Kini, siapa yang tidak pernah mendengar tentang diabetes? Penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah ini semakin banyak dialami oleh masyarakat, bahkan dalam usia yang jauh lebih muda dari tahun-tahun sebelumnya. Efeknya pada kesehatan pun beragam, dari kebutaan hingga gangguan jantung. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien Covid-19 dengan diabetes cenderung mengalami kondisi yang lebih berat dan lebih banyak meninggal jika sudah masuk rumah sakit. 

Untuk memahami penyakit diabetes dengan lebih baik, Anda perlu tahu terlebih dahulu bahwa tubuh manusia memerlukan glukosa atau gula darah sebagai sumber energi untuk sel tubuh di otot dan jaringan. Gula darah ini berasal dari dua sumber, yaitu makanan dan hati. Agar bisa dimanfaatkan tubuh, glukosa memerlukan bantuan hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas. Hormon insulin berperan “membuka” pintu sel agar glukosa bisa masuk dan menjadi energi, sehingga kadar gula darah turun.

Diabetes terjadi ketika tubuh tidak bisa memproduksi insulin (disebut diabetes tipe 1) atau produksi insulin tidak cukup untuk mengubah semua gula darah menjadi energi (diabetes tipe 2) sehingga ada terlalu banyak gula dalam darah. 

Berapa gula darah yang normal?

Kadar gula darah naik turun sepanjang hari, tergantung makanan dan aktivitas fisik. Apabila puasa semalam, gula darah yang normal adalah 70-110 mg/dl atau setara dengan satu sendok teh gula dalam satu galon air. Jika gula darah puasa di atas 126 mg/dl dan 2 jam sesudah makan 200 mg/dl, dipastikan diabetes.

Apa penyebab diabetes?

Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh menyerang pankreas sehingga tidak dapat memproduksi insulin. Faktor genetik, infeksi virus, dan malnutrisi bisa jadi penyebabnya. Sementara pada diabetes tipe 2 yang umum dikenal dengan penyakit gula, pankreas masih bisa membuat insulin hanya saja kualitasnya buruk sehingga tidak bisa memasukkan gula ke dalam sel tubuh. Bisa juga, sel tubuh sudah tidak peka (resisten) pada insulin sehingga gula gagal masuk ke sel tubuh dan menumpuk di aliran darah. Kondisi ini dapat merusak kinerja organ-organ tubuh lainnya.

Gejala diabetes

Baik diabetes tipe 1 maupun 2 memiliki gejala yang hampir mirip, yaitu sering merasa haus, sering buang air kecil terutama di malam hari, sering merasa lapar, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, merasa lelah dan lemah, pandangan kabur, luka sulit sembuh, kesemutan, mudah kena infeksi, gatal pada kemaluan, gusi merah dan bengkak.

Siapa yang berisiko terkena diabetes?

Riset Dasar Kesehatan tahun 2018 menunjukkan bahwa dua pertiga penduduk Indonesia tidak mengetahui bahwa mereka menderita diabetes hingga akhirnya muncul komplikasi. Karena itu, penting untuk mengetahui hal-hal yang meningkatkan risiko Anda terkena diabetes.

Diabetes tipe 1 lebih berisiko dialami mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat yang sama, ras kulit putih, serta anak berusia 0-14 tahun. 

Sementara itu, kondisi di bawah ini membuat seseorang lebih berisiko terkena diabetes tipe 2:

  1. Memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25 (gemuk) atau 30 (obesitas). Delapan dari 10 penderita diabetes adalah mereka yang obesitas.
  2. Jarang bergerak. Aktif bergerak berarti menggunakan energi yang berasal dari glukosa serta membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin.
  3. Memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita diabetes tipe 2. Jika salah satu orang tua terkena diabetes, kemungkinan Anda 40% untuk menderita diabetes. 
  4. Berusia 40 tahun ke atas. Pada usia ini, kebanyakan orang mulai kurang gerak, akibatnya massa otot berkurang sehingga gula darah tidak terpakai dan menumpuk di aliran darah. Meskipun demikian, kini makin banyak anak muda terkena diabetes.
  5. Ada penumpukan lemak di bagian perut. Lemak akan memblokir kerja insulin sehingga gula tak dapat masuk ke dalam sel. Pada pria, risiko lebih besar jika lingkar perut lebih besar dari 101,6 cm, dan pada wanita pebih besar dari 88,9 cm.
  6. Memiliki riwayat diabetes gestasional atau diabetes karena perubahan hormon saat hamil. Atau, melahirkan anak dengan berat di atas 4 kg.
  7. Menderita PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, rambut tubuh berlebih, dan obesitas.
  8. Pradiabetes. Gula darah Anda di atas normal namun belum cukup tinggi untuk dikatakan diabetes, inilah prediabetes. Kondisi ini rentan berkembang menjadi diabetes jika kadar gula darah tidak dikendalikan.

Dapatkah dicegah?

Pada diabetes tipe 1, dilakukan pemeriksaan gen anak. Jika ditemukan gen yang mudah terkena diabetes, vaksinasi dilakukan untuk mencegah infeksi virus pada pankreas. Bisa juga dengan pemberian obat pencegah autoimun. Namun, hal ini lebih banyak dilakukan di negara maju. Sementara untuk mencegah diabetes tipe 2, Anda bisa menurunkan berat badan, makan makanan rendah kalori dan kaya serat, serta rutin berolahraga. 

 



Tanya Skata