Saat Skata mengadakan survei pada remaja berusia 12-18 tahun untuk menggali lebih dalam sisi apa yang membuat mereka merasa dekat dan tidak dekat dengan ayah dan ibu, muncul banyak jawaban menarik seperti:

“Karena Ibu lebih perhatian, Ayah kurang komunikatif”

“Karena Ibu lebih asik diajak cerita dan lebih mengerti yang sedang anaknya rasakan. Ayah terkesan sangat cuek, terkadang tidak peduli”

“Karena ibu lebih sabar, Ayah agak disiplin dalam memberi nasehat”

“Ayah yang selalu berusaha mengabulkan yang kuinginkan dan mensupport apa yang kulakukan, sementara aku memiliki kepribadian yang berbeda dengan Mama sehingga kita sering mengalami percekcokan”

 “Karena Ayah selalu mendengarkan curhatan saya tanpa menyelanya dan selalu memberikan nasehat, sementara Mama sering menjatuhkan pendapat saya sehingga saya jadi kurang percaya diri”

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak berusia remaja sudah bisa membandingkan kualitas yang mereka sukai dan tidak mereka sukai dari kedua orang tuanya. Dari sini, mereka bisa menentukan kepada siapa mereka akan berbagi senang, berkeluh kesah, meminta perlindungan, bahkan berbagi rahasia.

Jika Anda seorang ayah, jangan mendadak minder karena dianggap cuek. Sebaliknya, para ibu pun jangan merasa tanpa cela karena anak merasa dekat dengan Anda. Pendapat para remaja yang terangkum dalam hasil survei ini ternyata tidak lepas dari peran gender yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Setidaknya, itulah yang ditunjukan sejumlah penelitian tentang perbedaan peran ayah dan ibu dalam pengasuhan.

Meskipun peran ayah dan ibu berbeda dalam pengasuhan, namun keduanya saling melengkapi. Ibu lebih responsif terhadap kebutuhan anak karena lebih banyak berada di samping anak (peran merawat), sementara ayah lebih berperan sebagai pelindung (Pakaluk dan Price, 2020). Jika ditilik lebih lanjut, perbedaan peran ini ternyata dipengaruhi oleh jenis kelamin orang tua dan peran gender yang berlaku di masyarakat. Misal, wanita lebih lembut dan mengayomi, pria lebih tegas dan bertanggung jawab.

Tidak hanya berpengaruh pada cara mengasuh anak, peran gender ini ternyata juga memengaruhi orang tua (khususnya ayah) dalam cara mereka membesarkan anak sesuai jenis kelaminnya. Misal, anak laki-laki didorong untuk lebih mandiri dan ekspresif, sementara anak perempuan diharapkan lebih empati dan peduli. 

Meskipun demikian, peran ayah dan ibu ini mulai berubah seiring dengan semakin banyaknya istri yang bekerja, tingkat pendidikan suami, jam kerja keduanya, kualitas hubungan dalam pernikahan, serta karakteristik individu.

Selain dipengaruhi oleh perubahan zaman dan peran gender dalam masyarakat, tipe gaya asuh orang tua juga memberi pengaruh, apakah otoritarian, otoritatif, permisif, atau abai. 

Baca: Tipe Gaya Asuh yang Perlu Orang Tua Ketahui

Meskipun gaya asuh otoritatif sejauh ini adalah yang memberi efek paling baik saat anak memasuki akhir masa remaja, namun pada praktiknya orang tua bisa memiliki gaya asuh dominan yang yang dipengaruhi oleh karakter dan pengalaman masa kecil orang tua, tujuan pengasuhan anak, atau pemahaman orang tua tentang bagaimana proses belajar seharusnya dilakukan.

Terlepas dari faktor-faktor di atas, ayah dan ibu tetap memiliki perbedaan dalam cara membesarkan anak. Penelitian sering menunjukkan bahwa ibu lebih banyak digambarkan suka mengontrol, terlalu ikut campur, permisif, namun juga otoritatif. Sementara itu, ayah dianggap lebih sering mengadopsi gaya asuh otoritarian/otoriter.

Yang menarik, cara ayah dan ibu menghadapi anak cenderung berubah seiring dengan masuknya anak ke usia remaja akhir. Ibu akan lebih banyak menunjukkan kehangatan, lebih responsif dan memahami perilaku remaja, sementara ayah malah cenderung lebih serius dalam memberikan hukuman dan lebih keras dalam ucapan. 

Nah, kini saatnya Anda mencari tahu bagaimana cara Anda dan pasangan mengasuh anak yang beranjak remaja, serta bagaimana pendapat anak tentang Anda. Ingat, masa remaja adalah masa ketika konflik antara anak dan orang tua rentan terjadi. Jika hubungan Anda dan remaja belum sesuai harapan, selalu masih ada waktu untuk memperbaikinya. Ingin tahu bagaimana cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan mereka? Unduh versi digital Buku 1001 Cara Bicara Orang Tua dengan Remaja di sini.

 

 

 

 



Tanya Skata