetapi, baik diabetes mellitus tipe 1 maupun tipe 2 belum dapat disembuhkan, bahkan pada diabetes tipe 1 pasien harus terus mendapatkan insulin seumur hidup. Sementara pada pasien diabetes tipe 2, target terapi dan pemilihan jenis obat bervariasi antar diabetisi terutama pada pasien dengan penyakit penyerta lain misalnya penyakit hipertensi, jantung, atau gangguan ginjal. Terapi farmakologis (menggunakan obat) yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi. Harapannya, dengan penyakit yang terkendali, kualitas hidup pasien akan meningkat. 

Baca: Komplikasi Diabetes Sebabkan Luka di Kaki Hingga Gangguan Seksual

Kontrol secara berkala ke dokter atau memantau gula darah mandiri menggunakan glukometer, penting untuk memastikan apakah target kadar gula darah yang diinginkan telah tercapai. Biasanya pemeriksaaan kadar gula darah dilakukan sebelum makan dan setelah makan atau sesuai kebutuhan misalnya saat puasa, sebelum berolahraga, atau selama kehamilan. 

Bila kadar gula darah belum tercapai, dokter akan menaikkan dosis obat secara bertahap, memberikan obat dengan kerja yang berbeda sebagai terapi kombinasi, atau mengganti dengan insulin jika target terapi tidak tercapai dengan konsumsi obat anti diabetik oral. Insulin juga dapat diberikan pada kondisi khusus misalnya pada pasien stroke, mengalami infeksi berat, atau bila ada gangguan fungsi hati atau ginjal berat. Namun, bila target terapi tercapai penggunaan obat tetap harus diteruskan untuk mempertahankan agar gula darah terjaga dalam batas normal.

Diabetes = ketergantungan obat?

Durasi penggunaan obat anti diabetes dalam jangka panjang kadang memunculkan anggapan bahwa pasien menjadi ketergantungan obat. Persepsi ini jelas salah karena pemberian obat tidak membuat pasien ketergantungan obat tapi merupakan kebutuhan pasien agar penyakit tidak bertambah parah. Rasa takut terjadi gangguan fungsi ginjal jangan menjadi alasan untuk tidak mengonsumsi obat. Justru, jika obat anti diabetes tidak digunakan secara teratur sangat cepat terjadi perburukan ginjal. 

Memang pada suatu penelitian di Jepang, pasien dengan tingkatan awal diabetes bisa berhenti mengonsumsi obat. Tentunya, perubahan pola hidup sehat yang ketat berperan dalam hal ini. Penelitian lainnya pada pasien lansia, dosis obat dapat dikurangi perlahan sampai dihentikan bila terjadi efek samping penurunan kadar gula darah yang drastis. Namun, ini tidak dapat dijadikan pedoman umum karena kondisi klinis pasien tentu saja berbeda. Konsultasi pada dokter pilihan Anda merupakan solusi yang tepat untuk menentukan terapi yang terbaik untuk Anda. Intinya, jangan sampai terjadi komplikasi  diabetes mellitus yang sangat membahayakan. 

Terapi tanpa obat pada diabetes mellitus

Selain pemberian obat, pendekatan non farmakologis (tanpa obat) tetap menjadi fokus utama. Konsumsi obat terasa sia-sia jika tidak dibarengi perubahan pola hidup sehat. Tips untuk membantu mengendalikan kadar gula darah antara lain:

  • Jaga berat badan agar tetap ideal. Caranya adalah dengan memperhatikan porsi makan dengan membatasi karbohidrat dan lemak terutama lemak jenuh dan trans dan memperbanyak serat dari sayur dan buah. Kadar gula alami pada buah tidak berbahaya selama porsinya tidak berlebihan. 
  • Gunakan pemanis yang tidak berkalori misalnya aspartam, sakarin, sukalosa, atau stevia.
  • Olahraga. Olahraga teratur sangat membantu menurunkan kadar gula darah, apalagi yang jenisnya aerobik misalnya jogging, bersepeda, atau berenang. Lakukan olahraga minimal 3 kali dalam seminggu, masing-masing selama 30-45 menit atau sekitar 150 menit per minggu sesuai anjuran WHO. Penting untuk diingat bahwa sebelum berolahraga sebaiknya lakukan pemeriksaan darah. Makanlah sebelum berolahraga bila kadar gula darah di bawah 100 mg/dl. Hindari dulu berolahraga bila kadarnya sangat tinggi sampai di atas 250 mg/dl. 
  • Hindari merokok dan konsumsi alkohol karena akan meningkatkan risiko komplikasi.
  • Hindari stres karena akan meningkatkan kadar gula darah.
  • Rawat kaki dengan selalu menggunakan alas kaki, jaga kelembaban kaki, dan potong kuku secara teratur. 

 

 

Referensi:

Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 Dewasa di Indonesia 2019

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI Edisi VI 2014

 



Tanya Skata